Ngomong2 ruh, jadi inget ayat

وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا 

“Gusti Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka seraya berfirman: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul, Engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi” (Al A’roof 172)

Dalam Lathoifut Thoharoh Wa Asrorus Sholat, Mbah Sholeh Darat Semarang menceritakan bahwa semua ruh dari Nabi Adam hingga hari kiamat, dalam alam mitsaq (alam perjanjian) sebelum ditiupkan ke tubuh manusia, diambil sumpahnya oleh Gusti Allah dengan pertanyaan “Bukankah Aku Tuhanmu?”. Semua ruh pun menjawab “Ya, Engkau memang Tuhan kami”.

Di saat itu, semua ruh berbaris menjadi 4 shof. Shof satu berisi para Rosul, para Nabi dan Khowashul Auliya’ yang punya iman secara mu’ayanah, karena memandang langsung Wajah Gusti Allah. Shof kedua berisi para ulama dan awamul auliya’ yang iman secara musyahadah, karena makrifat mereka terhadap Kitabullah. Shof ketiga berisi awamul mukminin dan muslimin yg beriman secara ilmu, karena mendengar keterangan dari ulama. Sedang shof keempat berisi orang kafir dan munafik yang sama sekali gak mau mendengar ketetapan Gusti Allah.

Dan dunia, arwah-arwah tersebut, dari lahir hingga matinya, menetapi keadaan yang sesuai di shof mana dia berdiri di alam mitsaq tadi. Yang shof pertama di dunia jadi Nabi, shof kedua di dunia jadi ulama, shof ketiga di dunia jadi muslim awam, shof keempat jadi orang kafir. Artinya, kehidupan di dunia ini udah disetting demikian dari sejak di alam arwah sebelum alam dunia.

Masalahnya, kita sendiri gak tau dulu ada di shof berapa. Kalo shof pertama kemungkinan maksimal jadi wali quthub karena jadi Nabi udah gak mungkin. Mungkin juga dulu kita di shof kedua, ketiga atau paling sial di shof keempat. Kita gak pernah tau.

Untuk mengetahuinya, kita kudu beramal sholeh semaksimal mungkin. Menetapi syariat dan sunnatullah, artinya kita wajib mengikuti qodarullah (ketetapan Gusti Allah) semaksimal mungkin semampu akal dan fisik kita. Usaha ini pun kudu kita lakukan hingga ajal menjemput kita, baru kita tau maqom kita sebenarnya di sisi Gusti Allah. Seperti yang diisyaratkan Gusti Allah

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)”

Karena setelah datang ajal, baru tersingkap semua rahasia.

Tapi menurut Imam Sahal At Tustary, tanda orang celaka atau tidak itu bisa juga diketahui saat masih hidup. Yaitu dari sejauh mana orang itu menerima qudroh dari Gusti Allah. Artinya, balik lagi sejauh mana dia berusaha mati-matian memenuhi syariat dan sunnatullah yang dibebankan padanya.

Jadi, misal digempur himpitan rasa males, kita jangan pernah lelah buat ngaji, sholat, sedekah dan melakukan berbagai amal baik yg bermanfaat bagi orang lain, mbah. Justru orang yang nekat beramal baik di tengah himpitan itu bakal dicintai Gusti Allah.

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Yaitu orang-orang yang menafkahkan harta jiwanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (Ali Imron 134)

Jadi gak cukup jadi hasan (baik) untuk bisa dicintai Gusti Allah, namun kudu muhsin. Dikatakan muhsin, menurut ulama, bila kebaikannya bermanfaat bagi orang lain. Bermanfaat bagi orang lain artinya harus menempuh berbagai kesulitan, termasuk kemalasan diri sendiri dan nyinyiran orang lain. Semoga kita diberi pertolongan untuk berbuat baik

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *