Di dunia ini, tak ada yang memiliki tanggung jawab lebih besar dari yang diemban Rasulullah Saw, semua yang ada dalam fikiran beliau adalah bagaimana menyampaikan cahaya islam keseluruh penjuru dunia, bagaimana menyebarkan pesan-pesan luhur untuk Ummat sepeninggalnya, dan bagaimana menyelamatkan mereka dari ancaman siksa dan api neraka. Tak heran dalam kitab-kitab Syamail dijelaskan bahwa salah satu sifat Rasulullah Saw adalah :
دائم الفكرة متواصل الاحزان ليست له راحة
“selalu berfikir dan merasa gundah – oleh urusan ummat-, dan nyaris tak memiliki waktu untuk bersantai.. ”
Meski begitu, dihadapan para sahabatnya, beliau adalah sosok yang paling tenang dan teduh, menjadi perlindungan bagi mereka yang gundah, menjadi penyejuk bagi ia yang gelisah, meski semua beban umat dipikul oleh pundaknya, beliau tetaplah orang yang paling ” sedap ” untuk dipandang. Tak pernah cemberut-merengut dan selalu menebar indah senyum untuk semua orang..
كان رسول الله صلى الله عليه اكثر الناس تبسما في وجوه أصحابه
” Rasulullah Saw adalah orang yang paling banyak menebar senyum di depan para sahabatnya.. ”
Di dunia ini, di setiap zamannya ada segelintir orang yang dikaruniai sifat-sifat yang nyaris sama dengan yang dimiliki oleh baginda Nabi, mulai budi pekertinya, gerak-geriknya hingga diam-ucapnya.
Mereka inilah yang kemudian mendapat gelar ” Al-Warits Al-kamil “, pewaris sempurna dari Baginda Nabi Muhammad Saw. dan satu dari mereka yang hanya segelintir itu kemarin menginjakkan kaki di Tanah air kita, Syaikhina wa Habibina Umar Bin Muhammad Bin Salim Bin Hafidz, Keberkahan Tarim yang menjadi penyambung lidah para Saadah Ba’alawy di zaman ini. tak berlebihan jika Habib Mundzir Al-Musawa pernah berkomentar :
” Selama 4 tahun dalam tarbiah bersama beliau (Habib Umar), saya tidak pernah menemukan budi pekerti yang lebih indah dan serasi dengan Nabi Muhammad Saw sebagaimana yang saya saksikan pada pribadi beliau. Semua yang saya lihat dalam kitab-kitab hadits Nabawi tentang budi pekerti Rasul, cara duduknya, cara jalannya, cara tidurnya, cara bicaranya, cara segala-galanya, ternyata ada pada sosok guru mulia kita Al-Habib Umar Bin Hafidz.. “
Apa yang diucapkan Habib Mundzir ini saya saksikan sendiri selama 6 tahun bersama beliau. Bagi saya, Beliau merupakan sosok yang dikaruniai keikhlasan dan keistiqomahan tanpa batas, beliau nyaris tak memiliki waktu luang meski hanya untuk bersantai. Mulai dari berkhalwat di rumahnya setelah tengah malam, kemudian menghadiri dzikir bersama kami di sepertiga malam, shalat subuh, dzikir lagi, mengajar, lalu sholat dhuha dengan membaca beberapa juz Al-Quran, melayani orang-orang yang ingin curhat atau bertanya, menemui tamu-tamu, menghadiri majlis Hadits, menghadiri seminar, bersilaturahmi kepada para ulama, mengajar lagi setelah Ashar, menghadiri Jenazah, menghadiri Walimah, menghadiri pertemuan dengan para dai, begitu seterusnya sampai-sampai beliau seperti tidak mempunyai waktu semenitpun untuk “kemaslahatan” diri sendiri, semua detik waktunya nyaris beliau persembahkan untuk kepentingan dakwah dan ummat, dan semua itu beliau lakukan tanpa mendapat imbalan atau bayaran sepeserpun..
Meski begitu, dengan tanggung jawab yang besar dan kesibukan yang sangat padat, dari dulu beliau tetaplah seperti itu. Sosok yang teduh, damai, sejuk menyejukkan bagi setiap orang yang duduk bersamanya atau sekedar memandang wajahnya, bahkan tak jarang yang meneteskan air mata tatkala melihat wajah teduhnya. Beliau adalah tujuan utama kami dan masyarakat di Tarim untuk mengatasi semua kegelisahan dan kegundahan, untuk menyampaikan beragam masalah dan pertanyaan..
Sebagai tokoh besar Ahlussunnah di Hadhramaut, Beliau acapkali menjadi sasaran cacian Wahhabi-Salafi dkk, beliau dicaci, disesatkan, dikafirkan, di-syiah-syiah-kan, dan dituduh dengan fitnah-fitnah keji. Tapi tak pernah sedikitpun beliau mau membalas atau membahas semua itu, tak pernah ada cacian, makian, ghibah atau komentar buruk tentang siapapun dalam majlis-majlis beliau. Meski politik dan perekonomian di Yaman bisa dibilang sangat payah, sama sekali tak pernah ada pembahasan politik dalam ceramah dan pengajian beliau, tak pernah beliau mengomentari perbuatan atau kinerja buruk si Budi atau si Fulan. Sebaliknya, Beliau selalu mengutamakan kedamaian dan persatuan, menghindari hal-hal yang bisa memicu konflik, fitnah, perpecahan dan pertikaian.
Dengan semua karunia dan anugrah itu, beliau menjadi salah Ulama Aswaja yang paling berpengaruh di dunia untuk saat ini. Integritas dan Ketinggian “Maqom” beliau sudah diakui oleh para ulama dan awliya’ dari barat sampai timur, -bahkan bukan rahasia lagi, bahwa sebagian guru beliau berandai-andai untuk dapat “memutar” waktu agar bisa menjadi murid didik beliau. ketika beliau datang ke Majlis Syaikh Ali Jum’ah di Mesir, Syaikh Ali Jum’ah berkata kepada para jama’ahnya :
لقد حضر في هذا المجلس ولي من اولياء الله الصالحين
” Telah hadir di Majlis ini seorang Wali dari sekian banyak wali-wali Allah yang Shalih.. ”
Dan untuk sekelas Habib Umar, tentunya pujian seperti itu sangatlah sederhana, tidak cukup mewakili pemberian-pemberian agung yang Allah anugrahkan untuk beliau..
لله قوم اذا حلت بمنزلة * حل السرور و سار الجود اذ ساروا
تحيا بهم كل أرض ينزلون بها * كأنهم لبقاع الأرض أمطار
” Allah memiliki para kekasih, jika mereka menginjakkan kaki disuatu tempat maka kebahagian juga akan menempati tempat itu, setiap tanah yang mereka pijak akan menjadi hidup, karena mereka bagaikan tetesan hujan yang menyuburkan tanah-tanah dimuka bumi ini.. ”
Tatkala hati dan fikiran mulai jenuh dan lelah oleh berita-berita politik yang dipenuhi caci-maki, pertikaian, kelicikan, dan kedustaan.. ( pagi, siang , malam pembahasan politik tak ada habisnya ) Kedatangan beliau benar-benar bagaikan air hujan yang meneduhkan, menjadi penyejuk bagi hati dan jiwa yang gersang, menjadi petunjuk bagi ummat yang sedang kebingungan mencari ketenangan yang seakan hilang..
Selamat Datang di Bumi Pertiwi Sayyidi.. Selamat datang keberkahan dan kedamaian di tanah air kami..

No responses yet