Imam Ghozali memulai Bab Ikhlash dengan menyebut bahwa ikhlash itu ada tiga rukun
- Hakikat ikhlash adalah نفي شوب عن النية “Menolak hal yang bikin ruwet satu niat baik”
- Ushul (pokok) letak ikhlash itu pada niat
- Kamal (kemuliaan) dari ikhlash adalah adanya shidq atau pembenaran
Jadi ikhlash itu tidak diukur dari penampakan lahir, tapi pada niat yang terucap di hati. Hati yang ikhlash berarti hati yang tidak ruwet dengan kompromi atau komisi.
Jadi inget, ada yang tanya bedanya ridho dan ikhlash?
Ridho berarti sebelum ada ridho, seseorang dihadapkan pada dilema pilihan iya atau tidak. Andai iya pun, iya-nya pakai pertimbangan dulu. Artinya masih melihat kekurangannya.
Misal ada cewek dilamar cowok yang udah dikenalnya lama. Karena kenal, si cewek tahu baik buruk cowok itu. Maka sebelum cewek menerima lamaran, si cewek mikir. Kalo keputusannya diterima, ini namanya ridho.
Maka dari itu, hubungan kita dan Gusti Allah itu ridho bir ridho. Artinya, sebelum kita ridho dengan takdir Gusti Allah, pasti kita ada dilema dan pergulatan. Sedangkan bagi Gusti Allah, sebelum meridhoi hamba-Nya, selalu ada pertimbangan.
Sedangkan ikhlash itu los tidak rewel. Di matanya tidak ada cacat sedikitpun, semua serba bagus dan serba cantik. Hal itu karena ada cinta, sehingga penerimaannya sepenuh hati.
Misal ada orang yang mencintai pekerjaannya, dia dengan riang gembira mengerjakan pekerjaannya hingga lupa segalanya, lupa waktu, lupa makan hingga lupa mandi. Bahkan saking cintanya, dia tidak ngurus soal pendapatan dari pekerjaannya. Baginya mengerjakan pekerjaan itu kayak tidak kerja, kerjaannya udah jadi hobby. Ini namanya ikhlash.
Ada cerita kehidupan Gus Dur yang baru-baru ini diceritakan oleh seorang teman. Bahwa di rumahnya di Ciganjur, dari sekian banyak tamu, ada seseorang yang tiap hari datang ke kediaman Gus Dur. Entah siapa itu, tapi tiap datang ke Ciganjur, orang itu selalu disangoni Gus Dur.
Satu hari, orang tersebut tidak datang. Gus Dur pun heran, padahal uang sangunya udah disiapkan. Karena gelisah dan kepikiran, maka Gus Dur meminta seorang untuk menghubungi tamu yang rutin datang tiap hari itu. Kalo perlu dijemput saja.
Ini menunjukkan bahwa bagi Gus Dur, sedekah itu hobby. Sehingga kalo hobbynya itu tidak tersalurkan, beliau gelisah. Dan beliau tidak memikirkan nanti dapat apa. Lha wong kadung hobby, artinya sangat mencintai amal itu. Di situlah tanda adanya niat yang ikhlash.
Karena ikhlas itu berhubungan dengan niat, maka sebelum mengulas ikhlash itu sendiri, Imam Ghozali membahas tentang niat.
Niat ini merupakan inti, core of the core dari sebuah amal. Diterima atau tidaknya satu amal, masuk neraka atau surga, dapat ridho atau laknat, yang ditinjau pertama kali adalah niat. Maka harus kita perhatikan betul-betul masalah niat ini.
Jadi suatu amal itu terjadi karena tiga unsur: kehendak, keinginan dan ilmu (pemahaman).
Suatu pengetahuan itu menimbulkan keinginan. Keinginan memacu untuk berkehendak. Kehendak ini yang mengantarkan tubuh untuk sampai yang diinginkan. Sehingga satu amal tidak akan terwujud bila tidak memenuhi 3 unsur di atas.
Misal kita di jalan lihat tahu gejrot. Kita tahu bahwa tahu gejrot itu enak. Maka timbul keinginan buat makan tahu gejrot. Keinginan itu memacu kita buat beli tahu gejrot lalu memakannya. Maka tubuh kita pun mengantarkan keinginan kita itu terwujud.
Kalo kita tidak mengerti bahwa tahu gejrot itu enak, tentu kita tidak punya selera.
Kalo kita ngerti bahwa tahu gejrot enak, tapi tidak punya keinginan makan, ya tidak bakal makan.
Kalo kita ngerti bahwa tahu gejrot enak dan punya selera tapi lagi mager (males gerak) untuk beli, makan tahu gejrot pun tidak terwujud.
