Penguasa pertama kerajaan Batoe Litjin yang sekarang di kenal Batulicin adalah Ratu Intan I anak kandung Ratu Mas. Ratu Mas bin Pangeran Mangu adalah penguasa terakhir kerajaan Tanah Bumbu sebelum dipecah menjadi beberapa wilayah kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan Tanah Bumbu didirikan oleh Pangeran Dipati Tuha (Raden Basus) putera Sultan Saidullah, raja Banjar. Pada Tahun 1870 wilayah kerajaan Tanah Bumbu dibagikan kepada anak kandung dan anak-anak tiri Ratu Mas yaitu Pangeran Prabu dan Ratu Intan I. Pangeran Prabu memperoleh wilayah utara yang berpusat di negeri/Kerajaan Bangkalaan, sedangkan wilayah selatan (Cantung dan Batulicin) diberikan kepada Ratu Intan I. Pada 4 Mei 1826, Sultan Adam (raja Banjar) menyerahkan wilayah Batulicin kepada Hindia Belanda.
Sejak tahun 1860, wilayah Kerajaan Batoe Litjin menjadi suatu wilayah pemerintahan swapraja yang dikepalai seorang bumiputera bagian dari Afdeeling Pasir en de Tanah Boemboe dalam pemerintahan kolonial Hindia Belanda di bawah kekuasaan Asisten Residen GH Dahmen yang berkedudukan di Samarinda. Pemerintah daerah swapraja tersebut dikuasakan kepada seorang kepala bumiputera yaitu Pangeran Syarif Hamid, seorang Arab dari Batavia, bukan keturunan Sultan Banjar. Atas perintah Belanda, Pangeran Syarif Hamid inilah yang berhasil menangkap Demang Lehman, salah seorang pemimpin Perang Banjar-Barito. Sumber: wikipedia
Lokasi Makam Ratu Intan 1 berada di Daerah Bakau kecamatan Pamukan sekitar 150 Km atau setara dengan 3 jam perjalanan memakai mobil dari Cantung. Kita akan melewati daerah Perkebunan Sawit. Di belakang Makam Ratu Intan 1 juga terdapat Makam Aji Semarang atau bergelar Pangeran Muda Arifbillah yang adalah Cucu dari Ratu Intan 1.
Ratu Intan 2 bernama asli Aji Tukul, adalah putri Aji Jawa, Raja Cantung yang memerintah tahun 1825-1841, dengan Gusti Kamil binti Gusti Kamir. Pangeran pertama yang berhasil menaklukkan hatinya adalah Aji Pati (Pangeran Agung) bin Sultan Sulaiman dari Pasir. Aji Pati bergelar Pangeran Agung bersama Ratu Intan II/Aji Tukul (bergelar Ratu Agung) memerintah di wilayah kerajaan Bangkalaan, Manunggal dan Cengal.
Adapun sumber sejarah yang menguatkan adanya perkawinan tersebut adalah pada sumber lokal seperti “Silsilah Raja Raja Tanah Bumbu” yang disusun oleh Hendri Nindyanto (alm), keturunan Raja Cantung. Dalam silsilah tersebut tertulis Aji Pati Pangeran Agung adalah putra Sultan Sulaiman II Alamsyah (Adjie Panji), Sultan Pasir yang memerintah tahun 1799-1811. Dalam silsilah tersebut jelas tertulis nama “Adji Pati bin Sultan Sulaiman” yang mengawini Ratu Intan 2 (Aji Tukul), putri Aji Jawa, Raja Cantung (1825-1841).
Pada sumber lokal lainnya, yang menuliskan asal usul Aji Pati Pangeran Agung, adalah “Silsilah Raja Raja Tanah Bumbu”, yang tidak diketahui penyusunnya, koleksi Antung Saini (penjaga makam Pangeran Agung). Dalam silsilah ini tertulis Adji Pati Pangeran Agung adalah adik keempat raja Pasir, suami Ratu Intan II binti Aji Jawa (Aji Doya). Apabila menganalisis sumber ini, kemungkinan besar, Adji Pati adalah adik Sultan Ibrahim Alamsyah (Adjie Sembilan) bin Sultan Sulaiman II Alamsyah (Adjie Panji) yang memerintah Kerajaan Pasir tahun 1811-1816.
Adapun susunan Raja Tanah Bumbu sebagai berikut :
- Pangeran Dipati Tuha/Raden Basus bin Sultan Saidullah (1660-1700)
- Pangeran Mangu bin Pangeran Dipati Tuha (1700-1740)
- Ratu Mas binti Pangeran Mangu (1740-1780)
- Kerajaan Tanah Bumbu berakhir karena wilayahnya dibagi menjadi wilayah kerajaan kecil sejak 1780. Ratu Intan I anak Ratu Mas mewarisi daerah Cantung dan Batulicin, Pangeran Prabu mewarisi Sampanahan, Bangkalaan, Manunggul dan Cengal, sedangkan Pangeran Layah mewarisi daerah Buntar-Laut.
Pada tahun 1849 Aji Tukul/Ratu Intan II kemudian pada tahun 1848, setahun setelah meninggalnya Adji Pati Pangeran Agung, kemudian Ratu Intan II menikah lagi dengan Pangeran Abdul Kadir, Raja Kusan, Batulicin dan Pulau Laut. Pangeran Abdul Kadir adalah pengeran kedua yang berhasil menaklukkan hatinya.
Mengenai perkawinan Ratu Intan II dengan Pangeran Abdul Kadir yang menjadi Raja Kusan, Batulicin dan Pulau Laut, diperkuat oleh tulisan Hollander dan Carl Bock yang menuliskan:
“Pangeran Abdul Kadir, raja Koesan, telah menunggu kedatangan residen untuk waktu yang lama. Walaupun demikian, pada 5 hari sebelumnya Pangeran Abdul Kadir telah berangkat ke Bangkallan/Bangkalaan, untuk menjemput istrinya, janda Patti Adji (Adji Pati Pangeran Agung), yang sebelumnya memerintah Bangkallan (Bangkalaan). Sebelum keberangkatannya, ia mengatakan dalam waktu 3 hari akan kembali, karena saudaranya, Goesti Djamal Oedien, telah meninggalkan Pulau Nangka untuk menunggu kedatangan Residen.
Demikian kisah sejarah kerajaan Batulicin dan Tanah Bumbu yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Bermula dari kerajaan Batulicin kemudian membelah menjadi kerajaan Tanah Bumbu dan kerajaan yang lain.

No responses yet