Ada 2 alasan

Pertama, karena sulit sekali orang jaman now untuk menghindari barang haram. Dawuh Imam Ghozali, di jaman ini, satu-satunya barang halal itu cuma air hujan yang menetes dari langit dan langsung jatuh ke mulut kita. Itu baru murni halal. 

Kalo mau memaksa diri ingin hidup dalam kehalalan, maka saran Imam Ghozali, kudu hidup di hutan dan gunung-gunung. Lalu bercocok tanam sendiri untuk makan, membuat pakaian sendiri dr bahan alam dan minum dari air sungai dan air hujan. Pokoknya hidupnya serba naturalis. Itupun kalo gak ada resiko ditangkep polisi hutan. Lha wong hutan sekarang itu kebanyakan kawasan konservasi.

Maka kalo gak bakat hidup naturalis, gak usah muluk-muluk ngomong serba syar’i dan murni halal. Ntar cangkemnya ditapuk malaikat. Hidup yang wajar aja, mbah. Usaha semampunya aja untuk dapet barang halal. Kafarotnya karena kita gak tau hasil usaha itu murni halal atau kecampur barang haram, kita banyakin istighfar dan tahlilan. Berharap kemurahan maaf dari Gusti Allah.

Kedua, karena di jaman ini, sulit kita menghindari gesekan konflik dengan manusia. Dan kita gak boleh menganggap remeh konflik sesama manusia. Ada dawuh ulama

الخلاف يهيج العداوة، والعداوة تستنزيل البلاء

“Konflik itu mengundang permusuhan, permusuhan itu yang jadi penyebab turunnya balak / bencana”

Kita flashback. Di tahun-tahun kemarin, kita sering cek-cok, nyinyir dan ribut masalah pilpres. Ribut-ribut yg memang sengaja dibangun politisi ini telah merusak sebagian besar tatanan masyarakat kita, hingga terjadi pecah belah. Pertengkaran gara2 pilpres ini pun merembet jadi konflik agama, konflik ras dan konflik-konflik yang lain yang menyentuh masyarakat paling bawah. Politisi yg membangun konflik adem ayem sekarang, sementara masyarakat bawah masih ribut. Sisa2 konflik pilpres belum terobati sepenuhnya.

Habib Luthfi bin Yahya, saat rame-ramenya ribut pilpres itu, pernah dawuh untuk segera menghentikan konflik atau Gusti Allah akan menurunkan balak. Tapi dawuh beliau rupanya tidak kita dengar. Dan akhirnya ini yg kita rasakan sekarang. Jangan-jangan balak berupa pandemi covid, runtuhnya tatanan sosial, mundurnya ekonomi, resesi menghantam seluruh sendi masyarakat hingga paling bawah, itu semua gara2 ributnya kita semua di tahun2 kemarin itu. Hingga menjungkir balikkan kita semua.

Maka sekarang ini, yang kasihan akhirnya para ulama. Mereka sekarang berusaha mati-matian menyusun kembali tatanan sosial yg kadung hancur gegara konflik. Lewat munajat mereka di dalam batin dan amal jihad mereka di dunia nyata maupun di dunia maya. 

Dan di momen seperti ini, yang paling tepat bagi kita sebagai orang awam rea-reo, untuk memperbaiki hubungan dgn sesama dan memperbanyak istighfar. Istighfar selain untuk memohon maaf pada Gusti Allah, dengan mengalap semua sirr istighfar, kita selipkan niat untuk membantu ulama yang sedang berusaha menyembuhkan luka kita dan luka semua anak bangsa ini. Paling nggak, biar hidup kita ada gunanya dikit lah, mbah. Semoga dengan banyak istighfar, dosa kita diampuni Gusti Allah dan diiringi hilangnya balak di saat ini. Kalo kita gak merasa punya sumbangan dosa atas turunnya balak ini, wah kebangeten,

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *