Ada seorang pelanggan Mawlikopi, seorang manajer yang selama kerja, dia lurus-lurus aja. Dia cerita satu hari kantornya ada proyek dan dia jadi pengawas. Setelah selesai proyek, tiba-tiba dia ditelpon kontraktornya bahwa dia habis kirim sejumlah duit ke rekening manager. Sebutannya duit gratifikasi, biasanya diberikan sebagai tanda terima kasih. Padahal si manager ini gak minta, lha wong memang gak kepikiran minta. Si manager pun mengiyakan aja, walau sebenernya bimbang halal haramnya.

Sepulang kantor, dia bawa mobil melaju ke jalan tol. Di tengah jalan, tiba-tiba di depan ada truk ngguling menghantam pembatas hingga pembatas itu terlempar ke jalan. Si manager gak sempet ngerem, walau sempet menghindar truk. Tapi mobilnya sempet menerjang pembatas sehingga ban depannya meletus. Untung aja gak kebalik. Tentu si manager ini syok berat. Tidak ada yg luka, cuma ban depan mobil kudu ganti.

Si manager merasa pasti ada yg salah dgn dirinya. Dia merasa duit yang dikirim kontraktor itulah yg bikin kualat. Seakan Gusti Allah memperingatkan “Kamu itu terbiasa baik di mata-Ku, gak usah ikut-ikutan gak baik”. Karena duit gratifikasi dari proyek tentu gak jelas halal haramnya. Besoknya dia kembalikan duit gratifikasi itu ke kantor.

Walau begitu, saya memuji sikapnya itu sebagai orang yang peka. Habis kena kecelakaan tadi, dia bisa merasa ada yang salah dengan dirinya di mata Tuhan. Dia sangat memperhatikan peringatan Gusti Allah yang halus dan samar itu. Padahal secara lahir, gak ada hubungan langsung antara gratifikasi yg diterima dgn kecelakaan yg menimpa.

Alhamdulillah juga, Gusti Allah berkenan memberi peringatan langsung pada si manager, dengan sifat Af’al-Nya. Tanda si manager punya keistimewaan tersendiri di sisi Gusti Allah. Andai gak punya keistimewaan, tentu si manager dibiarkan saja makan barang syubhat dan kena istidroj.

Nah, cerita si manager ini menjadi gambaran singkat bahwa Gusti Allah ini memang benar-benar Maha Adil, Maha Bijak dan Maha Baik dalam setiap keputusan-Nya. Kalo kita bisa sejenak menurunkan tensi keinginan, kita bisa melihat jelas hal itu.

Imam Ghozali dawuh

“Sesungguhnya Gusti Allah saja yang bisa memuliakan makhluk, orang yang lemah dan orang yang kesasar”

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *