قال الامام النسفي (ت.٧١٠ هـ) في تفسير قول الله تعالى؛ “هدى للمتقين”:

و انما قيل {هدى للمتقين} و المتقين مهتدون لانه كقولك للعزيز المكرم; (اعزك الله و اكرمك) تريد طلب الزيادة الى ما هو ثابت فيه و استدامته و كقوله تعالى: {اهدنا الصراط المستقيم} و لانه سماهم عند مشارفتهم لاكتساء لباس التقوى متقين، و كقوله ﷺ {من قتل قتيلا فله سلبه} و قول ابن عباس رضي الله عنهما: اذا اراد احدكم الحج فليعجل فإنه يمرض المريض. 

Imam An-Nasafi (W. 710 H) ketika menafsirkan firman Allah: “sebagai hidayah bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Baqarah 2):

Dikatakan {sebagai hidayah bagi orang-orang yang bertakwa}, sedangkan orang yang bertakwa adalah orang yang sudah diberi hidayah, karena itu seperti ucapan kamu bagi orang seseorang yang mulia dan dihormati: “semoga Allah memuliakanmu”, ucapan kamu itu bermakna; kamu menginginkan tambahan kemulian bagi orang tersebut dan agar kemuliaan tersebut berada terus padanya. Sama juga seperti ayat: {tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus}.

Dan karena Allah menamai mereka yang memiliki potensi untuk bertakwa sebagai orang yang bertakwa. Ini sama dengan sabda Nabi Muhammad ﷺ: “barang siapa yang membunuh seorang musuh maka harta milik musuh itu untuk yang membunuh”. Begitu juga sama dengan perkataan Ibnu ‘Abbas: “Barang siapa diantara kalian ada yang ingin berangkat haji maka bersegeralah, karena orang suatu saat bisa sakit”.

سمى المشارف للقتل و المرض قتيلا و مريضا. ولم يقل هدى للضالين لانهم فريقان؛ فريق علم بقائهم على الضلالة، و فريق علم ان مصيرهم الى الهدى، و هو هدى لهؤلاء فحسب، فلو جيء بالعبارة المفصحة عن ذلك لقيل هدى للصائرين الى الهدى بعد الضلال، فاختصر الكلام بإجرائه على الطريقة التي ذكرنا. 

كتاب تفسير النسفي ج ١ ص ٣٩

Dalam dua konteks riwayat tersebut orang yang memiliki potensi terbunuh dinamakan dengan Qatiil (orang yang terbunuh) dan orang yang memiliki potensi sakit dinamai dengan Maridh (orang yang sakit) -meskipun kedua objek yang disebut belum terbunuh dan belum terjadi sakitnya-.

Dalam ayat tidak disebut; “sebagai hidayah bagi orang yang tersesat”, karena orang yang tersesat ada dua golongan; pertama, golongan yang diketahui akan selamanya berada dalam kesesatan, dan kedua, golongan yang tersesat namun diketahui bahwa diakhirnya mereka akan mendapatkan hidayah, dan hidayah yang dimaksud dalam ayat adalah untuk golongan yang kedua. 

Seandainya didatangkan dengan ibarat yang lebih panjang lebar lagi maka bunyi ayatnya seperti ini:

هدى للصائرين الى الهدى بعد الضلال 

Artinya; “sebagai petunjuk bagi orang yang mengarag kepada hidayah setelah tersesat”.

Namun ibarat yang ada di Al-Quran singkat dan padat maknanya sebagaimana keterangan yang telah dijelaskan diatas. 

Kitab Tafsir An-Nasafi jilid 1 hal 39

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *