Oleh: Mita Ulfia Fauziah mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Jakarta
Mungkin bagi sebagian orang kata “manuskrip” ini belum familiar didengar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) manuskrip yaitu naskah tulis tangan yang menjadi kajian filologi.
Jadi, manuskrip adalah tulisan tangan orang zaman dahulu, yang ditulis di kertas eropa, daun dluwang, bambu, rotan, dan lain sebagainya. Isi kandungan dalam manuskrip pun sangatlah beragam, mulai dari filsafat, keagamaan, hukum.
Bahkan bencana alam yang pernah terjadi di zaman dahulu pun ada bahasannya di dalam manuskrip. Selain itu, manuskrip juga memiliki unsur keindahan didalamnya, baik itu dari segi isi maupun dari segi bentuk manuskrip sendiri.
Tentunya manuskrip juga memiliki ciri khas tertentu, adapun ilmu yang mengkaji bidang manuskrip ini yaitu filologi. Lalu apa itu filologi? Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia filologi adalah ilmu tentang bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan tertulis.
Kebudayaan bangsa
Hal ini menunjukkan bahwa manuskrip itu bagian dari warisan bangsa, yang memiliki kekayaan di dalamnya. Untuk itu perlunya melakukan penyelamatan dan pelestarian manuskrip karena banyak manuskrip yang diperjualbelikan. Kemudian, jika ada bencana alam maka bisa saja manuskrip itu menjadi hilang.
Bagaimana cara mendapatkan manuskrip?
Cara mendapat manuskrip tentunya dapat dilakukan secara online atau pun dapat juga mencari secara langsung ke lapangan. Banyak sekali situs online atau lembaga yang menyediakan manuskrip digital.
Seperti pada situs proyek SOAS Digital Collection of University London, pada situs ini banyak sekali manuskrip yang dapat dikaji. Dalam Digital Collection of University London, terdapat manuskrip-manuskrip yang berasal dari nusantara maupun dari berbagai negara lainnya.
Seperti Hikayat Abu Samah yang terdapat di situs tersebut, dengan link http://digital.soas.ac.uk/AA00000485/00002 . Kode naskah tersebut yaitu MS 25027/2, sumber naskah ini berasal dari Asia – Malaysia, dan Asia – Indonesia – Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
Hikayat Abu Samah
Dalam SOAS Digital Collection “Hikayat Abu Samah” terdapat dua jenis, hikayat pertama memiliki jumlah halaman sebanyak 30 halaman termasuk cover. Begitu pun dengan hikayat kedua, memiliki jumlah halaman sebanyak 59 sudah termasuk kedalam cover, kedua naskah tersebut berjenis buku.
Namun, naskah yang akan diulas yaitu naskah Hikayat Abu Samah jenis pertama dengan jumlah halaman sebanyak 30. Bentuk dari naskah pertama Hikayat Abu Samah, memiliki cover pada bagian depan, dengan warna hijau dan hitam yang sudah pudar.
Akan tetapi, dari 38 halaman tersebut, terdapat beberapa halaman yang tidak terdapat isi atau tulisannya. Hikayat tersebut ditulis dengan aksara Arab Pegon, serta bahasa yang digunakan yaitu bahasa Melayu.
Adapun tinta yang digunakan dalam menulis manuskrip tersebut yaitu tinta berwarna hitam dan merah. Kertas yang digunakan oleh hikayat tersbeut berjenis kertas eropa berwarna kuning. Ukuran naskah tersebut yaitu 21 × 15,5 cm dan pada halaman terakhir bertuliskan tamat.
Cerita Hikayat Abu Samah
Hikayat Abu Samah ini menceritakan anak kedua Umar Bin Khotob yang melakukan zina dengan seorang anak Yahudi. Umar Bin Khotob merupakah salah salah satu khalifah yang memiliki sikap yang tegas. Umar bin Khotob memiliki dua orang anak laki-laki yang bernama Abdullah dan Abu samah.
Anak kedua Umar bin Khotob ini memiliki perilaku yang baik dan ketika membaca alqur’an pun memiliki suara yang merdu. Pada suatu hari, Abu Samah pergi ke Madinah untuk berperang. Akan tetapi, pada suatu ketika Abu Samah terserang sakit kepala dan demam selama beberapa hari.
Kemudian, Abu Samah meminta izin kepada ayahandanya untuk pergi sekedar bermain-main. Dia pun mendatangi seorang rumah Yahudi, seorang Yahudi itu menawarkan obat kepada Abu Samah yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakitnya itu. Abu Samah pun meminum obat pemberian Yahudi tersebut.
Sebetulnya minuman tersebut bukanlah obat, melainkan arak yang berarti minuman keras. Ternyata Yahudi tersebut telah berbohong sehingga membuat Abu Samah menjadi mabuk. Selanjutnya, dalam kondisi yang tidak sadar Abu Samah melakukan perzinahan dengan anak perempuan Yahudi tersebut.
Kemudian, Abu Samah pun dipecut oleh ayahandanya sesuai dengan hukum Allah Ta’ala. Anak perempuan Yahudi itu pun melahirkan seorang anak laki-laki yang mirip dengan Abu Samah.
Lalu apa keunikan dari Hikayat Abu Samah?
Keunikan dari Hikayat Abu Samah terletak pada warna tinta yang digunakan dalam menulis manuskrip. Penggunaan tinta berwarna merah itu digunakan saat menulis nama Baginda Rasulullah SAW, sahabat Nabi Muhammad SAW.
Selain itu, digunakan pada tulisan salam, Bismillah, malaikat, syahdan, dan kutipan ayat suci Alqur’an. Keunikan lainnya yaitu pada awal cerita atau pendahuluan, dibuka dengan membaca basmallah dan dilanjutkan dengan muqadimah.
Dalam hikayat tersebut juga terdapat kutipan ayat suci Alqur’an yang menjelaskan tentang perkara zina yaitu surat Al-Isra ayat 32.
Referensi:
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V luring
https://alif.id/read/akalsum/hikayat-abu-sama-sebuah-naskah-melayu-populer-b23263p/ .

No responses yet