oleh: Arivaie Rahman (Anggota ISNU Indragiri Hilir)
KH. Bustani Qadri atau masyarakat Indragiri Hilir akrab memanggilnya dengan sebutan “Pak Wan” merupakan anak kedua dari pasangan H. Qadri (keturunan Banjar Amuntai) dan Hj. Ruqayah binti Ibrahim. Kakaknya bernama Hj. Sempurna atau Siti Rahmah, bersuami dengan H. Marwi bin H. Adul. Ayah KH. Bustani Qadri meninggal dunia di Mekah al-Mukarramah ketika beliau masih anak-anak.
KH. Bustani Qadri lahir di Sapat, Kuala Indragiri pada tahun 1921. Sejak kecil beliau telah memperoleh didikan dari keluarganya yang agamis. Sekitar tahun 1928 atau ketika KH. Bustani berusia kurang lebih 7 tahun, ia beserta keluarganya berangkat menunaikan ibadah haji di Mekah. Di Makah inilah pada salah satu malam di bulan Ramadhan beliau terbangun dan menyaksikan sendiri cahaya terang benderang di langit Mekah, padahal waktu itu masih minim penerangan. Keesokan harinya beliau yang masih anak-anak itu bercerita kepada orang tuanya, tentang peristiwa tersebut.
Orang tua beliau menduga bahwa itulah salah satu tanda malam Lailatul Qadar dan anaknya telah menyaksikan peristiwa yang istimewa itu. Orang tuanya bertanya, apakah ia ada berdoa meminta sesuatu? Ia menjawab dengan polos, tidak ada. Kendati demikian, tampaknya keistimewaan malam tersebut hanya diberikan kepada hamba-hamba pilihan, hingga akhirnya beliau menjadi Kyai terkenal dan memiliki banyak murid di Indragiri Hilir.
Di Mekah ini KH. Bustani Qadri sempat mengenyam pendidikan formal di Madrasah Dar al-Ulum al-Diniyah. Sebuah institusi Pendidikan yang pernah dipimpin oleh Musnid al-Dunya (ahli sanad dunia) Syekh Yasin bin Isa al-Fadani (w. 1990). Menurut ketarangan Darsani (menantu KH. Bustani Qadri), bahwa mertuanya ini tidak sempat tamat di Dar al-Ulum, tetapi hanya sampai kelas empat, kemudian pulang ke Singapura dan ke Sapat Indragiri. Ia menuturkan pula, meski demikian ilmunya sudah cukup luar biasa bahkan sampai menjadi tokoh ulama di Indragiri Hilir.
KH. Bustani Qadri memang memiliki kecerdasan dan daya ingat yang mengagumkan. Ketika berusia 13 tahun ia telah hafal al-Qur’an 30 Juz. Selain itu, kemerduan suara dan kefasihannya membaca al-Qur’an tetap terjaga dan tidak berubah hingga usia lanjut. Ia diberi kepercayaan menjadi imam besar di masjid Agung al-Huda Tembilahan hingga beliau wafat.
Sekitar tahun 1941-an atau ketika berusia 20-an, KH. Bustani pulang ke Sapat melalui Singapura. Di Sangapura ini beliau sempat singgah di rumah salah seorang keluarganya. Begitu pula ketika telah kembali ke Sapat. KH. Bustani kerap berlayar pulang pergi ke Singapura ini.
Di tahun 1943 beliau menikah dengan Hj. Fatimah dan dikaruniai enam orang anak: Faridah, Anwar, Azizah, Ferrial, Nurlaili, dan Ahmad Riva’at. KH. Bustani juga dianugrahi 27 orang cucu, dan 11 orang cicit. Di antara keturunannya yang menjadi tokoh agama di Indragiri Hilir dan melanjutkan perjuangannya adalah Ustadz H. Ahmad Riva’at, Ustadz H. Ahmad Rivani, dan Ustadz H. Ahmad Khusyairi.
Semasa hidup, KH. Bustani sangat menitik beratkan pada Pendidikan al-Qur’an. Ia pernah menjadi pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Indragiri Hilir, ketua Yayasan MDA, TPA, dan TPQ al-Nur atau al-Hadar Tembilahan. Ia juga sering menjadi dewan hakim Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Kabupaten, Provinsi, Nasional, bahkan pernah membimbing muridnya Hj. Nuraini AS ditingkat Asia Tenggara.
Di antara murid-murid beliau yang lain adalah HM. Rusli Zainal (mantan Gubernur Riau), H. Tarmizi Ahmad, S.Ag (Tembilahan), Sumiati, Hj. Musdalifah, Hasyim Ja’far (Pelangiran), Saiho (Rumbai), Armizi (Tempuling), Khairiyah Alamin, Rosmiati (Qur’an Centre Batam), dan Ridwan Busra (Tanjung Pinang).
Selain aktif di bidang al-Qur’an, KH. Bustani Qadri juga terlibat dalam kepengurusan Nahdlatul Ulama (NU) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Indragiri Hilir. Ia juga mengisi pengajian di bidang Tauhid, Fiqh, dan Tasawuf, tetapi yang paling terkenal memang di bidang seni baca al-Qur’an. KH. Bustani Qadri juga merupakan ulama yang produktif menulis, setidaknya ada tiga karya beliau yang popular di masyarakat:
Pertama, kitab Peraturan Bertahlil. Karya ini selesai beliau tulis pada tanggal 11 Dzu al-Hijjah 1407 H (6 Agustus 1987). Peraturan Bertahlil ini ditulis dalam 10 halaman dengan menggunakan aksara Melayu-Jawi. Isi dari karya ini adalah panduan bacaan tahlilan yang biasa dirapalkan pada acara syukuran, yasinan, aqiqah, pernikahan, khitanan, dan pada peristiwa kematian serta rentetan hari-hari tertentu pasca pemakaman yang disebut sebagai “bearwah” dan “behaul”.
Paraturan bertahlil ini diawali dengan bertawasul kepada Nabi Muhammad Saw seraya membaca al-Fatihah, membaca surah al-Ikhlas 3 kali, al-Falaq 1 kali, al-Nas 1 kali, sambal diselingi dengan kalimah “lailaha illallah huwa Allahu akbar”. Kemudian membaca surah al-Baqarah, ayat 1-7, ayat 163, ayat kursi 225, dan penutup al-Baqarah, ayat 284-286.Kemudian, membaca “ya arhama al-rahimin irhamna 3 kali”, membaca potongan surah Hud [11]: 73, surah al-Ahzab [33]: 33 dan 56. Kemudian membaca shalawat yang telah beliau susun secara khusus dan sedikit diiramakan.
Setelah itu, membaca istighfar dan hauqalah, kemudian bertahlil “Lailahaillallah” 33 atau 100 kali. Setelah selesai berumembaca shalawat, tasbih “subhanallah wabihamdihi” sebanyak 10 atau 33 kali. Kemudian membaca shalawat dan ditutup surah al-Fatihah. Selanjutnya diakhiri dengan membacakan doa arwah yang telah disusun oleh KH. Bustani Qadri secara khusus. Untuk memudahkan pemimpin tahlil, beliau juga menuliskan perubahan dhamir (kata ganti) pada halaman belakang karya ini. Karya ini telah diterbitkan kembali tahun 2005 oleh H. Ahmad Rivaat selaku ahli waris.
Kedua,kitab Istighasah. Karya ini merupakan panduan doa bersama yang biasa dibaca pada event Gema 1 Muharram (pergantian tahun baru Hijriah) dan peringatan Milad kabupaten Indragiri Hilir. Karya ini selalu diperbanyak oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Indragiri Hilir. Di dalamya berisi pembacaan al-Fatihah, istighfar, hauqalah, shalawat, asma al-husna, pembacaan surah Yasin, dan doa-doa yang disusun oleh KH. Bustani Qadri. Teks Istighasah yang paling awal penulis miliki bertahun 2004 diperbanyak masih dalam bentuk tulisan tangan yang difotocopy.
Ketiga, kitab Tajhiz al-Shalah. Kitab ini berisi tentang rukun-rukun shalat yang tidak berulang, rukun-rukun shalat yang berulang, jumlah rukun shalat pada masing-masing shalat fardhu, jumlah takbir dalam shalat sehari semalam, jumlah tasyahudnya, jumlah tasbihnya. Selain itu ditambah pula dengan keterangan sunnah Ab’adh dalam shalat, sunnah Hai’at dalam shalat, bacaan sujud sahwi, dan terakhir penyebab dilaksanakannya sujud sahwi. Dahulu kitab Tajhiz al-Shalah ini ditulis dalam aksara Melayu-Jawi, tetapi sekarang telah diterbitkan kembali oleh Pondok Pesantren al-Baqiyatussa’diyah Tembilahan menggunakan aksara Latin.
Menuru keterangan Darma (Cucu KH. Bustani Qadri), bahwa kakeknya ini juga pernah menulis kitab tentang Qir’at Sab’ah dan Fashahah, tetapi sampai saat ini masih belum terdokumentasi. Ia menurutkan pula, kakeknya ini pernah menulis kitab berbahasa Arab, tetapi belum sampai selesai. Saat ini kitab tersebut berada di tangan Ustadz Dr. Masyhuri Putera, seorang Dosen UIN Sultan Syarif Kasim Riau yang merupakan menantu dari Hj. Azizah binti KH. Bustani Qadri. Beliau berniat untuk melanjutkan dan menyelesaikan karya tersebut.
KH. Bustani Qadri wafat pada usia 82 tahun. Beliau menghembuskan nafas terakhir di Sorek dalam perjalanan pulang menujur Tembilahan, setelah menjalani pengobatan di salah satu rumah Sakit di Pekanbaru. Tepatnya pada hari Jum’at 8 Agustus 2003 (9 Jumad al-Akhir 1424 H). Jenazah beliau dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga di Jl. Gerilya, Gg. Berkah, Parit 5, Tembilahan Hulu.
Sumber:
Arivaie Rahman, KH. Bustani Qadri dan Usaha Melanggengkan Tradisi Tahlilan, 25 September 2019.
KH. Bustani Qadri, Istighasah: Bacaan dan Doa Bersama, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Indragiri Hilir, 2004.
KH. Bustani Qadri, Panduan dan Tata Cara Tahlil, (ed). Ahmad Rivaat, 2005.
KH. Bustani Qadri, Tajhiz al-Shalah, Pondok Pesantren al-Baqiyatussa’diyah Tembilahan.
Wawancara dangan Darma (cucu KH. Bustani Qadri, kelahiran 1975), 24 Januari 2021.
Wawancara dengan Darsani (menantu KH. Bustani Qadri, kelahiran 1935-an), 24 Januari 2021.
Wawancara dengan Faridah (Anak KH. Bustani Qadri, kelahiran 1945-an), 24 Januari 2021.


No responses yet