Kalo keinginan yang berdasarkan pengetahuan itu terwujud dalam amal, maka itulah niat, seperti dawuh Imam Ghozali tentang niat
حقيقة النية هي الإرادة الباعثة للقدرة المنبعثة عن المعرفة
“Satu keinginan yang mengantarkan pada kewenangan untuk menggerakkan tubuh, di mana keinginan itu terpacu berdasarkan pemahamannya”
Gampangannya, niat itu keinginan yang sumbernya tingkat pemahamannya dan mesti beramal. Kalo keinginan tanpa amal dinamakan ‘azam atau angan-angan.
Misal pikirannya taunya cuma duit, niat amal apapun pasti berdasarkan duit. Kalo misal pikirannya ke akhirat, maka amal apapun ya demi akhirat.
Maka bisa juga niat disebut sebagai gambaran keinginan dan harapan yang tercetus dalam hati. Atau istilah kekinian disebut pola pikir. Jika pola pikir dalam hati itu bersih, tidak ada harapan selain akhirat, maka itulah ikhlas.
Ada yang bilang kalo niat amal untuk akhirat itu belum dibilang ikhlas, masih belum kaffah. Ada juga yang bilang niat amal mengharapkan surga itu haram. Harusnya niat amal hanya untuk Gusti Allah.
Ya gampang aja njawabnya, justru yang suka sok-sokan bilang gitu, itu hamba amatir. Lha wong Gusti Allah tidak butuh amal kita. Justru kesempatan ketemu Gusti Allah itu lebih besar kalo kita masuk surga. Kalo amal bukan ditujukan untuk hidup di surga, gimana lagi cara untuk ketemu Gusti Allah?
Gak ada salahnya orang beramal mengharapkan surga, karena surga itu lambang ridhonya Gusti Allah. Sedangkan neraka itu lambang laknat. Jadi, aneh kalo bilang amal demi surga itu haram, lha wong semua hamba berharap ridho Gusti Allah kok.
Sementara cita-cita buat ketemu Gusti Allah itu memang bagus banget. Tapi yang pasti, gak mungkin bisa ketemu Gusti Allah kalo masih di neraka. Belum nemu cerita ada jin atau manusia ngobrol akrab sama Gusti Allah pas disiksa di jurang neraka.
Menjaga Niat
Kita sering dengar anjuran untuk selalu menjaga niat baik dalam beramal. Tapi kita tidak tau caranya, sehingga lama-lama amal terasa garing dan niat baik cuma retorika. Biar amal kita tidak garing dan lebih bermakna, perlu kita ketahui hikmah satu amal agar niat baik selalu terjaga. Sehingga amal pun lebih bermakna.
Niat baik itu semua kecenderungan hati atau pola pikir seseorang untuk selalu menjadi baik, minimal kebaikan sejauh hikmah kebaikan yang dia pahami. Hikmah kebaikan itu biasanya mudah dipahami kemanfaatannya. Entah itu demi kebaikan di dunia, di akhirat atau ingin bertemu Gusti Allah.
Memang benar, kadang niat baik itu lama-lama akan menempel di hati kalau rutin beramal fisik. Tapi tanpa gerak batin, hal itu sangat susah diprediksi datangnya niat baik tersebut. Yang sering, rutinitas malah jadi biang kebosanan.
Selayaknya kita sakit perut, kalo kita cuma rutin minum obat, tanpa tahu khasiat dan dosisnya, lama-lama kita kurang manteb sama obat itu. Kemungkinan sembuh susah diprediksi. Beda kalo kita tau mana obat yang kandungannya tepat dan dosisnya sesuai. Jadi gak asal telan obat.
Nah, gerak batin dengan mencari tahu hikmah satu amal itu adalah cara yang lebih cepat dan lebih baik untuk menjaga niat baik daripada hanya sekedar mengandalkan amal fisik dan berharap satu hari niat baik itu akan datang sendiri.
Misal kalau orang nikah hanya biar bisa hohohihe versi halal dan berharap satu saat cinta bakal tumbuh, tentu beda dengan niat nikah dari awal tahu hikmah nikah cari hidup berkah. Yang satu berawal dari nafsu, ini susah diprediksi kebaikannya. Yang satunya dari awal niatnya akhirat yaitu cari berkah, ini mudah dipahami kebaikannya.
Nah, inilah makna asli dari dawuh Kanjeng Nabi Muhammad SAW
نية المؤمن خير من عمله
“Niatnya orang mukmin itu lebih bagus dari amalnya”
Hadits ini bukan bermakna orang mukmin itu cukup mbatin, tidak perlu beramal. Tapi maknanya adalah orang mukmin itu adalah orang yang bahkan sebelum beramal, sudah tau hikmah di balik amal. Sehingga niatnya pun otomatis lurus mengharap ridho Gusti Allah, walau amal fisiknya banyak kekurangannya.
Maka tidak salah, gerak batin untuk mencari hikmah tanpa amal fisik pun, udah bisa bikin niat baik menguat di hati. Sedangkan amal fisik tanpa dibarengi gerak batin untuk mencari hikmah, niat baik bakal ambyar dan gak akan meninggalkan niat baik sama sekali. Karena amal tanpa hadirnya qolbu hanya seperti debu, mudah terbang tak berbekas.
Mindset kita dalam beribadah dengan tujuan materialistik itu perlu dirubah. Karena kalau beribadah niat untuk material, artinya ada keterpaksaan dalam hati kita dan aslinya kita masih merasa gak butuh ibadah pada-Nya. Ini kesombongan yang hakiki. Padahal ibadah itu karena kita yang butuh pada Gusti Allah.
Gusti Allah dawuh dalam surat Al An’am 52
وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ
“Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sementara mereka menghendaki keridhoan-Nya”
Menurut Imam Ghozali, ayat ini mengandung hikmah tujuan niat, yaitu
إرادة وجهه تعالى
“Mengharap keridhoan Gusti Allah”
Mengharap ridho Gusti Allah itu berarti mengecilkan diri sendiri dan menyadari kelemahan dan kekurangan diri di hadapan Gusti Allah sebagai yang dimintai ridho. Lalu berharap ampunan dan belas kasihan pada-Nya.
Untuk memunculkan perasaan seperti itu, bisa dilatih dan harus dibiasakan.
Misal mau sholat. Sebelum niat, kita kudu bersihkan bayangan selain Gusti Allah. Karena, seperti yang udah dibahas di bab riya’, sekali niat tercampuri hal lain, maka ibadah itu tidak bersih dari syirik dan pada hakikatnya batal ibadah itu.
Caranya, di luar sholat, kita perdalam dan merenungi lagi ilmu tauhid yang telah kita pelajari melalui guru-guru kita, terutama tentang sifat-sifat Gusti Allah dan menilik segala ciptaan-Nya. Paling mudah, tauhid itu kita masukkan logika.
Sudah menjadi kaidah logika umum, bahwa sifat itu tidak pernah terpisah dari dzat (unsur). Misal kalo kita bilang “tembok”, maka di benak terbayang dzat tembok beserta sifatnya yang keras, lebar dan tinggi.
Begitu juga sifat-sifat Gusti Allah dan Dzat-Nya tidak berdiri sendiri-sendiri. Prinsip ini kita tanamkan dalam-dalam di hati kita. Bahwa segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, adalah karena sifat Qudroh Gusti Allah. Maka kalau ada sifat Qudroh Gusti Allah, bisa dipastikan ada wujud Dzat Gusti Allah berperan. Sehingga, dari situ kita bisa merasakan kehadiran-Nya di mana saja kita melihat.
Lalu kita bawa logika itu sebelum niat sholat, agar bersih niat kita. Sehingga seketika kita merasakan bahwa kita selalu di bawah pengawasan-Nya. Kalo hal itu bisa dirasakan, seketika kita merasa kecil, banyak salah dan lemah.
Saat perasaan kecil itu muncul, di situ kita niat sholat. Sehingga saat mengucap “Allahu Akbar”, mulut kita tidak berbohong. Kita benar-benar mengecilkan diri kita dan membesarkan Gusti Allah. Otomatis saat kita merasa kecil di hadapan Gusti Allah, dalam niat kita akan mengandung harapan mendapat ampunan, rahmat dan ridho-Nya.
Untuk awal-awal, mungkin kita akan kesusahan pas kita praktekkan hal ini dalam sholat. Makanya, kalo memang niat memperbaiki ibadah, kita usahakan saat adzan berkumandang, kita bergegas ambil wudhu dan sholat. Agar punya waktu cukup untuk mempraktekkan hal ini.
Bahkan kalau bisa, sholat di awal waktu tersebut jadi kebiasaan hingga mati. Seperti Imam Sufyan Ats Tsauri, yang punya kebiasaan datang ke masjid 5 menit lebih awal sebelum adzan. Alasannya sungkan kalo saat Gusti Allah memanggil kok kita belum datang.
Tapi intinya, kita harus yakin dulu kehadiran Gusti Allah di mana saja kita melihat, minimal secara logika. Dari situ kita akan merasa terdesak, butuh pertolongan-Nya lalu berusaha mencintai-Nya. Sehingga menuntun hati buat senang mencari ridho Gusti Allah.
Gak salah dawuh Syaikh Muhammad Mutawalli Asy Sya’roni Al Azhari
لا تعبدوه ليعطي بل أعبدوه ليرضي. فإذا رضى أدهشكم بعطائه
“Jangan kalian beribadah kepada Gusti Allah dengan niat agar Dia memberi kalian rejeki, namun niatlah ibadah kepada-Nya agar Dia meridhoi kalian. Sehingga saat ibadah bertujuan ridho-Nya, kalian akan terheran-heran sendiri dengan seluruh pemberian-Nya”

No responses yet