Dalam kata hikmah dibawah ini, Ibnu Athaillah rahimahullah menerangkan bahwa sifat tamak (rakus) adalah bahaya yg paling besar pada jiwa manusia dan kejelekan yg dapat merusak ubudiahnya. Bahkan tamak merupakan sumber dari segala bahaya. Sebab tamak itu adalah murni hanya bersandar dan bergantung pada manusia serta mengabdi kepada manusia. Maka tidak ada kehinaan seperti tamak.

مَا بَسَقَتْ أَغْصَانُ ذُلٍّ إِلَّا عَلَى بَذْرِ طَمَعٍ

“Tidaklah tumbuh dahan-dahan kehinaan, kecuali dari benih ketamakan.” 

(Syekh Ahmad ibnu Muhammad Ibnu Atha’illah As-Sakandari Asy-Syadzili rahimahullah, 1260 – 1309 M Kairo, Mesir)

“Siapa yg tamak maka dia telah meremehkan dirinya. Siapa yg dapat keluar dari kesulitan, akan rela dalam kehinaan. Siapa yg dikuasai oleh lidahnya maka dirinya menjadi hina.”

(Dawuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu, 599 M, Ka’bah – 661 M, Masjid Agung Kufah)

Al-Hakim Abu al-Qasim Ishaq al-Samarqandi atau Abu Bakar Al-Warraq Al-Hakim rahimahullah (wafat 956 M), murid Imam Al-Maturidi rahimahullah (wafat 944 M), berkata:

Andaikan kerakusan (tamak) itu ditanya, siapa bapakmu?

Maka ia akan menjawab, “ragu pada takdir”. Kalau ia ditanya, apa kerjamu? Ia menjawab, ”mencari kehinaan”. Dan bila ditanya, tujuanmu apa ? Maka ia menjawab, “tidak mendapat apa-apa”.

Jadi, orang yg rakus timbulnya dari keraguan pada takdir. Kerjanya hanya mencari kehinaan. Ia mengikuti hawa nafsunya dan mengejar dunia sehingga ia hina di hadapan orang2 yg beriman dan di hadapan Allah. Namun pada akhirnya ia tidak mendapatkan apa2. Yang didapat hanyalah kerendahan dan kehinaan.

Abu Hasan Al-Warraq An-Naisaburi rahimahullah (wafat 1014 M) berkata: “Siapa yg merasakan pada dirinya cinta pada sesuatu dari dunia, maka ia dibunuh oleh pedang kerakusan. Siapa yg rakus ingin sesuatu, maka ia ditarik pada kehinaan. Dan dgn kehinaan itu ia binasa.”

Ibnu Athaillah rahimahullah pernah mendengar gurunya (Abul Abbas Al-Mursi radhiyallahu anhu) berkata, “Orang yg tamak selamanya tak pernah kenyang. Coba perhatikan semua hurufnya berlubang. Tho’ mim dan ain (طمع).”

Artinya orang yg tamak itu tak pernah merasa puas walau punya uang berapa saja ia akan terus merasa kurang. Walau dapat semilyar perhari tetap akan bocor (tidak puas). Berbeda dgn orang yg qanaah, maka ia akan merasa cukup dgn apa yg diberikan Allah.

Semoga bermanfaat

by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *