Categories:

Disusun oleh:

Gilman Hasim Abdullah (2308015007)

Muhammad Tri arrazi (2308015234)

Universitas Muhammadiyah Prof Dr. Hamka

Setiap orang tentu ingin mencapai kesuksesan dalam hidup. Untuk mencapai kesuksesan, tidak cukup dengan hanya mengandalkan kecerdasan intelektual saja.  Dengan kata lain, Anda juga memerlukan kecerdasan lain yang dapat menunjang kesuksesan Anda: kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional diukur dari kemampuan mengendalikan emosi dan pengendalian diri.

Dalam Islam, kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri disebut dengan kesabaran. Orang yang paling sabar adalah mereka yang memiliki kecerdasan emosional paling tinggi yaitu. Ia biasanya tetap teguh dalam menghadapi kesulitan. Saat belajar, orang ini biasanya rajin. Biasanya ia berhasil mengatasi berbagai kendala, tidak mudah menyerah pada emosi dan mampu mengendalikannya. Kesabaran mengajarkan seseorang ketekunan dalam bekerja dan mengerahkan kemampuan untuk mewujudkan tujuan filantropis dan ilmiah. Faktanya, beberapa tujuan utama kehidupan manusia memerlukan banyak waktu dan kepentingan, baik dalam bidang kehidupan nyata, seperti bidang sosial, ekonomi, politik, maupun dalam bidang penelitian ilmiah. Oleh karena itu, menunjukkan ketekunan, keikhlasan dan kegigihan ketika menghadapi kesulitan dalam bekerja atau belajar merupakan sifat karakter yang penting untuk mencapai kesuksesan dan mewujudkan cita-cita yang tinggi. Ketekunan membutuhkan kekuatan untuk menghadapi kesulitan, kesukaran, dan kepahitan. Harus diterima dan bertanggung jawab penuh.

Berdasarkan kesimpulan tersebut, Shihab merumuskan pengertian kesabaran sebagai “menekan atau membatasi hawa nafsu jiwa guna mencapai sesuatu yang baik atau lebih baik (mulia)”. Menurut al-Jauziyyah4, sabar berarti menahan diri dari emosi. kecemasan, kecemasan,dan kemarahan. Tolong jangan mengeluh. Mencegah anggota tubuh menjadi bingung Menurut Mubarok5, ketekunan berarti tabah tanpa mengeluh dalam menghadapi godaan dan rintangan dalam jangka waktu tertentu guna mencapai suatu tujuan. Oleh karena itu, kesabaran adalah pengendalian diri untuk menunaikan berbagai kewajiban ketaatan, menjauhi larangan, dan menghadapi berbagai cobaan dengan rela pasrah.

 Asy-Shabur (Yang Paling Sabar) juga merupakan salah satu Asma’ul Husna Allah SWT, yaitu orang yang tidak terburu-buru dalam bertindak terlebih dahulu. Dalam agama, kesabaran merupakan salah satu dari tahapan (makamat) agama dan salah satu dari tahapan salik untuk mendekatkan diri kepada Allah.

 Struktur makamat (kedudukan) agama dapat dibayangkan sebagai:

  1. ilmu (maarif), sebatang pohon;
  2. Sikap (Akhwal), yang dapat dianggap sebagai suatu cabang.
  3. Perbuatan yang dianggap prestasi (amal).
  4. Kalau ada struktur Makamatnya, bisa ditanggung.
  5. Kesabaran bisa bersifat fisik, tetapi bisa juga bersifat psikologis.

Kesabaran artinya kemampuan mengendalikan emosi, jadi yang namanya Kesabaran tergantung subjeknya.

Terlepas dari perbedaan pandangan mengenai tahapan Chabre, ketekunan dalam pada hakikatnya merupakan bentuk konsistensi diri dengan mengikuti prinsip-prinsip yang telah dianut sebelumnya.

Sabar (ash-habru) artinya tidak mengeluh, tergantung bahasanya. Ada pula Ash Shiburu dengan obat pahit, kasra khan shad yang artinya getah pohon yang pahit. Yang saya maksud dengan bersabar adalah menyuruh dia untuk bersabar. Bulan kesabaran berarti bulan puasa. Ada orang yang percaya bahwa kesabaran itu sulit dan kuat. Ash-Shibru berfokus pada obat, yang dikenal sangat pahit dan sangat tidak menyenangkan. Al-Ushumui mengatakan bahwa “ketika seseorang menghadapi kesulitan yang berat”, yaitu seseorang menghadapi kesulitan tersebut dengan penuh kesabaran. Ada pula Ash Shubul dengan Mendamakan Shad yang mengincar tanah subur karena kerasnya. Ada juga yang berpendapat bahwa kesabaran diambil dari kata “berkumpul bersama”, “merangkul”, atau “merangkul”. Orang yang sabar adalah orang yang memeluk atau memeluk dirinya sendiri karena merasa tidak nyaman. Ada pula kata shaburah yang merujuk pada makanan. Pada dasarnya kesabaran mempunyai tiga arti. Bertahan, bekerja keras, berkumpul, merangkul, sedangkan sebaliknya, sabar, adalah sebuah keluhan. Dari pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa ketekunan memerlukan ketabahan dalam menghadapi kesulitan. Anda harus menerima hal-hal yang berat dan menyakitkan dan bertanggung jawab penuh atas hal tersebut. Quraysh Shihab mengartikan pengertian sabar sebagai menahan diri atau membatasi hawa nafsu guna mencapai sesuatu yang baik atau lebih baik (mulia). Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah menjelaskan bahwa sabar berarti menjauhi kegelisahan, rasa takut, dan amarah. Untuk menahan diri dari mengeluh.

Menurut Ahmad Mubarok, kesabaran adalah keteguhan pikiran yang tidak mengeluh dalam menghadapi godaan dan perlawanan dalam jangka waktu tertentu guna mencapai suatu tujuan.

 Menurut ulama, ksabaran mempunyai beberapa pengertian, diantaranya:

  1. Tetap diam saat menghadapi musibah.
  2. Mengikuti aturan Alquran dan Sunnah.
  3. Saya tidak pernah mengeluh.
  4. Tidak ada bedanya antara suka dan duka, sekalipun keduanya mengandung bahaya.

Maka kesabaran adalah pengendalian diri untuk menunaikan berbagai kewajiban ketaatan, menjauhi larangan, dan menghadapi berbagai cobaan dengan rela pasrah. Ash-Shabur (Yang Paling Sabar) merupakan salah satu Asma’ul Husna Allah SWT, yaitu orang yang tidak terburu-buru dalam bertindak terlebih dahulu. Seorang mukmin yang sabar tidak akan berkeluh kesah dalam menghadapi segala kesusahan yang menimpanya, serta tidak akan menjadi lemah atau jatuh gara-gara musibah dan bencana yang menderanya. Allah Swt. telah mewasiatkan kesabaran kepada hambanya serta mengajari bahwa apapun yang menimpanya pada kehidupan dunia hanyalah merupakan cobaan dari-Nya supaya diketahui orang-orang yang bersabar. Kesabaran mengajari manusia ketekunan dalam bekerja serta mengerahkan kemampuan untuk merealisasikan tujuan-tujuan amaliah dan ilmiahnya. Sesungguhnya sebagian besar tujuan hidup manusia, baik di bidang kehidupan praksis misalnya sosial, ekonomi, dan politik maupun di bidang penelitian ilmiah, membutuhkan banyak waktu dan banyak kesungguhan. Oleh sebab itu, ketekunan dalam mencurahkan kesungguhan serta kesabaran dalam menghadapi kesulitan pekerjaan dan penelitian merupakan karakter penting untuk meraih kesuksesan dan mewujudkan tujuan-tujuan luhur.31 Sifat sabar dalam Islam menempati posisi yang istimewa. Al-Qur’an mengaitkan sifat sabar dengan bermacam-macam sifat mulia lainnya. Antara lain dikaitkan dengan keyakinan (Q.S. as-Sajdah [32]: 24), syukur (Q.S. Ibrahim [14]: 5), tawakkal (Q.S. an-Nahl [16]: 41-42) dan taqwa (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 15-17). Mengaitkan satu sifat dengan banyak sifat mulia lainnya menunjukkan betapa istimewanya sifat sabar. Karena sabar merupakan sifat mulia yang istimewa, tentu dengan sendirinya orangorang yang sabar juga menempati posisi yang istimewa. Misalnya, dalam menyebutkan orang-orang beriman yang akan mendapat surga dan keridhaan Allah Swt., orang-orang yang sabar ditempatkan dalam urutan pertama sebelum yang lain-lainnya. Sebagai makhluk yang memiliki kesadaran, manusia menyadari adanya problem yang mengganggu mentalnya, oleh karena itu sejarah manusia juga mencatat adanya upaya mengatasi problema tersebut. Upaya-upaya tersebut ada yang bersifat mistik yang irasional, ada juga yang bersifat rasional, konsepsional dan ilmiah. modern atau masyarakat yang mengikuti peradaban Barat yang sekular, solusi yang ditawarkan untuk mengatasi problem mental itu dilakukan dengan menggunakan pendekatan psikologi, dalam hal ini kesehatan mental. Sedangkan pada masyarakat Islam, karena mereka (kaum Muslimin) pada awal sejarahnya telah mengalami problem psikologis seperti yang dialami oleh masyarakat Barat, maka solusi yang ditawarkan lebih bersifat religius spiritual, yakni tasawuf atau akhlak. Keduanya menawarkan solusi bahwa manusia itu akan memperoleh kebahagiaan pada zaman apapun, jika hidupnya bermakna

Kesehatan mental seseorang berhubungan dengan kemampuan menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapi. Setiap manusia memiliki keinginan-keinginan tertentu, dan di antara mereka ada yang berhasil memperolehnya tanpa harus bekerja keras, ada yang memperolehnya setelah berjuang mati-matian, dan ada yang tidak berhasil menggapainya meskipun telah bekerja keras dan bersabar untuk menggapainya. Dari berbagai definisi tersebut, maka definisi dari Daradjat khususnya yang kelima lebih mencakup keseluruhan unsur-unsur kesehatan mental. Di samping itu, definisi tersebut memasukkan unsur agama yang sangat penting dan harus diupayakan penerapannya dalam kehidupan sejalan. dengan penerapan prinsip-prinsip kesehatan mental dan pengembangan hubungan baik dengan sesama manusia. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari gejala-gejala gangguan dan penyakit mental, dapat menyesuaikan diri, dapat memanfaatkan segala potensi dan bakat semaksimal mungkin, dan membawa kepada kebahagiaan bersama serta tercapainya keharmonisan dalam hidup. Di kalangan ahli kesehatan mental, istilah yang digunakan untuk menyebut kesehatan mental berbeda-beda, kriteria yang dibuat pun tidak sama secara tekstual, meskipun memiliki maksud yang sama. Dapat disebut di sini, Maslow menyebut kondisi optimum itu dengan self-actualization, Rogers menyebutnya dengan fully functioning, Allport memberi nama dengan mature personality, dan banyak yang menyebut dengan mental health. Semua pandapat pada dasarnya sama, jadi tidak perlu diperdebatkan, sebab berada dalam kerangka teorinya masing-masing. Pada bagian-berikut akan diuraikan berbagai pandangan tentang kriteria kesehatan mental itu satu persatu, dengan maksud dapat memberikan gambaran yang lebih luas tentang kondisi mental yang sehat.

Daftar Pusaka

Ahmad, Amrullah. Dakwah Islam dan Perubahan Sosial. Yogyakarta: Primaduta, 1983.

Al-Jauziyah Ibn Qayyim. Madarijus Salikin, Pendakian Menuju Allah: Penjabaran Konkret: Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in. terj. Kathur Suhardi. Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2003.

Bastaman, Hanna Djumhana. Integrasi Psikologi dengan Islam: Menuju Psikologi Islami. Yogyakarta: Yayasan Insan Kamil & Pustaka Pelajar, 2001Daradjad. Islam dan Kesehatan Mental. Jakarta: Gunung Agung, 1983

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *