Salah satu pujian Allah SWT terhadap nabi Muhammad yang paling masyhur adalah perintah Nya dalam surah Al ahzab ayat 56. Dalam ayat itu digambarkan bahwa Allah dan para malaikat Nya bersholawat kepada Nabi Muhammad, kemudian Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk bersholawat dan memberikan salam penghormatan pada beliau. Bahkan begitu “pentingnya” bersholawat pada nabi ini, sampai kemudian dilekatkan pada kewajiban sholat. Artinya minimal setiap muslim harus bersholawat 9 kali sehari, jika ritual sholat maktubanya dilakukan secara “sempurna”.
Di sisi lain angka 9 (sembilan) sendiri adalah lambang dari “puncak” pencapaian spiritual (sebelum memasuki ruang atau keadaan “kosong” atau abadi yang dilambang dengan angka 0) bagi seorang hamba. Jadi inilah salah satu makna lambang atau simbol angka Arab yang dimulai dari simbol angka 1 dan berakhir di simbol angka 0. Dimana secara sederhana bisa ditafsiri dengan makna bahwa kehidupan itu berasal dari yang Esa atau 1 dan akan kembali kepada yang Abadi atau 0. Untuk bisa kembali kepada yang Maha Abadi itu harus melalui tahap mendua dan seterusnya sampai ke tangga ke 9. Sebuah proses ujian duniawi yang melelahkan dan penuh fitnah. Karena itulah diperlukan seorang tauladan untuk dijadikan cermin bagi manusia agar bisa menjalani beratnya ujian tersebut. Posisi itulah yang dipegang para rasul dan nabi. Maka jelaslah di sini bahwa posisi nabi Muhammad adalah wasilah (perantara) “terakhir” yang tidak mungkin dilompati seorang hamba Allah jika ingin masuk ke tahap makrifatullah atau kesadaran mengenali Allah tanpa hijab.
Sholawat adalah ekspresi Cinta. Maka tidak ada batas bagi para kekasih untuk mengekspresikan perasaan cintanya yang tulus terhadap kekasih pada kekasih. Mulai dari pujian-pujian indah yang paling tidak masuk akal, sampai ratapan rindu yang mendayu-dayu dirapalkan di setiap malam yang syahdu. Ada juga tarian cinta yang berputar dalam lingkaran yang tak putus mendawamkan do’a pertemuan dengan kekasih dalam jamuan berkah Ilahi. Bahkan ada pula yang diekspresikan dalam keluguhan (ummi) cinta, berupa berbagi rasa gembira dalam pesta perjamuan massal (maulidan). Meskipun mereka sering diledek para ustadz “nyunnah”, namun karena tulusnya cinta mereka pada Baginda Rasulullah mereka tetap memaafkan para penghina. Begitulah Cinta, tidak ada rasa terpaksa , yang ada adalah rasa syukur dan ridho atas segala perintah dan ketentuan Kekasih Sejati.
Para kekasih Allah dari kalangan malaikat, nabi, dan juga manusia semuanya bersholawat kepada Baginda nabi Muhammad. Sebab mereka sadar tidak mungkin menggapai ridho Allah tanpa bersholawat pada nabi akhir zaman tersebut. Begitulah kira-kira narasi dalam satu bait syair sholawat yang begitu masyhur karena sering dilantunkan ummat Islam di beragam acara. Nabi Muhammad adalah tumpuhan terakhir bagi manusia untuk bisa mendapatkan Rahmat Allah ketika kiamat datang. Itulah kenapa Allah memerintahkan kepada semua orang beriman untuk selalu bersholawat kepada Baginda Rasulullah. Maka kalau ada ustadz “nyunnah” yang menyatakan bisa langsung berhubungan dengan Allah tanpa “perlu” bersholawat pada nabi Muhammad. Maka dia sebenarnya telah terjebak pada “bid’ah” yang jauh lebih nyata ketimbang mereka yang sering mereka tuduh pengamal bid’ah karena begitu senang bersholawat dalam beragam ekspresi.
Nabi Muhammad adalah ayat Allah yang berwujud manusia paling sempurna yang bisa kita baca kemuliaan dan keagungan ahlaqnya. Karena itulah peran dan posisi Nabi Muhammad adalah kekasihnya para kekasih, tempat semua cinta bermuara di alam semesta sebelum dihaturkan pada Sang Kekasih sejati. Semoga Keselamatan, Kesejahteraan dan kemulyaan selalu tercurah pada Baginda Rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wassalam. #SeriPaijo
Tawangsari, 11 September 2020

No responses yet