Kerajaan Tanjungpura atau Tanjompura merupakan kerajaan tertua di Kalimantan Barat. Kerajaan yang terletak di Kabupaten Kayong Utara ini pada abad ke-14 menjadi bukti bahwa peradaban negeri “TANAH KAYONG” sudah cukup maju pada masa lampau. Tanjungpura pernah menjadi provinsi Kerajaan Singhasari sebagai Bakulapura. Nama bakula berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti tumbuhan tanjung, sehingga setelah dimelayukan menjadi Tanjungpura.
Pulau Kalimantan kuno terbagi menjadi 3 wilayah kerajaan besar: Borneo (Brunei), Sukadana (Tanjungpura) dan Banjarmasin.
Tanjung Dato adalah perbatasan wilayah mandala Borneo (Brunei) dengan wilayah mandala Tanjungpura/Sukadana, sedangkan Tanjung Sambar batas wilayah mandala
Tanjungpura/Sukadana dengan wilayah mandala Banjarmasin (daerah Kotawaringin). Daerah aliran Sungai Jelai, di Kotawaringin di bawah kekuasaan Banjarmasin, sedangkan sungai Kendawangan di bawah kekuasaan Tanjungpura/Sukadana. Perbatasan di pedalaman, perhuluan daerah aliran sungai Pinoh (Lawai) termasuk dalam wilayah Kerajaan Kotawaringin (bawahan Banjarmasin).
Para Penguasa Kerajaan Tanjungpura
- Sang Maniaka atau Krysna Pandita (800 M–?)
- Hyang-Ta (900–977M)
- Siak Bahulun (977–1025M)
- Rangga Sentap (1290M–?)
- Prabu Jaya/Brawijaya (1447-1461M)
- Raja Bapurung, Pangeran Prabu (1461–1481M)
- Karang Tunjung, Panembahan Pudong Prasap (1481–1501M)
- Panembahan Kalahirang (1501–1512M)
- Panembahan Bandala (1512–1538); Anak Kalahirang
- Panembahan Anom (1538–1565M);
- Saudara Panembahan Bandala
- Panembahan Dibarokh atau Sibiring Mambal (1565-1590M)
Ibukota Kerajaan Tanjungpura beberapa kali mengalami perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya. Beberapa penyebab Kerajaan Tanjungpura berpindah ibukota adalah terutama karena serangan dari kawanan perompak (bajak laut) atau dikenal sebagai Lanon. Konon, pada masa itu sepak-terjang gerombolan Lanon sangat kejam dan meresahkan penduduk. Kerajaan Tanjungpura sering beralih pusat pemerintahan adalah demi mempertahankan diri karena sering mendapat serangan dari kerajaan lain. Kerap berpindah-pindahnya ibukota Kerajaan Tanjungpura dibuktikan dengan adanya situs sejarah yang ditemukan di bekas ibukota-ibukota kerajaan tersebut.
Negeri Baru di Ketapang merupakan salah satu tempat yang pernah dijadikan pusat pemerintahan Kerajaan Tanjungpura. Dari Negeri Baru, ibukota Kerajaan Tanjungpura berpindah ke Sukadana. Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Zainuddin (1665–1724M), pusat istana bergeser lagi, kali ini ditempatkan di daerah Sungai Matan. Dari sinilah riwayat Kerajaan Matan dimulai kendati sesungguhnya nama kerajaan tersebut pada waktu itu masih bernama Kerajaan Tanjungpura. Pusat pemerintahan kerajaan ini kemudian berpindah lagi yakni pada 1637 di wilayah Indra Laya. Indra Laya adalah nama dari suatu tempat di tepian Sungai Puye, anak Sungai Pawan. Kerajaan Tanjungpura kembali beringsut ke Kartapura, kemudian ke Desa Tanjungpura, dan terakhir pindah lagi ke Muliakerta di mana Keraton Muhammad Saunan sekarang berdiri.
Menurut Catatan Gusti Iswadi, S.sos dalam buku Pesona Tanah Kayong, disebutkan, bahwa, dari negeri baru kerajaan Tanjungpura berpindah ke Sukadana sehingga disebut Kerajaan Sukadana, kemudian pindah lagi Ke Sungai Matan (sekarang Kec. Simpang Hilir). Lalu, semasa pemerintahan Sultan Muhammad Zainuddin sekitar tahun 1637M, pindah lagi ke Indra Laya sehingga disebut Kerajaan Indralaya. Indralaya adalah nama dari satu tempat di Sungai Puye anak Sungai Pawan Kecamatan Sandai. Kemudian disebut Kerajaan Kartapura karena pindah lagi ke Kartapura di desa Tanah Merah, Kec. Nanga Tayap. Berikutnya, baru ke Desa Tanjungpura sekarang (Kecamatan Muara Pawan) dan terakhir pindah lagi ke Muliakarta di Keraton Muhammad Saunan yang ada sekarang yang terakhir sebagai pusat pemerintahan swapraja.
Bukti adanya sisa kerajaan ini dapat dilihat dengan adanya makam tua di kota-kota tersebut, yang merupakan saksi bisu sisa kerajaan Tanjungpura dahulu. Untuk memelihara peninggalan ini pemerintah Kabupaten Ketapang telah mengadakan pemugaran dan pemeliharaan di tempat peninggalan kerajaan tersebut. Tujuannya agar generasi muda dapat mempelajari kejayaan kerajaan Yanjungpura pada masa lampau.
Pada masa pemerintahan Panembahan Karang Tanjung (1487-1504M), pusat Kerajaan Tanjungpura yang semula berada di Negeri Baru dipindahkan ke Sukadana, dengan demikian nama kerajaannya pun berubah menjadi “Kerajaan Sukadana”. Sukadana merupakan nama yang disebutkan untuk kerajaan ini dalam Hikayat Banjar.
Para Penguasa Kerajaan Sukadana
- Panembahan Karang Tanjung (1487–1504M)
- Gusti Syamsudin atau Pundong Asap
- atau Panembahan Sang Ratu Agung (1504–1518M)
- Gusti Abdul Wahab atau Panembahan Bendala (1518–1533M)
- Panembahan Pangeran Anom (1526–1533M)
- Panembahan Baroh (1533–1590M)
- Gusti Aliuddin atau Giri Kesuma atau Panembahan Sorgi (1590–1604M)
- Ratu Mas Jaintan (1604-1622M)
- Gusti Kesuma Matan atau Giri Mustika atau Sultan Muhammad Syaifuddin/Raden Saradipa/Saradewa (1622–1665M); Menantu Ratu Bagawan dari Kotawaringin. Inilah raja terakhir Kerajaan Sukadana sekaligus raja pertama dari Kerajaan Tanjungpura yang bergelar sultan.
Demikianlah, kisah sejarah Kerajaan Tanjungpura yang masih beragama Hindu, kemudian menjelma menjadi Kerajaan/Kesultanan Sukadana yang sudah beragama Islam.

No responses yet