_”Kemudaratan yang bersifat khusus dapat ditolelir demi menolak kemudaratan umum”_
Kaidah Fikih
Di antara sikap terpuji adalah mendahulukan kepentingan yang menyangkut orang banyak (umum) atas kepentingan pribadi. Mengapa demikian? Sebab kepentingan umum bertalian dengan banyak pihak. Kepentingan yang jika diutamakan akan membawa pengaruh serta dampak yang meluas. Sebaliknya kepentingan pribadi atau kelompok tidak demikian.
Semakin seseorang mampu menenggelamkan ego kepentingan pribadi atau kelompoknya untuk lebih mendahulukan kepentingan orang banyak maka ialah kesatria sejati. Sosok yang bijaksana dalam prilaku hidup sosialnya dan juga cerminan karakter pemimpin sejati.
Jika ditakatan di atas bahwa kepentingan umum yang menyangkut orang banyak berdampak luas, maka kepentingan ini harus dimenangkan atas kepentingan pribadi. Sepertihalnya juga pada kasus pemenangan sebuah kemudaratan (bahaya) yang bersifat umum–berdampak lada orang banyak– harus dimenangkan atas kemudaratan yang bersifat khusus. Selebihnya kemudaratan yang bersifat khusus dapat dibenarkan demi untuk menolak kemudaratan yang lebih umum.
Satu contoh misalnya, mengekang seseorang untuk beraktivitas di rumah saja selama pandemi Covid-19 masih berlangsung harus diberlakukan demi memutus matarantai persebaran virus Covid-19. Meski pengekangan atas kepentingan orang lain untuk beraktivitas secara bebas selama pandemi Covid-19, itu tidak mengenakkan atau tidak baik namun jalan ini harus di pilih guna mencegah meluasnya korban Covid-19. Contoh yang seperti inilah sebagian kecil dari aplikasi sebuah nilai kaidah fikih yang berbunyi, “Kemudharatan yang bersifat khusus dapat ditolelir demi menolak kemudaratan yang bersifat umum.”
Contoh lain misalnya, pembatalan acara resepsi besar-besaran pada sebuah pernikahan pada masa pandemi Covid-19 yang melibatkan orang banyak harus dilakukan demi menjaga dan mengantisipasi berkumpulnya orang banyak yang berpotensi melanggar protokol kesehatan yang kemudian berdampak pada meluasnya persebaran vitus Covid-19. Pada contoh ini, terang bahwa bahwa demi mencegah meluasnya kemudaratan umum, kemudaratan yang sifatnya khusus harus dikalahkan. Begitu contoh ini sebagai potret dari sebuah ungkapan yang berbunyi, “Demi menjaga kemaslahatan umum, kemaslahatan pribadi harus dinomor duakan.”
Nah, demikianlah sekilas tentang pentingnya menolak kemudaratan umum meski harus melakukan kemudaratan yang bersifat khusus. Kemudaratan yang berdampak luas pada orang banyak harus diutamakan meski penanggulangannyadengan jalan melakukan tindakan yang kemudaratan yang lebih ringan.
Sebagai penutup, meski tak harus melakukan kemudaratan yang ringan kita harus benar-benar menolak kemudaratan yang bersifat umum–mengantisipasinya.
Wallahu A’lam Bisshawab
Kediri, 05-01-2020.

No responses yet