Categories:

Oleh: Muhammad Farhan

                Belakangan ini sering kita amati kasus tindakan korupsi yang semakin maraknya ditanah air. Tindakan korupsi ini bahkan dilakukan penjabat negara yang secara kekayaan hartanya sangatlah berlimpah. Namun banyaknya harta tidak membuatnya merasa puas, hingga mereka rela mengambil hak-hak masyarakatnya.

                Dilansir dari cnbcindonesia.com. Ada tiga kasus korupsi terbesar tanah air dalam 5 tahun terakhir ini. Diantaranya dilakukan oleh Surya Darmadi dengan kerugian negara ditaksir mencapai Rp 78 triliun. Lalu mega korupsi Asabri dengan nilai Rp 23 triliun. Selain itu, ada pula Jiwasraya dengan kerugian negara masing-masing Rp 17 triliun. Secara total ketiga kasus tersebut membuat negara rugi hingga Rp 118 triliun.

Angka tersebut sedikit lebih kecil dari kerugian negara akibat penyelewengan dana BLBI yang mencapai Rp 138 triliun berdasarkan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada Agustus 2000. Kasus BLBI sendiri dimulai pada Desember 1998, ketika Bank Indonesia menyalurkan dana bantuan Rp 147,7 triliun kepada 48 bank. Saat ini pemerintah masih berupaya memulihkan kerugian dengan memburu aset-aset yang dimiliki obligor BLBI.

Dari data-data kasus korupsi 5 tahun ini. Negara telah dirugikan sebesar  Rp. 265.7 T.  Angka ini secara nilainya sangat tinggi. Kasus diatas belum termasuk kasus korupsi selainnya. Misalnya kasus temuan yang dilakukan ICW di tahun 2022, dimana ditemukan 252 kasus korupsi dengan 612 tersangka dengan potensi korupsi mencapai mencapai Rp 33,665 triliun.

Melihat fenomena ini, menurut penulis maraknya kasus korupsi yang terjadi di tanah air disebabkan oleh sikap keserakahan.

Keserakahan sendiri adalah akibat dari cara pandang manusia yang menempatkan harta atau materi sebagai tujuan hidup. Akibatnya manusia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan materi sebanyak-banyak tanpa menghitung mudhrot yang ia berikan kepada orang lain.

Dari adanya permasalahan tersebut. Untuk itu diperlukan upaya membangun kesadaran kepada masyarakat dalam menempatkan harta atau materi secara proporsional, tidak menempatkannya sebagai tujuan hidup.

Maka dari itu dalam tulisan ini, penulis akan mengajak pembaca untuk memahami hakekat dari serakah, dampaknya serta larangan untuk berprilaku serakah lewat tinjauan ayat Al-Quran.

Harapannya dari tulisan ini kita dapat memiliki kesadaran untuk menghindari diri kita dari perilaku serakah.

  1. Hakekat Serakah.

                Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), serakah artinya selalu hendak memiliki lebih dari yang dimiliki. Sinonim dari kata serakah diantaranya loba; tamak; dan rakus.

Dari istilah kebahasaan tersebut serakah merupakan sikap menempatkan harta sebagai tujuan hidup. Sehingga hidup, dan matinya selama di dunia semata-mata hanya untuk mengejar kekayaan. Meskipun dirinya memiliki harta yang cukup, dia tidak akan pernah merasa puas dengan yang ia miliki. Akhirat bukan menjadi tujuan hidupnya.

Orang yang serakah menjadikan kesenangan materi sebagai satu-satunya kebahagiaan. Hidup mereka tidak akan pernah merasa puas dengan materi yang ia miliki. Bahkan andaikata jika ada orang yang dilihatnya memiliki materi yang berlebih. Maka ia akan berusaha secara totalitas berkerja agar bisa mendapatkan materi yang lebih banyak. Baginya materi adalah sebuah makna hidup yang memberikannya sebuah kesenangan.

Orang yang serakah akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan materi. Dia rela untuk melakukan tindakan yang melanggar hukum negara, bahkan agama hanya untuk mendapatkan sebuah materi. Mereka rela melakukan korupsi tanpa memikirkan dampaknya bagi masyarakat.

  • Dampak Dari Keserakahan

Setelah memahami hakekat dari serakah. Lantas apa dampak dari keserakahan baik secara sosial maupun kita sebagai individu?

  1. Serakah membawa bencana kemiskinan.

Keserakahan sendiri beragam bentuknya, pada dasarnya dapat membawa kepada kemiskinan di masyarakat. Sebagai contoh kasus korupsi ditanah air. Banyaknya tindakan kasus korupsi yang dilakukan penjabat telah memberikan kerugian besar bagi negara. Apalagi dana yang di korupsi tersebut adalah dana yang dikelola untuk memberikan pemberdayaan kepada masyarakat, dan pembangunan infrastruktur. Baik secara ekonomi, pendidikan, dan selainnya.

Dana yang telah di korupsi akan memberikan dampak ekonomi berupa kemiskinan di masyarakat. Mereka yang miskin akan semakin miskin. Akibatnya masyarakat yang miskin tidak mampu untuk bersekolah.  Akhirnya kemiskinan akan membawa kepada kebodohan.

Jika keserakahan ini tumbuh bahkan menjadi sebuah kebiasaan di masyarakat. Maka rantai kemiskinan, dan kebodohan akan tersebut berlanjut. Akibatnya secara sosial akan memberikan kehancuran kepada suatu negara ataupun peradaban.

  • Melahirkan perilaku segala cara.

Orang yang serakah rela mengambil harta yang menjadi hak orang lain. Meskipun mereka sudah memiliki materi yang cukup. Mereka seakan-akan seperti orang yang sedang minum air laut, namun air tersebut tidak memberikan kepuasaan dahaga sama sekali baginya.

Sifat serakah itu ibaratkan sebuah penyakit dalam tubuh manusia. Jika penyakit tersebut dibiarkan, maka akan merusak sistem organ tubuh yang ada. Artinya jika sikap serakah dibiarkan tumbuh dalam diri kita, maka ia akan melahirkan perilaku segala cara.

Orang serakah tidak akan mempertimbangkan nilai etika. Mereka hanya memikirkan untuk bisa mendapatkan materi sebanyak-banyaknya.

Larangan Serakah dalam Islam.

Serakah adalah sebuah sikap yang dibenci dan dilarang oleh Allah SWT.

Di dalam Al-Quran Allah menyampaikan gambaran orang yang serakah itu mereka memakan harta orang lain dengan jalan bathil. Di dalam ayatnya QS. Al-Baqarah ayat 188 yang berbunyi:

وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Artinya: Janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.

Ayat diatas tadi merupakan ayat gambaran orang yang serakah. Orang yang serakah rela melakukan jalan yang dilarang oleh agama hanya untuk mendapatkan materi.

Di ayat selainnya Allah juga menyampaikan di dalam QS. Al-Humazah  ayat 1-4 yang berbunyi:

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍۙ  . الَّذِيْ جَمَعَ مَالًا وَّعَدَّدَهٗۙ . يَحْسَبُ اَنَّ مَالَهٗٓ اَخْلَدَهٗۚ . كَلَّا لَيُنْۢبَذَنَّ فِى الْحُطَمَةِۖ

Artinya: Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Hutamah.

Ayat diatas adalah sanksi bagi orang serakah. Mereka mengira harta yang ia kumpulkan selama ini bisa ia miliki. Padahal harta tersebut hanya sebuah titipan dari Allah.  Dengan kuasanya bisa saja Allah mengambilnya kembali. Mereka yang mengejar kehidupan duniawi semata-mata hanya mendapatkan balasan berupa siksa api neraka.

Allah juga mengambarkan di dalam Al-Quran. Perumpaan orang yang serakah jika mereka diberikan hidup selama 1000 tahun. Mereka akan mengejar kehidupan duniawi, dan tidak memperdulikan azab siksa api neraka. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 96 yang berbunyi:

 وَلَتَجِدَنَّهُمْ اَحْرَصَ النَّاسِ عَلٰى حَيٰوةٍ ۛوَمِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْا ۛيَوَدُّ اَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ اَلْفَ سَنَةٍۚ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهٖ مِنَ الْعَذَابِ اَنْ يُّعَمَّرَۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِمَا يَعْمَلُوْنَ

Artinya: Dan sungguh, engkau (Muhammad) akan mendapati mereka (orang-orang Yahudi), manusia yang paling tamak akan kehidupan (dunia), bahkan (lebih tamak) dari orang-orang musyrik. Masing-masing dari mereka, ingin diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkan mereka dari azab. Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

Penutup

                Dalam kehidupan kita saat ini. Terkadang kecintaan kepada materi membuat kita lupa akan akhirat. Kehidupan dunia seakan-akan membuat kita lupa bahwa dunia hanya tempat tinggal sementara.

Perlu kita sadari semua yang Allah berikan tersebut hanyalah sebuah titipan. Materi yang kita miliki bisa lenyap. Kita sebagai manusia yang memiliki materi juga tidak dapat hidup selamanya.

Kelak setelah kematian nanti. Tidak ada satupun materi yang kita miliki bisa dibawa ke dalam kubur. Orang yang serakah akan sangat menyesal di akhirat karena hidupnya hanya mengumpulkan dosa.  Bukan mengumpulkan pahala kebaikkan di dunia.

Agar kita sebagai manusia tidak menyesal di kehidupan akhirat kelak. Kita harus menempatkan harta secara proporsional, yaitu tidak menjadikan sebagai tujuan. Melainkan harta tersebut sebagai alat kita dalam melakukan amal shalih yang lebih baik.  Seperti yang di dalam QS. Al-Kahfi ayat 46 yang berbunyi:

اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ اَمَلً

Artinya:                 Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.

Dari penjelasan ayat tersebut, maka harapannya kita dapat membangun pribadi yang peduli kepada sesama. Dengan senantiasa melakukan amal kebaikkan, serta tidak menjadikan harta kita sebagai tujuan. Semoga kita terjauhi dari perbuatan serakah. Aamiin yarobbal allamin.

Bio Data Penulis

Nama                    : Muhammad Farhan

Asal daerah        : Medan, Sumatra Utara

Tahun kelahiran                : Medan, 15 September 2002

Gmail                    : mhd2farhan0109@gmail.com

Sekolah                : STID Al-Hadid Surabaya

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *