Prof. Dr. (HC) KH. Ma’ruf Amin merupakan salah satu ulama yang cukup akrab bagi masyarakat Muslim Indonesia. Beliau adalah seorang ulama yang kerap menjadi rujukan penyelesaian berbagai masalah agama yang sedang hangat dibicarakan. Beliau dikenal sebagai ulama mulitalenta, sebagai Pengasuh Pesantren, Ekonom, Politikus dan Pemimpin Umat

KH. Ma`ruf Amin dilahirkan pada 11 Maret 1943 di Desa Kresek, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang. Ayahnya bernama KH. Mohamad Amin, seorang ulama besar di wilayah Barat Tangerang yang muridnya tersebar dipenjuru Banten.

Keturunan  Syekh Nawawi al-Bantani

KH. Ma`ruf Amin masih memiliki kaitan kekerabatan dengan Syekh Abu Abdullah al-Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar al-Tanari al-Bantani al-Jawi atau yang dikenal dengan Syeikh Nawawi Al-Bantani. 

Syeikh Nawawi Al-Bantani merupakan mahaguru ulama-ulama besar tanah air, ulama masyhur dunia yang fatwanya menjadi rujukan muslim sedunia hingga hari ini. Kitab-kitab karangannya dipakai pesantren dari Timur Tengah, Afrika hingga Nusantara, dan beliau adalah sosok ulama Nusantara yang pernah menjadi Imam Besar Masjidil Haram

Syeikh Nawawi ulama yang telah mengharumkan bangsa dalam khasanah Islam dunia. Beliau termasuk dalam kategori salah satu ulama besar di abad ke 14 H/19 M. Karena kemasyhurannya beliau Syeikh Nawawi bahkan mendapat gelar: Imam Nawawi Tsani, Sayyid Ulama Al-Hijaz, Al-Imam Al-Muhaqqiq wal Fahhamah Am-Mudaqqiq, A’yan Ulama Al-Qarn Al-Ram Asyar lil Hijrah, Imam Ulama’ Al-Haramain.

Tingginya gairah intelektual di Makkah, khususnya mengenai terhormatnya posisi intelektual Syekh Nawawi, juga terekam dalam catatan orientalis Belanda Snouck Hurgronje. Dia menyebut Nawawi orang yang paling alim dan rendah hati dari nusantara. Karena kecerdasannya yang luar biasa, pemerintahan kekhalifahan Turki Usmani memperbolehkan beliau mengajar dan menjadi imam Masjidil Haram

Murid Syeikh Nawawi banyak yang menjadi ulama kenamaan dan tokoh-tokoh nasional Islam Indonesia, diantaranya adalah: Syekh Kholil Bangkalan, Madura, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Asy’ari dari Bawean, KH. Tubagus Muhammad Asnawi dari Caringin Labuan, Pandeglang Banten, KH. Tubagus Bakri dari Sempur-Purwakarta, KH. Abdul Karim dari Banten.

Tidak kurang dari lima puluh kitab yang dia tulis, 22 kitab masih beredar, dan 11 kitabnya termasuk 100 kitab yang paling banyak digunakan di pesantren. Kitab tersusun dikarangnya dengan berbahasa arab dari berbagai disiplin ilmu, seperti tauhid, ilmu kalam, sejarah, syari’ah, tafsir, dan lainnya. Di antara buku yang ditulisnya dan mu’tabar (diakui secara luas) adalah Tafsir Marah Labid (Tafsir Al-Munir),

Atsimar al-Yaniah fi Ar-Riyadah al-Badiah, Nurazh Sullam, al-Futuhat al-Madaniyah,  Tanqih Al-Qoul, Fath Majid, Sullam Munajah, Nihayah Zein, Salalim Al-Fudhala, Bidayah Al-Hidayah, Al-Ibriz Al-Daani, Bugyah Al-Awwam, Futuhus Samad, dan al-Aqdhu Tsamin.

KH Ma’ruf Amin adalah keturunan ke 15 dari kesultanan Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, Cirebon). Nasab beliau bersambung dengan Syekh Nawawi al-Bantani bersambung pada Sultan Maulana Hasanuddin. Syekh Nawawi adalah putra Syekh Umar bin ‘Arobi bin ‘Ali bin Jamad bin Janta bin Masbugel bin Maskun bin Masnun bin Maswi bin Sulthon Sunyararas Tajul’arsy bin Sulthon Maulana Hasanuddin.

Dalam Silsilah Masyayikh Pesantren  An-Nawawi Tanara KH. Ma’ruf Amin adalah keturunan Rasulullah ke-39. Dan berikut urutan nasab lengkapnya KH. Ma’ruf Amin bin Kyai Muhammad Amin bin Kyai Abdullah bin Nyai Kati bin Nyai Ratu Kanisah binti Syekh Alim bin Kyai Abdullah bin Kyai Ibrahim bin Syekh Hasan Bashri bin Raden Mahmud bin Pangeran Arya Banten (Raden Saleh) bin Sulthan Abul Mufakhir bin Sulthan Maulana Muhammad Nashruddin bin Sulthan Maulana Yusuf bin Sulthan Maulana Hasanuddin bin Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati. 

Sunan Gunung Jati adalah putra dari Syarif Abdullah dan Nyai Rarasantang binti Prabu Siliwangi (Raja Pajajaran). Ayah Sunan Gunung Jati adalah raja di Mesir yang merupakan putra dari Syarif Abdullah Umdatudin bin Syekh Ali Nurul Alm bin Jamaluddin Akbar al-Husaini bin Ahmad Jalaluddin bin Abdullah Azmatkhan bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Amil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khalil Qasim bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubadillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa Al-Bashri bin Muhammad Naqib bin Ali Uraidh bin Ja’far Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Imam Husein bin Sayyidatina Fatimah bin Rasulullah.

Syekh Nawawi Al-Bantani wafat pada tahun 1983. Beliau dimakamkan di Pemakaman Ma’la, Makkah al-Mukarromah. Kelak pada tahun 2001, KH. Ma`ruf Amin mendirikan Pesantren untuk melanjutkan perjuangan Syeikh Nawawi Al-Bantani yang dinamakan Pondok Pesantren An-Nawawi, yang berlokasi di Kampung Kamuludan Desa Tanara, Kecamatan Tanara, Serang, Banten.

Pendidikan KH. Ma’ruf Amin

Pendidikan di masa kecilnya, Kyai Ma`ruf jalani di Desa Kresek, Tangerang. Pagi Sekolah di SD, sorenya mengaji ke Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada tahun 1955. Semasa pendidikan dasar, Ma`ruf juga sempat mondok selama enam bulan di Pesantren Citangkil, Silegon, Banten. Pesantren yang didirikan oleh KH. Syam`un Alwiah (1894-1949) menjadi Pesantren generasi pertama yang alumnusnya banyak melanjutkan pendidikan ke Al-Azhar, Mesir. Salah-satunya adalah Prof. Dr. KH. Wahab Afif mantan Ketua MUI Banten 2001-2011 sekaligus mantan Dekan Fakultas Syariah IAIN Banten 1979-1985.

Saat berusia 12 tahun (1955), selepas pendidikan dasar dari Pesantren Citangkil, Kyai Ma`ruf merantau ke Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. Kecenderungan anak muda di kampung Kyai Ma`ruf memang melanjutkan belajar ke Pesantren di Jawa Timur. Sebagian besar ke Tebu Ireng, sebagiannya lagi ke Pondok Modern Darussalam, Gontor.

Kyai Amin, sang ayah kemudian memintanya untuk nyantri di Tebuireng. Alasan utamanya adalah bahwa KH. Hasyim Asy’ari (salah satu pendiri NU) adalah murid Syiekh Nawawi Al-Bantani, ulama terkemuka asal Banten, yang menghabiskan banyak waktu mengajar di Makkah. 

Di Tebuireng, Kyai Ma`ruf kecil memulai pendidikan dari jenjang dasar, Madrasah Ibtidaiyah, pada kelas akhir, salah satu kesan pertama saat mondok adalah ketika Ma`ruf yang bertubuh kecil harus memanggul Kitab Iqna` yang tebal.

Kyai Ma`ruf kecil mulai nyantri di Jombang tepat pada tahun politik, menjelang Pemilu pertama, 29 September 1955. Meski jombang menjadi sentra para tokoh politik pendiri NU, Kyai Ma’ruf merasa tidak mendapat indoktrinasi poliitik tertentu. Saat itu, Tebuireng dibawah pengasuh KH. Abdul Kholiq Hasyim (1916-1965), putra keenam KH. Hasyim Asy’ari. Saat itu, Kiyai Kholiq sempat melarang aktivitas politik di Pesantren. Pondok hanya untuk ibadah dan mengaji.

Sepulang Dari Tebu Ireng pada tahun 1961. Kyai Ma`ruf Amin pernah masuk SMA Muhamadiyyah di Jakarta. Ia ingin belajar pengetahuan umum. Tapi akhirnya tidak diselesaikan. Ia kemudian mondok lagi ke beberapa pesantren di Banten. Dalam waktu singkat-singkat. Antara lain, Pesantren Caringin, Labuan, Pesantren Petir, Serang, dan Pesantren Pelamunan, Serang.

*Menikah dan Kuliah*

Usai berkeliling kebeberapa pesantren, Kiyai Ma`ruf Amin menikah dengan Hj. Siti Huriyah, keduanya masih ada hubungan kerabat, dan sama-sama putra ulama besar di Kresek. Setelah menikah, KH. Ma`ruf pada tahun 1963 (usia 20 tahun), hijrah ke Tanjung Priuk, Jakarta Utara. Setahun kemudian, KH. Ma`ruf Amin kuliah di Fakultas Ushuludin, Universitas Ibnu Choldun, Jakarta.

Sembari kuliah, KH. Maruf Amin memimpin Gerakan Pemuda Ansor, mulai Ketua Ranting Kecamatan Koja, sampai Cabang Jakarta Utara, Ia menjadi Ketua GP. Ancor Kota Jakarta Utara pada tahun 1964-1966.

Pada 22 Oktober 2013 istri tercintanya, Hj Siti Churiyah meninggal dunia dalam usia 67 tahun karena menderita penyakit liver. Kemudian Kyai Ma’ruf menikahi Wury Estu Handayani, seorang perawat gigi pada 31 Mei 2014. Saat ini bersama istrinya beliau tinggal di Kompleks Pondok Pesantren An-Nawawi, Tanara dan Koja, Jakarta Utara.

Kiprah Politik

Pergerakan KH. Ma`ruf Amin paling nyata adalah pada PEMILU 1971, itu menjadi momentum pertama yang menghantarkan KH. Ma`ruf Amin menjadi Anggota DPRD DKI Jakarta. Saat itu beliau baru berusia 28 Tahun.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya Tahun 1989, Muktamar NU di Pesantren Krapyak, menjadi babak baru aktifitas KH. Ma`ruf Amin dilingkungan elit Kepengurusan PBNU. KH. Ma`ruf Amin dipercaya menjadi Katib Aam Syuriah PBNU, mendampingi Rais Aam Syuriah KH. Ahmad Siddik dan Wakil Rais Aan KH. Ali Yafie. Untuk tingkat Tanfidziyah, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terpilih kembali untuk periode kedua.

Pada tanggal 3 Juni 1998, ketika gelora reformasi bergemuruh, rapat harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU memutuskan membentuk Tim Lima yang diketuai KH. Ma`ruf Amin. Anggotanya KH. M. Dawam Anwar (Katib Aam PBNU), Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M. Rozy Munir, dan Ahmad Bagja (Sekjen PBNU). Dari Tim Lima-lah cikal bakal kelahiran Partai Kebangkitan bangsa itu hadir.

Pasca Gusdur lengser, aktivitas KH. Ma`ruf Amin cenderung menurun, dan karenanya lebih banyak makan waktu di Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI. Sejak tahun 2000, beliau ini menjadi Ketua Komisi Fatwa MUI, pasca Muktamar PKB Surabaya (2001) KH. Ma`ruf Amin tidak lagi menjadi Dewan Syuro PKB karena digantikan Gusdur. Selain itu, ayah dari Hj. Siti Haniatunnisa, ini juga tidak lagi menjadi Ketua Komisi VII DPR-RI yang membidangi agama.

Rentang waktu yang cukup panjang (2001-2007) KH. Maruf Amin mengkhidmatkan dirinya di MUI Pusat, sebagai Ketua Komisi Fatwa dan DSN. Selanjutnya tahun 2007 KH. Ma`ruf Amin dipercaya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) unsur Ulama. Sejarah panjang di Watimpres dan pada Muhktamar NU ke 33 di Jombang menghantarkan Putra Banten ini menjadi pemipin tertinggi (Rois Aam) PBNU periode 2015-2020 mendampingi Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirodj , MA. Bersamaan dengan itu, Kiyai Sepuh ini juga dipercaya para Ulama Indonesia untuk Memimpin MUI Pusat untuk lima tahun kedepan.

Sebagai bentuk penghargaan atas peran dan karya besatnya bagi bangsa dan negara. KH. Ma’ruf Amim memperoleh gelar doktor honoris causa dalam bidang ilmu Hukum Ekonomi Syariah dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Adiprana dari Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2014.

Tak cukup itu, Ulama 75 Tahun ini berhasil meraih gelar Profesor dalam bidang Ilmu Ekonomi Muamalat Syariah dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Beliau dikukuhkan oleh Senat UIN Maliki Malang yang dipimpin oleh Prof. Dr. H. Imam Suprayogo pada 24 Mei 2017. Dalam pengukuhan guru besar yang dilaksanakan di Gedung Ir. Soekarno (Rektorat) dan dihadiri langsung oleh Presiden Republik Indonesia ke-7, Ir. H. Joko Widodo beliau menyampaikan orasi ilmiah berjudul Solusi Hukun Islam (Makharij Fiqhiyyah) sebagai pendorong arus baru ekonomi syariah di Indonesia. (Kontribusi Fatwa DSN-MUI dalam Perundang-Undangan RI).

Semoga beliau senantiasa diberikan kesehatan dan umur panjang sehingga dapat membina umat islam di Nusantara. Dan semoga kita semua terciprat keberkahan ilmu beliau dan leluhurnya Syekh Nawawi Al-Bantani sehingga mampu menjadi kader-kader penegak Islam Ahlus Sunnah wal-Jamaah di negeri kita tercinta.

اللهم احيينا بحي العلماء وامتنا بموت الشهداء واحشرنا في زمرة الاولياء

Tanara, 5 Agustus 2018

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *