Categories:

Oleh : Lila Tursina (mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang)

Tauhid adalah ilmu yang sangat penting bagi seorang hamba dimana ilmu ini menjelaskan bagaimana seorang hamba dapat mengenal tuhannya yang telah menciptakannya. Dalam kehidupan yang kita jalani  seorang hamba harus meyakini bahwa tuhan yang menciptakannya bersifat wujud yaitu ada, kita tidak perlu mengetahui keberadaan Allah secara detail karena kita hanya perlu meyakini Allah ada dan ia berdiri sendiri tidak diciptakan oleh seorang pun dan Dia Maha Esa. Salah satu tokoh yang ikut serta mengenalkan ilmu tauhid dalam bentuk karya tulis adalah Syekh Nuruddin Ar-Raniry yang berasal dari Aceh.

Pada abad ke-17 masa pemerintahan Sultan Iskandar Tsani, pada masa itu paham wujudiyyah berkembang dengan pesat. Kemudian Nuruddin Ar-Raniry menawarkan paham baru yang menggiurkan para ulama untuk mengkajinya, ia dikenal sebagai ahli teolog, ahli fikih, ahli hadis, sejarawan, ahli perbandingan agama, dan juga sebagai politisi. Sedangkan paham ini dianggap sangat kontroversi dengan ajaran Hamzah Fansuri. Walaupun kontroversi paham ini berkembang pesat di kalangan masyarakat Aceh pada masa itu dan ia ahli dalam bidang tasawwuf sehingga muncullah salah satu karya yang dinamai Lataif Al Asrar.

Lataif Al-Asrar adalah karya besar Syekh Nuruddin Ar-Raniry dari Aceh. Naskah ini ditulis atas perintah dari Sultan Aceh pada masa itu yaitu Sultan Iskandar Tsani dari Aceh pada tahun 1050 H/1640 M. Terdapat tahun pada dua salinan manuskrip yang bertanggal 1248H dan 1263H yang ditemukan di Trengganu. Lataif Al-Asrar adalah kehalusan spiritual yang ditunjukkan untuk umat Islam. Teks ini menjelaskan aspek yang terdapat dalam doktrin Sufi. Ini adalah karya yang memajukan pemikiran umat terutama tentang tauhid dan pengingat untuk jalan kebenaran.

Naskah ini dapat kita temukan melalui lektur.kemenag dengan kode naskah LKK_ACEH2015_MKR06. Naskah ini lengkap ditemukan halaman awal dan akhir naskahnya, tetapi tahun dan penulisnya tidak diketahui ini menurut lektur.kemenag. awalnya naskah ini disimpan oleh H. Abdul Wahab warga Lamcok daerah Pidie Jaya. Tetapi naskah ini sekarang telah menjadi koleksi Masykur yang berlokasi di Gampong Blang Glong kecamatan Bandar Baru Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.

Dalam naskah Lataif Al-Asrar terdapat 270 halaman dengan jumlah baris pada tiap halaman rata-rata secara umun 27 baris. Naskah Lataif al Asrar berukuran 21×16 cm dan ukuran teksnya 17.5×11 cm. naskahnya ditulis menggunakan bahasa Arab dan Melayu dengan menggunakan aksara Arab dan Jawi. Bentuk tulisan naskahnya seperti prosa. Sedangkan kertas yang digunakan untuk menulis naskah atau alasnya adalah kertas Eropa dengan cap air bulan sabit bersusun tiga. Naskah ditulis menggunakan tinta hitam dan merah untuk rubriksasi. Pada setiap halaman rekto terdapat kata alihan untuk memudahkan para pembaca memahami mencari halaman berikutnya.

Kondisi naskah saat ini masih tergolong dalam keadaan sangat bagus. Semua tulisan dalam kertas masih dapat dibaca dengan baik. Tetapi warna kertas sudah mulai berubah agak kecoklatan dan terdapat bekas air. Naskah ini memiliki sampul dan naskah dijilid dengan benang terikat sehingga setiap lembarnya masih tersusun dengan sangat teratur.

Secara ringkas isi naskah ini adalah tentang ilmu tauhid yang berisi tentang bagaimana seseorang mengenal sifat wujud Allah, yang telah menciptakan dunia beserta isinya dan juga sifat-sifat Allah yang harus kita yakini bahwa sifat Allah melekat pada zat dan sifatnya. Dijelaskan tentang maqam-maqam ilmu tauhid. Adapun kalimat awal dari kitab ini adalah bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah kama hamida binafsihi wasy syukru an qama bi syukrihi li syukrihi dan akhir kalimat penutup ….tammat wa kanal firaq min tasawwudi hazal kitab fi biladil mahrusiyah al asyi Darussalam al hamdulillah…

Dengan artian Nuruddin Ar-Raniry bersyukur telah menyelasaikan kitab yang berisi tentang tasawwuf di daerah Aceh Darussalam. Dan penulis memperjelas adapun tujuan yang melatar belakangi penulisan kitab ini adalah untuk menolak paham wujudiyyah yang di bawakan oleh Hamzah Fansuri dan membangun paham rifa’iyyah yang dikenalkan kepada masyarakat oleh Nuruddin Ar-Raniry.

Pada bab awal dalam naskah ini membahas tentang ma’rifat al-babul awwal fi ma’rifattillahi ta’ala yang menjelaskan bab yang pertama pada menyatakan ma’rifat Allah. I’lam annal ma’rifata wajibatun a’lal ibad  yang terjemahnya ketahui olehmu hai talib bahwasanya ma’rifat itu wajib diketahui hambanya. Dalam menjelaskan masalah ma’rifat ini juga diletakkan ayat yang berkaitan yaitu wama khalaqtul jinna illa liya’budun yang terjemahnya dirikan firman Allah ta’ala tiada kujadikan jin dan manusia melainkan untuk mengenalnya. Bahwasanya tidak ada seorang pun yang Allah ciptakan kecuali untuk beribadah kepadanya.

Naskah Lataif al-Asrar hingga saat ini masih banyak di perjualbelikan di negara tetangga dan di cetak dalam bentuk kitab sehingga memudahkan para pembaca dalam memahaminya. Di Indonesia sendiri tidak mudah mendapatkan naskah kitab ini karena tidak adanya campur tangan pemerintah dalam membukukan kitab Lataif al-Asrar, tidak sedikit naskah-naskah kuno peninggalan para ulama diperjual belikan secara bebas dan cara menyelamatkan naskah zaman modern ini adalah dengan cara digitalisasi. Naskah adalah peninggalan para ulama berbentuk karya yang sedewasa ini isinya masih relevan dengan kehidupan era kekinian. Adapun kekurangan naskah ini secara umum tidak terdapat halaman sehingga menyulitkan pembaca.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *