Harta itu walau bisa bikin klepek-klepek hingga lupa Tuhan, sebenarnya hal yang mubah atau boleh dimiliki. Bahkan beberapa ulama menganjurkan umat Islam agar punya harta kalo bisa jadi kaya. Karena orang kaya, dalam segi apapun, pasti menangan, punya wibawa dan punya kesempatan lebih besar untuk bisa berkontribusi lebih banyak bagi agama dan kemanusiaan.

Maka dari itu, sebelum orang itu jadi kaya atau punya harta, kudu ngerti ilmu manajemen harta agar gak salah guna. Juga perlu untuk memperbaiki perspektif kita tentang harta, apa hakikat dunia dan akhlaq terhadap Gusti Allah dan makhluk-Nya. Artinya, kita harus sholeh dulu sebelum jadi kaya.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW dawuh

 نعم المال الصالح للرجل الصالح

“Kenikmatan harta itu berguna di tangan orang yang sholeh”

Kanjeng Nabi juga dawuh

الدنيا مزرعة الآخرة

“Dunia adalah ladang menuju akhirat”

Nah, kesimpulannya, orang itu kudu sholeh dulu sebelum jadi kaya. Orang mau menggarap ladang kudu ngerti ilmu pertanian. Ngaji dulu sebelum bertindak. Ilmu dulu baru amal. Kalo terlanjur kaya tapi belum ngaji, ya sekarang kudu niat ngaji. Biar pemiliknya sholeh, hartanya juga ikut sholeh.

Al ‘Abd atau orang yg menghamba pada Gusti Allah itu seperti musafir menuju tempat kedamaian abadi. Yang namanya musafir ya butuh bekal. Hidup di dunia itu seperti jalan yang harus dilewati para musafir tersebut. Karena ternyata jarak perjalanan yang jauh, melelahkan dan tidak segampang yg dipikirkan tersebut, butuh bekal harta yang cukup.

Nah, di sinilah pertaruhan seorang muslim mukmin itu dilihat. Seorang ‘abd atau hamba memperoleh gelar zahid (orang yang hatinya kosong atas dunia) karena mengetahui bahwa harta dunia cuma alat atau kendaraan menuju tujuan utama.

Gak lucu dong kalo hidup kita malah diatur oleh alat. Begitu juga muslim, harus bisa mengatur dunianya. Bukan malah diatur dunianya. Harta dunia harus tunduk pada kita dan kita tidak perlu punya perasaan cinta berlebihan terhadap harta dunia. Itulah yg disebut sholeh.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW dawuh pada Siti Aisyah RA

إذا أردت اللحاق بي فاقنعي من الدنيا بزاد الراكب، ولا تجددي ولا تخلعي قميصا حتى ترقعه

“Kalau engkau ingin terus berdampingan denganku, maka anggaplah dunia ini sewajarnya seperti sebuah kendaraan, aku tidak beli gamis yang baru dan tidak pula membuangnya, melainkan aku tambal gamisku itu”

Kanjeng Nabi bermaksud menunjukkan bahwa beliau tidak mau diatur oleh dunia. Beliau sanggup saja beli gamis baru dan membuang yang lama. Tapi hal itu tidak beliau lakukan karena tentu bakal muncul ketergantungan sesuatu harus serba baru dan mental manja. Jadi beliau tambal sendiri gamisnya untuk menunjukkan mental yang mandiri dan tidak bergantung apapun termasuk pada dunia.

Kanjeng Nabi pernah berdoa

اللهم اجعل قوت آل محمد كفاف

“Duh Gusti Allah, mohon anugerahkan kekuatan dalam kesederhanaan kepada keluarga Muhammad (nasab dan sabab)”

Karena dengan mental mandiri, mental kaya, selalu puas dengan pemberian Gusti Allah, kita bakal menganggap gak penting pernak-pernik dunia yang bikin kita beringas pada harta. Setiap urusan dunia, pekerjaan atau urusan syahwat pun bisa kita kontrol dan tidak sampai mendominasi pikiran. Pikiran mandiri berarti tidak bergantung pada makhluk Tuhan, melainkan tetap fokus pada tujuan.

Pikiran bisa fokus pada tujuan penghambaan, mau berbuat baik dan menjauhi maksiyat termasuk menjauhi sifat pelit. Yang penting pula, pikiran dan jiwa kita bisa merasa terbebas dari ketergantungan. Harta hilang, ditipu orang atau usaha kolaps pun gak jadi sedih, stress atau jadi gila. Terus bangkit dan bangkit lagi menuju akhir darussalam.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *