SYAIKH ABDURRAHMAN AL-KHALIDI BATUHAMPAR

Ulama besar di Pedalaman Minangkabau. Ahli Tilawah al-Qur’an dan juga dikenal sebagai seorang sufi. Beliau ialah kakek dari Bung Hatta. Beliau lahir sekitar 1777 M, dan wafat 1899, dimakamkan di Batuhampar, Payakumbuh. Lebih kurang 43 tahun beliau pergi menuntut ilmu, hingga sampai Mekkah, dan pulang kampung dalam usia 63 tahun. Dilihatnya agama tidak semarak. Islam ada namun perintah syari’at tidak begitu dijalankan dengan baik, di mana adu ayam masih menjadi hobi, mesjid tidak diisi untuk shalat, dan lain-lainnya. Maka beliau melakukan dakwah yang persuasif. Pernah satu ketika segerombolan pemuda datang mengunjungi beliau untuk meminta mendo’akan ayam yang akan dibawa ke gelanggang aduan. Tidak marah. Syaikh Abdurrahman dengan senyum mengambil ayam itu lalu mulutnya mulai berkomat-kamit membaca do’a. Setelah itu ayam tadi dikembalikan kepada pemuda-pemuda tadi. Dengan riang, pemuda-pemuda itu pergi ke gelanggang aduan. Beberapa saat setelah itu mereka pulang dengan gembira karena ayam aduan tadi menang. Lama kelamaan sosok Syaikh Abdurrahman sangat melekat di hati pemuda-pemuda tadi. Mereka menyebut syaikh dengan gelar “atuak basorban besar”, karena Syaikh Abdurrahman memakai serban. Sejak tuan syaikh tertanam di hati, mereka mulai menaruh segan. Secara beransur-ansur mereka meninggalkan kebiasaan adu ayam, karena karena segan dan hormat kepada Syaikh Abdurrahman. Beliau berhasil menghentikan perbuatan maksiat tanpa mengungkapkan suatu itu terlarang. Adapun do’a yang beliau baca pada ayam-ayam itu, kira-kira: “Ya Allah, berikanlah keinsafan kepada mereka…”

INYIAK CANDUANG

Syaikh Sulaiman Arrasuli (1871-1970), ulama terkemuka, ahli fiqih ternama, dan juga pakar adat Minangkabau. Di zaman Belanda, beliau begitu akrab dengan Demang Datuak Batuah yang dikenal garang. Sang Demang, meskipun terlahir dari keluarga yang beragama Islam, ternyata tidak mengerjakan perintah shalat. Syaikh Sulaiman Arrasuli, temannya, berkeinginan agar sang Demang taat mengerjakan perintah shalat. Pada saat itu Syaikh Sulaiman Arrasuli baru selesai mendidik dua anaknya, yaitu Rabi’ah dan Syamsiyah, belajar menenun di Kubang, Limapuluh Kota. Teringatlah oleh beliau menyuruh Demang Datuah Batuah shalat dengan cara yang sangat halus. Caranya, beliau beli sebuah sajadah parsi, kemudian beliau suruh anaknya tersebut menenung sehelai kain sarung. Setelah itu selesai, beliau datang berkunjung ke Demang tadi, beliau katakan: “Inyiak, cucu Inyiak yang bernama Syamsiyah, kemenakan Datuak Paduko Sati Simarasap, yang pernah Inyiak lihat dulu ketika pasar malam, sebelum belajar tenun dulu bernazar, kalau pandai ia bertenum akan menenunkan Inyiak sehelai kain sarung sembahyang. Sekarang saya disuruh menyampaikan nazarnya, harap Inyiak terima!!” Sindiran halus ini sangat terhujam di hati Demang Datuak Batuah. Sesaat itu juga beliau, melalui orang lain, menyuruh mencarikan seorang guru agama untuk mengajarkan bacaan shalat kembali. Sejak saat itu beliau selalu membawa kain sarung itu kemana-mana, ketika kontrol, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya. Berhasil Syaikh Sulaiman menyuruh shalat; menyuruh tanpa memerintah.

SYAIKH ABDULLATIF SYAKUR (wafat 1963)

Lama beliau di Mekkah, belasan tahun, berguru kepada Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Ketika beliau pulang kampung, beliau melihat banyak sekali hal-hal yang diperbuat masyarakat yang bertentangan dengan agama, seperti kebiasan judi dan adu ayam. Saat itu beliau mendirikan surau yang bernama Surau Sicamin, persis di depan gelanggang aduan dan judi. Beliaupun ikut meramaikan gelanggang itu. Namun, ketika waktu shalat tiba, beliau ajak parewa-parewa gelanggang untuk shalat. Hari hari beliau lalui seperti itu. Sampai kemudian kebiasaan adu ayam itu beransur hilang, dan habis sama sekali.

Dan banyak kisah-kisah lainnya.

Pertanyaan yang muncul dibenak saya: “Akankah kita mampu mengulang keberhasilan ulama-ulama besar dulu dalam berdakwah, hingga Islam itu benar-benar tertanam kuat, ketika kita berdakwah dengan kasar, menebar kebencian, dan mengolok-olok, sebagaimana tidak sedikit saya lihat hari ini??”

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *