Para ulama tasawuf dawuh bahwa akal harus pasrah dan diletakkan di depan Qudroh Gusti Allah. Maka makna lainnya, untuk bisa meletakkan akal di hadapan Qudroh Gusti Allah, ya kita kudu punya akal sehat dulu. Sama kayak kalo kita mau sedekah, ya harus punya sesuatu yang mau disedekahkan dulu.
Nah, biar akal bisa menerima dan pasrah pada Qudroh Gusti Allah, alur logikanya gini :
Ngomong-ngomong pasrah pada qudroh, kita diingatkan dengan kalimat hauqolah
لَا حَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
Para Kyai kita kalo mengartikannya begini “Ora ono doyo iku maujud kangge taat lan ora ono pekuatan iku maujud kangge ngedohi maksiat, kejobo kelawan kersanipun Gusti Allah ingkang Moho Luhur derajatipun lan ingkang Moho Agung Kuasanipun” (Tidak ada daya untuk taat dan tidak ada kekuatan untuk menjauhi maksiat, kecuali dengan kekuasaan dan kehendak Gusti Allah yang Maha Luhur derajat-Nya dan Maha Agung Kekuasaan-Nya).
Maknanya, kita bisa taat dan bisa menjauhi maksiat itu karena kehendak Gusti Allah, bukan karena 100% usaha kita. Usaha kita itu sebatas bisa berazam, bercita-cita atau punya keinginan di hati. Selebihnya itu berkat kemauan Gusti Allah yang menggerakkan kita.
Semua ini bisa kita lihat secara akal sehat. Kita bisa lahir dan hidup di dunia bukan kehendak kita. Kita bisa tumbuh bukan kemauan kita. Kita bisa makan dengan enak, jantung tetep berdetak, usus tetep mencerna, otak tetep bekerja, ternyata bukan usaha kita. Sel-sel tubuh kita tidak tercerai berai, atom penyusun tubuh masih aktif, ternyata juga bukan kemauan kita.
Kalo kita bilang jantung itu yg bikin manusia hidup, nyatanya jantung itu bukan organ yang pertama kali ada saat kita ada. Banyak juga di RS, orang jantungnya masih berdetak tapi kata dokter dia gak hidup tapi juga gak mati.
Artinya, detak jantung itu cuma tanda adanya kehidupan, bukan kehidupan itu sendiri. Kehidupan itu sendiri kita gak tau wujudnya kayak apa. Yang pasti, hidup ya gak mati. Artinya, hidup itu ya ikut aturan yang bikin hidup dan mati, yaitu Gusti Allah. Kesimpulannya, kita bisa hidup dan mati ya mutlak atas kemauan Gusti Allah.
Kalo kita bisa merenungkan segala aspek kehidupan secara akal sehat, ternyata hakikatnya memang apapun yang kita lakukan itu bukan kemauan kita. Termasuk kita bisa berhasil taat dan berhasil menjauhi maksiat, ya karena Gusti Allah yang menghendaki dan menggerakkannya. Kita cuma bisa bercita-cita.
Makanya dalam doa iftitah disebut
إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين
“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah kehendak Gusti Allah, Tuhan seru sekalian alam”
Kesimpulannya, pertama kali akal harus bisa melihat itu semua dan bisa sadar, sehingga kita akan sukarela meletakkan akal kita di hadapan Qudroh Gusti Allah. Gak akan ada lagi pertentangan batin dan kita bisa berdamai dengan keadaan. Kalo belum bisa melihat itu semua, mungkin akal sehat kita lagi ada gangguan, mbah.
Ngomong2 kalimat hauqolah ini, menurut Syaikh Nawawi Al Bantani dalam Kasyifatus Saja, kalo dibaca 100 kali tiap hari, bisa mengenyahkan kemiskinan selamanya. Dibaca 300 kali, untuk memudahkan hajat.

No responses yet