(Alhamdulillah, syukur tak terperi aku haturkan ke hadirat Ilahi. Atas perkenan-Nya, tepat di hari Sabtu, 26 Desember 2020 kemarin, umurku genap menginjak angka 41 tahun. Itu artinya, sudah empat dasa warsa aku diberi kesempatan oleh Allah untuk menghirup udara-Nya, menikmati seluruh fasilitas hidup dan kehidupan yang disediakan oleh-Nya.
Untuk itu, aku ingin mengungkapkan sedikit refleksi rasa syukurku atas nikmat umur yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadaku hingga saat ini melalui sebuah tulisan sederhana ini. Aku berharap umur yang telah kulalui, serta sisa umurku nanti, hingga saatnya ajal menghampiri selalu dilimpahi keberkahan. Amiin…)
****
Adalah Chairil Anwar, dalam sajak yang sangat terkenal berjudul “Aku”, yang ia tulis ketika berumur 20 tahun menyatakan, “Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Ungkapan tersebut mewakili sebagian besar kita yang pada umumnya ingin diberi umur panjang oleh Allah Swt.
Ya, hampir tidak ada seorang pun di dunia ini yang berharap diberi umur pendek. Setiap manusia berharap diberikan umur panjang. Padahal, belum tentu umur panjang itu baik dan bermanfaat baginya. Boleh jadi dengan bertambahnya umur, justru bertambahnya dosa dan kejahatan yang dilakukannya. Tetapi, demikianlah pada umumnya harapan setiap orang. Semua berharap diberi kesempatan lebih lama untuk hidup di dunia ini.
Dalam Q.S. Al-Baqarah: 96 Allah Swt. menyebut orang-orang Yahudi sebagai orang yang tamak, karena mereka menginginkan agar diberi umur hingga seribu tahun. “Dan sungguh, engkau (Muhammad) akan mendapati mereka (orang-orang Yahudi), manusia yang paling tamak akan kehidupan (dunia), bahkan (lebih tamak) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
Dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkan mereka (orang-orang Yahudi) dari siksa. Maknanya secara umum bahwa rentang umur yang panjang tidak menjadi jaminan bagi baiknya seseorang. Untuk apa berharap umur panjang jika hanya diisi dengan kejahatan dan dosa.
Rasulullah Saw. bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya. Dan seburuk-buruk manusia adalah orang yang panjang umurnya dan buruk amalnya.” (HR. Ahmad)
Dari keterangan hadis di atas, jelaslah bahwa sesungguhnya baik tidaknya seseorang bukan ditentukan panjang dan pendeknya umur yang dimilikinya, tetapi kualitas amal yang diperbuatnya. Panjang umur tidak akan bermakna apa-apa, bahkan bisa jadi justru akan melenakannya, menjadikan seseorang lalai dengan tujuan hidup yang sesungguhnya. Panjang umur justru akan menambah beban yang akan dideritanya kelak di akhirat jika hanya diisi dengan keburukan serta kejahatan perilaku semasa hidupnya.
Umur yang pendek dengan kualitas amaliyah positif yang berlimpah menjadi lebih baik daripada umur panjang dengan perilaku buruk yang tak henti-hentinya dilakukan.
Idealnya, jika kita dianugerahi umur panjang, maka itulah kesempatan bagi kita untuk memperbanyak bekal kehidupan akhirat. Semakin bertambah umur, semakin tinggi kualitas ibadah yang kita lakukan, semakin dekat kita dengan Allah Swt. Jika demikian kenyataannya, maka kita akan menjadi manusia-manusia terbaik.
Dalam kesempatan lain, Rasulullah Saw pernah mengatakan, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Ahmad)
Kualitas seorang muslim dan seorang mukmin ditentukan oleh kualitas jalinan hubungan dengan Allah dan juga dengan manusia. Bukanlah mukmin yang baik, yang hanya mementingkan hubungan dengan salah satu dari dua hubungan di atas.
Dalam al-Qur’an disebutkan istilah hablun minallah (hubungan dengan Allah) dan hablun minannas (hubungan dengan sesama manusia).
Seseorang yang sangat taat menjalankan ritualitas ibadah, seperti shalat, puasa, serta ibadah-ibadah yang bersifat individu lainnya, tetapi abai terhadap ibadah sosial, tidak peduli dengan lingkungan, tidak pernah berempati terhadap nasib dan penderitaan orang lain, maka belum dikatakan sebagai mukmin yang baik. Karena ia hanya mementingkan dirinya sendiri dan tidak memerhatikan orang lain.
Ya, kehadiran kita di tengah-tengah lingkungan tempat kita tinggal, keberadaan kita di tengah masyarakat, hendaknya memberi arti penting, memberi nilai postif, menghadirkan manfaat bagi mereka.
Untuk apa kita hidup berlimpah harta, menyandang posisi terhormat, memangku jabatan prestisius, memiliki status sosial tinggi, tetapi tidak dapat memberi manfaat bagi orang lain. Percuma saja kita hidup berkecukupan bahkan berlebih dengan segala fasilitas yang kita miliki, tetapi kehadiran kita tidak berarti apa-apa bagi orang-orang di sekeliling kita. Atau dengan kata lain wujuduhu ka adamihi (adanya seperti ketiadaannya), karena orang tidak pernah merasakan manfaat apa pun dari kita.
Sungguh ironis ketika kita menyaksikan seseorang yang begitu khusyuk dan tenggelam dalam ibadah ritual, tetapi lalai dan abai terhadap ibadah sosial. Dia rajin shalat, tetapi dia rajin juga melukai hati dan perasaan orang lain. Dia begitu semangat untuk menunaikan ibadah haji dan umroh, bahkan berkali-kali, tetapi dia lupa bahwa anak-anak tetangganya yang kekurangan tidak mampu melanjutkan sekolah karena ketiadaan biaya. Dia tekun menghadiri majelis-majelis taklim, tetapi dia tidak pernah memedulikan anak-anak yatim di sekitar rumah tempat tinggalnya.
Kualitas keimanan seseorang, tidak hanya disebabkan oleh ketaatannya menjalankan ritualitas ibadah formal semata, tetapi juga ditentukan oleh kualitas ibadah sosialnya, yaitu kepeduliannya terhadap nasib dan penderitaan orang lain, kepekaannya terhadap kondisi sosial, serta empatinya terhadap orang lain.
Memaknai nikmat umur adalah dengan mengabdikan seluruh hidup kita untuk mengabdi kepada Allah dan berbuat baik terhadap sesama.
Pengabdian kepada Allah serta kebaikan dan mafaat yang diberikan kepada sesama manusia akan menjadikan seseorang terus ‘hidup’ dan memiliki usia yang panjang, meskipun tubuhnya sudah terbujur kaku di dalam kubur.
Dengan demikian, kita bisa mengatakan bahwa meski umur kita pendek, meski masa hidup kita di dunia ini sangat terbatas dan singkat, tetapi kualitas amal kita harus tidak terbatas dan bertahan lama. Sungguh sangat membahagiakan, jika kita sudah meninggalkan dunia ini, tetapi kebaikan-kebaikan kita masih memberi manfaat bagi orang lain.
(Refleksi Milad ke-41)
* Ruang Inspirasi, Ahad, 27 Desember 2020.

No responses yet