Tangerang Selatan, Jaringansantri.com – Forum intelektual Taswirul Afkar yang didirikan oleh Kiai Wahab Hasbullah ternyata terinspirasi dari sebuah media massa di Turki Usmani dengan nama yang sama, yaitu Tasvir-i Efkâr yang didirikan oleh İbrahim Şinasi pada 1862.

Hal ini disampaikan oleh Muhammad Syauqillah Ph.D dalam kajian Islam dan Kebangsaan di INC (Islam Nusantara Center) via Zoom. Sabtu 15 Agustus 2020. Kajian yang dipandu langsung oleh Zainul Milal Bizawie ini, mengangkat tema “Tasvir-i Efkâr ìbrahim Şinasi : Media Usmani Inspirasi KH. Wahab Chasbullah”.

Pendirian Tasvir-i Efkâr, menurut pemaparan Syaqillah, pada awalnya merupakan wujud perjuangan İbrahim Şinasi di bidang sastra. Seiring berjalannya waktu, Tasvir-i Efkâr kemudian aktif mengkritik kebijakan pemerintah. Kritik terhadap sistem pendidikan era Ottoman dapat ditemukan di Tercüman-i Ahval, media pendahulu Tasvir-i Efkâr.

Dengan spirit yang sama, pada tahun 1918, KH Wahab Hasbullah bersama Kiai Mas Mansur dan Kiai Ahmad Dahlan Achyad mendirikan Taswirul Afkar di Surabaya. Merupakan forum diskusi terkait berbagai isu, termasuk agama dan politik.

Tak bisa dipungkiri, kata Syauqi, hasil diskusi forum sedikit banyak berdampak pada dinamika kehidupan sosial dan politik di Indonesia saat itu. Transformasi gerakan Taswirul Afkar diwujudkan dengan pembentukan lembaga pendidikan dan publikasi melalui media massa seperti Swara Nahdlatoel Oelama, Oetoesan Nahdlatoel Oelama, dan Berita Nahdlatoel Oelama.

Titik tekannya adalah eksplorasi tentang pendidikan, walaupun pendidikan ala barat. Tapi persoalan di sini kalau kita mau lihat relasi dengan Indonesia, taswirul Afkar ternyata juga melakukan pemberdayaan pendidikan.

Syauqi mengatakan “Kalau kita sebut di sini sebetulnya pada awal-awal itu ada mudzakarah grup atau kelompok diskusi, kelompok diskusi itu sebenarnya untuk pemikiran. Jadi untuk potensi intelektual penyebaran gagasan. ini juga hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan, mengasah critical thinking. Bagaimana merespon situasi yang ketika itu.”

“Ini menurut saya, di Turki Taswirul Afkar hanya berhenti pada taswirul Afkar, hanya majalah saja. Sedangkan di Indonesia, Taswirul Afkar itu bukan berkaitan dengan apa yang disebut dengan Jurnal. Pada awalnya lebih pada kelompok intelektual yang merespon kondisi politik era kolonial,” katanya.

“Kemudian Kia Wahab mendirikan suara Nu. Suara NU menjadi Penting mereka itu karena Islam menyebar doakan menyebar luaskan Islam Ya sama aja arahnya dakwah gitu ya media dakwah dan bertuliskan Jawa Pegon setelah suara Nu muncul langsung putusan Nu ada kemudian Kyai Mahfudz Siddiq mendirikan berita Ulama. ini merupakan respon dunia cetak-mencetak ketika itu,” terang alumni Turki ini.

Beberapa publikasi suara-suara Nahdlatul Ulama, memuat reportase tentang perkembangan Islam di Amerika di Mekah di Mesir dan di Turki. “Ketika memuat tentang Turki misalkan itu ada reportase khususnya reportase khusus dari berita NU jadi ada seperti wartawan gitu ya datang ke sana dia menceritakan kondisi yang ada di Usmani ketika itu runtuh,” ujarnya.

“Media juga merespon situasi zaman situasi ketika itu berita NU secara spesifik juga mau reportase tentang current situation tentang Palestina. Jadi ada perkembangan updating terhadap Palestina,” tambahnya.

Taswirul Afkar KH Wahab Hasbullah dan Tasvir-i Efkâr İbrahim Şinasi

Syauqi membandingnya isi dari dua media massa Taswirul Afkar Kh Wahab Hasbullah dan Tasvir-i Efkâr İbrahim Şinasi. “Jika melihat layout dan rubrik yang disajikan oleh Tasvir-i Efkâr dan Swara Nahdlatoel Olama, setidaknya dapat disimpulkan bahwa pada saat itu Tasvir-i Efkâr menjadi salah satu rujukan utama perkembangan majalah dunia Islam, termasuk Swara Nahdlatoel. Olama, Oetoesan Nahdlatoel Oelama, dan Berita Nahdlatoel Oelama,” tandasnya.

Dari tiga media yang didirikan oleh Kiai Wahab, Syauqi menilai, terlihat adanya kesamaan di beberapa rubrik dalam pemberitaan. Kesamaan tersebut antara lain, pertama, kesamaan dalam menanggapi masalah internal.

Dalam perkembangannya, Tasvir-i Efkâr tidak hanya menjadi media sastra, tetapi juga turut berperan serta dalam pemberitaan situasi domestik, seperti situasi saat ini yang meliputi masalah kesehatan masyarakat; seperti penyebaran wabah penyakit, masalah perkotaan; laporan polisi mengenai perampokan dan pembunuhan, kebakaran di Istanbul, dan laporan yang berkaitan dengan pergolakan sosial dan politik, dan perang.

Tak jauh berbeda dengan Tasvir-i Efkâr, rubrik-rubrik di Taswirul Afkar juga memuat berbagai hal, antara lain tanya jawab terkait persoalan agama, belajar bahasa Arab, opini, haji, dan lain-lain. Peneliti memperhatikan salah satu tuntutan Komite Hijaz kepada Raja Ibn Saud mengenai transparansi dan informasi terkait penyelenggaraan ibadah haji. Rubrik-rubrik terkait masalah keagamaan memang bisa ditemukan di setiap publikasi, baik Swara Nahdlatoel Oelama, Oetoeasan Nahdlatoel Ulama, maupun Nahdlatoel Oelama News.

Hal itu dikarenakan salah satu tujuan utama media didirikan sebagai media dakwah Islam. Berita terkait pemberitaan pelaksanaan ibadah haji juga menjadi rubrik yang paling banyak dijumpai di semua edisi, baik Swara Nahdlatoel Oelama, Oetoesan Nahdlatoel Oelama, maupun Nahdlatoel Oelama News. Hal tersebut menurut penulis berkaitan dengan salah satu tuntutan Komite Hijaz kepada Raja Ibn Saud terkait transparansi dan informasi terkait penyelenggaraan ibadah haji.

Kedua, adanya kesamaan dalam memproklamasikan perkembangan isu-isu global, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Dalam setiap butir Tasvir-i Efkâr, berbagai hal dari seluruh dunia terlihat pada rubrik hawadits kharijiyyah. Rubrik tersebut mencakup berbagai hal, antara lain sosial.(Damar Pamungkas).

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *