Oleh: Androw Dzulfikar
Suatu ketika, Kiai Abdullah Ubaid mengunjungi kediaman Kiai Wahid Hasyim. Kiai Ubaid ditemani salah seorang putranya yang waktu itu berusia kira-kira 3 hinggga 4 tahun.
Setelah beberapa lama bercengkerama, tiga cangkir teh pun muncul dari dalam rumah. Satu untuk Kiai Ubaid, satu untuk putranya, dan satu lagi untuk sahibul bait sendiri.
Di tengah pembicaraan kedua karib tersebut, putra Kiai Ubaid meminta ayahnya untuk mengambilkan teh yang ada di atas meja. Cengkerama Kiai Ubaid dengan Kiai Wahid pun terskors untuk sementara. Kiai Ubaid mengalihkan perhatiannya sejenak kepada putranya, tetapi bukan untuk meladeni permintaan putranya itu, melainkan memintanya untuk mengambil sendiri tehnya karena minuman tersebut memang berada tepat di depannya.
Sang putra masih meminta ayahnya untuk mengambilkan teh tersebut dengan alasan takut cangkirnya jatuh. Mendengar itu, Kiai Ubaid tidak langsung menuruti permintaan putranya, tetapi mengatakan kepadanya bahwa jika memegangnya hati-hati, insyaallah tidak akan jatuh.
Putra Kiai Ubaid menawar lagi dengan alasan tehnya panas. Kembali, Kiai Ubaid menenangkan hati putranya agar bersabar barang sebentar, menunggu tehnya tak panas lagi. Dan akhirnya, sang putra yang masih balita itu pun benar-benar menunggu tehnya hangat, dan mengambilnya sendiri tanpa bantuan ayahnya.
Kiai Wahid tersenyum demi menyaksikan “negosiasi” antara ayah dengan putranya itu. Peristiwa yang kelihatannya sepele ini begitu membekas, hingga beliau ceritakan kepada kader sekaligus sahabatnya, Kiai Saifuddin Zuhri.
Kisah antara Kiai Ubaid dengan putranya itu, sebagaimana dikemukakan Kiai Saifuddin dalam Guruku Orang-Orang dari Pesantren, merupakan contoh yang baik tentang pendidikan karakter anak. Bagi Kiai Wahid, Kiai Ubaid adalah ayah yang pandai mendidik anak.
Pertama, alih-alih menuruti begitu saja permintaan putranya, Kiai Ubaid memberikan memotivasi agar putranya tersebut mau untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, dengan memberikan segenap solusi.
Kedua, Kiai Ubaid menanamkan rasa percaya diri kepada putranya, bahwa ia mampu mengambil tehnya sendiri tanpa kawatir menjatuhkan gelas, asalkan dengan hati-hati.
Karakter ketiga yang ditanamkan adalah sikap sabar. Bersabar untuk menunggu tehnya tidak lagi panas. Di samping itu juga bersabar menjaga etika seorang tamu yang kurang pantas menuangkan teh panas ke atas piring hanya karena agar segera dingin.
Begitulah. Sebuah peristiwa yang kelihatannya biasa dan sepele, namun bagi Kiai Wahid dan Kiai Saifuddin—yang mana keduanya memang sosok pendidik cum pemimpin yang hebat—merupakan contoh yang sangat apik tentang bagaimana mendidik anak.

No responses yet