Categories:

Oleh: Nabilla Cindy Putriska (Mahasiswi Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka)

Seperti yang kita ketahui bersama, keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat. Umumnya sebuah keluarga terdiri dari suami, istri, dan anak-anak yang mempunyai hubungan yang saling mengikat satu sama lain. Menurut ajaran Islam, kesepakatan tidak hanya mencakup tanggung jawab, tetapi juga rasa saling memiliki dan saling berharap. Nilai-nilai agama menjadikan kasih sayang sebagai landasan yang kokoh bagi struktur keluarga. Pondasi ini bertujuan untuk menciptakan kehidupan keluarga yang harmonis.

Memiliki keluarga yang harmonis merupakan salah satu dambaan setiap keluarga. Keadaan di mana seluruh anggota keluarga bahagia, merasakan kebersamaan, dan sedikit sekali terjadi konflik, sehingga tercipta keluarga yang tentram dan bahagia. Terlebih lagi adanya harmonis dalam pelaksanaan hak dan kewajiban keluarga, membuat keluarga sejahtera yang berarti terpenuhinya ketenangan hidup jasmani dan rohani, sehingga timbul kebahagian yang dimaksudkan kasih sayang antara anggota keluarga. Namun, banyak kondisi keluarga yang mengalami disharmonisasi, seperti suami tidak bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, salah satu pasangan melakukan perselingkuhan, kekerasan rumah tangga, dan keluarga tidak rukun atau damai.

Layaknya perjalanan hidup manusia pada umumnya, selalu ada pasang surut dalam kehidupan bereluarga. Banyak pasangan yang mengalami disharmonisasi karena ketidakmampuan menyelesaikan masalah yang menerpanya. Ketika tidak ada keakraban antar anggota keluarga, maka bisa dikatakan ada maslah dalam kaluarga.

Keadaan keluarga yang disharmonisasi berlangsung lama dan dibiarkan tanpa upaya mengatasinya, maka sangat susah dalam mewujudkan keluarga yang bahagia. Hal ini dapat menimbulkan ketidakselarasan dalam prinsip, pandangan, ataupun tujuan hidup. Keluarga yang mengalami disharmonisasi telah kehilangan hakikat makna keluarga, karena anggota keluarga tersebut tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

Allah SWT berfirman dalam surah An-Nisa’ ayat 1

“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri yang satu (Adam), dan dari padanya Allah menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.

Dalam ayat tersebut sudah jelas Allah memerintahakan untuk menjaga hubungan keluarganya. Menjaga untuk tetap menjadi keluarga yang harmonis meskipun terkadang diterpa masalah, namun dapat mengahadapi masalah tersebut dengan bersama anggota keluarga. Dalam mewujudkan keluarga yang harmonis pasangan suami dan istri sedikitnya harus melakukan tiga langkah.

Langkah pertama dalam mewujudkan keluarga yang harmonis dengan membangun kesaling-pahaman yang baik. Dengan kata lain, keluarga membutuhkan adanya kesamaan cara pandang untuk memahami tujuan hidup. Keluaraga harmonis harus memiliki tujuan yang sama dalam menjalani kehidupan ini. Kesalahanpahaman sering kali muncul ketika keluarga sedang dilanda permasalahan, keluarga yang tidak mempunyai visi dan misi yang sama sehingga mempunyai pola pikir yang berbeda antar anggota keluarga. Hal ini dapat menyebabkan pertikaian yang berlarut-larut dan tak kunjung selesai.

Langah kedua adalah bersikap toleran yang dimaksudkan suami istri harus menerima dan menutupi kekurangan dan kelebihan masing-masing pasangan. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, jadi betapapun cantiknya seorang wanita pasti ada kekurangannya. Sama seperti wanita, tidak ada pria yang sempurna di dunia ini. Karena pada hakekatnya tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Oleh karena itu baik pria maupun wanita tidak boleh menceritakan keburukan pasangannya. Bukan hanya orang tua saja, anak juga dituntut untuk tidak menyebarkan aib kedua orang tuanya. Dengan melakukan ini dapat mewujudkan keluarga yang harmonis.

Langkah ketiga adalah bersikap bijak atau tidak kurang dan tidak lebih. Pada hakekatnya apapun yang berlebihan atau kekurangan tidaklah baik. Bersikap bijaksana di sini bermaksud menjalani kehidupan yang wajar dalam memberikan nafkah, menunjukkan cinta dan kasih sayang, dan juga bersikap cemburu. Sesungguhnya cemburu itu penting karena menunjukkan rasa cinta, namun cemburu yang berlebihan tidaklah baik. Hal ini dapat menimbulkan rasa ketidakpercayaan dan prasangka buruk terhadap pasangan.

Dalam agama Islam mewujudkan keharmonisan keluarga sangat penting karena akan menciptakan lingkungan keluarga yang nyaman dan aman serta akan membuat lingkungan masyarakat yang tenteram. Dalam mewujudkan keluarga yang harmonis memerlukan upaya yang sungguh-sungguh dan terus menerus diperbaharui. Sesungguhnya tidak mungkin sebuah keluarga tidak mempunyai masalah, yang perlu dilakukan hanya bersungguh-sungguh berupaya dalam mengatasi masalah yang timbul secara bersama-sama dengan anggota keluarga.

Inilah cara dalam mewujudkan keluarga yang harmonis menurut islam. meski tidak mudah dalam menerapkan cara tersebut, tetapi membentuk keluarga harmonis pada dasarnya adalah pembelajaran seumur hidup bagi suami, istri, anak, dan anggota keluarga lain di dalamnya. Pada hakekatnya manusia hidup di dunia ini adalah untuk selalu melakukan pembelajaran sepanjang hidupnya.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *