Oleh : Qurrotun Ayun Wulandari (mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang)
Pada abad ke-19, orang-orang terdahulu jika ingin menulis biasanya memanfaatkan bahan-bahan seadanya seperti pelepah pisang, pelepah kurma, kulit binatang, batu, dan lain sebagainya. Waktu yang dibutuhkan pun cukup lama sampai berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Naskah-naskah pada zaman dahulu atau biasa disebut dengan manuskrip masih ada hingga zaman sekarang, walaupun kondisinya tidak sebagus awalnya. Tulisan yang dikatakan manuskrip yaitu jika tulisan itu berusia mencapai 50 tahun.
Cabang ilmu yang biasa digunakan untuk mempelajari manuskrip yaitu filologi dan kodikologi, dua cabang ilmu ini memiliki tujuan yang sama yaitu menjaga dan melestarikan naskah-naskah kuno atau manuskrip. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) filologi adalah ilmu tentang bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tertulis. Sedangkan, kodikologi adalah ilmu yang bertujuan untuk mengetahui sejarah naskah atau segala aspek naskah yang diteliti.
Disini penulis ingin mengkaji salah satu manuskrip Dalail Khairat. Sebelum kita membahas tentang manuskrip ini, disini akan kita bahas terlebih dahulu apa itu Dalail Khairat? Dalail Khairat adalah amalan yang berisi kumpulan sholawat yang ditujukan kepada Rasulullah SAW. Amalan ini tidak sembarangan di gunakan, biasanya harus melalui proses ijazah (pemberian suatu ajaran atau amalan secara turun-temurun dengan sanad yang jelas) oleh seorang mujiz.
Ada beberapa manuskrip yang penulis temukan tentang Dalail Khairat yaitu manuskrip yang berjudul “ Dalā’ilul Khairat” yang tersimpan dalam digital di Lektur Kemenag dengan kode LKK_Aceh2015_MKR13DO dan “Dalailul L-Khairat” yang tersimpan di website Perpustakaan Nasional dengna nomor kontrol INLIS000000000170622. Berikut penampakan naskahnya.

Manuskrip “Dalā’ilul Khairat” kode LKK_Aceh2015_MKR13DO disadur dari laman https://lektur.kemenag.go.id/manuskrip/web/koleksi-detail/lkk-aceh2015-mkr13.html#ad-image-1
Dalam manuskrip ini tidak memiliki judul dan penulis tidak diketahui secara pasti karena halaman awal dan akhirnya hilang. Namun dalam hal ini, menurut isinya naskah ini diberi judul “Dalā’ilul Khairat”. Manuskrip ini pada mulanya disimpan oleh Amir di daerah Teupin Raya, Pidie, Aceh. Manuskrip ini sekarang berlokasi di Gampong Blang Glong, Bandar Baru Pidie Jaya.
Manuskrip ini memiliki 64 halaman dengan ukuran 19 x 12 cm. Ditulis dalam bahasa Arab dan tulisannya berbentuk prosa. Manuskrip ini memiliki keunikan karena kertas yang digunakan yaitu kertas Eropa. Kertas ini pada zaman dahulu sulit di dapatkan dan juga harganya sangat mahal.
Selain manuskrip diatas penulis juga menemukan manuskrip Dalail Khairat lain yang ditemukan di website Perpustakaan Nasional, manuskrip ini berbeda dengan manuskrip yang ditemukan di Lektur Kemenag, mulai dari segi isi, kertas,dan lain-lain. Bisa kita amati perbedaannya dengan melihat gambar dibawah ini.

Manuskrip “Dalailul L-Khairat” yang tersimpan di website Perpustakaan Nasional dengan nomor kontrol INLIS000000000170622 disadur dari laman https://khastara.perpusnas.go.id/landing/detail/642881/1
Manuskrip ini berjudul “Dalailul L-Khairat” namun pengarangnya tidak diketahui. Pada 4 halaman pertama kosong, halaman setelahnya bertuliskan “Dalalil al-Chairat XXI” kemudian ada tanda tangan di bawah, dan halaman setelahnya berisikan teks seperti yang ada di gambar. Jenis bahan yang digunakan manuskrip ini yaitu naskah kuno yang memiliki 30 halaman; ukuran sampul 32 x 47 cm; ukuran blok 28 x 44 cm. Manuskrip ini jenis atau subjek-nya yaitu Manuskrip Arab dan tulisannya pun berbahasa Arab.
Selain kedua manuskrip di atas penulis juga menemukan kitab “Dalail Khairat”. Kitab ini masih di gunakan sampai sekarang sebagai rujukan dalam mengamalkan amalan-amalan sholawat Nabi, bahkan isinya sangat lengkap. Berisi washilah atau hadroh, nama-nama Allah, Sholawat Nabi, dan amalan-amalan harian. Seperti dalam kitab Dalail Khairat cetakan dari KH. Ahmad Basyir Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus.
Disini penulis menemukan perbedaan antara kedua manuskrip diatas dengan kitab Dalail Khairat cetakan Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus. Mulai dari pembukaan dari kedua manuskrip di atas tidak ada washilah untuk mualif, kemungkinan disini ada naskah yang hilang karena seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa halaman awal kosong dan halaman setelahnya langsung berisikan teks. Isi teks atau amalan-amalan antara kedua manusrip tersebut dengan kitabnya pun berbeda walapun ada beberapa bagian yang sama, di dalam kedua manuskrip tersebut tidak mencantumkan amalan-amalan harian seperti di dalam kitabnya.
Menurut Abah Shihabudin yaitu menantu dari KH. Ahmad Basyir menduga bahwa naskah tersebut berbentuk tulisan tangan, bisa jadi bukan naskah asli dari pengarang dan mungkin saja naskah salinan, begitulah menurut beliau ketika di wawancarai online lewat chat pribadi WhatsApp. Untuk membandingkan lebih jelas, berikut beberapa gambar dari kitab Dalail Khairat cetakan Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus. Disini penulis melampirkan kitab versi kecil dengan ukuran 8,6 x 12,8 cm; berisi 217 halaman.
Cover kitab Dalail Khairat cetakan Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus
Teks dari kitab Dalail Khairat cetakan Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus yang berisi washilah dan muqoddimah.
Wallahu A’lam.
Nama saya Qurrotun Ayun Wulandari mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang sekaligus mahasantri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang.





No responses yet