Kabupaten Semawung dari awal berdirinya adalah kabupaten yang ramai juga dengan perekonomian yang dinamis, bahkan sekalipun pusat pemerintahan di pindahkan ke selatan gunung tugel dan berganti nama menjadi kabupaten kutoarjo, semawung atau kutoarjo tetep ramai walaupun di tahun 1934 kabupaten kutoarjo digabungkan dengan kabupaten Purworejo oleh tetep pemerintah kolonial Belanda, tetap saja daerah kutoarjo yang terramai dengan perekonomian yang Tinggi juga sekalipun pembangunan besar-besaran di pusatkan di Purworejo.

Beliau pernah sekoalah di ELS Purworejo tahun 1878 dan Di HBS Semarang. Beliau adalah mantan bupati Ngawi, mantan Bupati Jepara, anggota Volksraad, sekaligus Tokoh Pergerakan Nasional. Ibunya bernama R.A. Soeratinem bin Aroembinang IV, sekalipun kedua kakeknya berbeda politik dalam perang Jawa atau perang Diponegoro dimana dari kakek jalur ibunya aroembinang IV menentang sikap politik Pangeran Diponegoro dan berhasil menewaskan Kolopaking IV, serta dari jalur kakek ayah K.R.A.A. Soerokusumo Gigih berperang melawan Belanda di dalam barisan pangeran Diponegoro.
Tapi epos Pangeran Diponegoro terpatri di dalam dirinya “bahwa priyayi harus membela kaum alit kalau perlu dengan mempertaruhkan jiwa”

Tokoh-tokoh yang berasal dari Kutoarjo antara lain Dr. Ir. H. Erman Soeparno M.BA, M.Si, Mayor Jenderal TNI (Purn.) Slamet Kirbiantoro, Danurwindo, Mayor Jenderal Purnawirawan TNI Unggul kaswitoro Yudhoyono SH, Ganjar Pranowo, Dr. Pri Pambudi Teguh, SH., MH. , Kelik Sumrohadi, R. Danusuganda Bupati Magelang, Eyang Muhammad Yusuf purbohadiwijoyo, Kyai Sadrach dan lain sebagainya. Sedangkan kuliner dari Kutoarjo antara lain “Clorot” Grabag, Kue Lompong, gadungan kaliguci kemiri, Dawet Ireng Butuh, Sengkulun dll. Tempat-tempat yang perlu dikunjungi antara lain jembatan Bruk kali jali, Perpustakaan terbesar Dunia KITLV Leiden Belanda, jembatan antara desa Winong kemiri, Winong lor gebang, dan sutoraga, Rumah Pecinan di Kota Kutoarjo, Curug Kaliurip, Curug Silumut, obyek wisata pantai ketawang, puncak sigendol Bruno, Curuk Muncar Bruno, Curuk Cepedak Bruno, Curug Si jangkar Bruno, Curug Abang desa wonosuko kecamatan Kemiri, seni budaya tari Cingpoling dari desa kesawen Pituruh dan curuk Kyai Kate Bruno.
Yang tidak kalah menarik adalah Situs Gua Gong Pituruh, Situs Cagar Budaya Gua silumbu dan Gua Silawang di desa kaliglagah kemiri. Gua tersebut terletak di Desa Kali Glagah, Kecamatan Kemiri. Yang diberi nama Gua Lawang dan Gua Silumbu. Gua Lawang terletak di dataran rendah sedangkan Gua Silumbu berada di atas bukit dengan ketinggian 120 m dpl. Gua Lawang terdiri dari tiga buah Gua yang dibuat dari padas yang dipahat. Gua tersebut membujur Barat-Timur sepanjang 18 m dan tingga 3 m, pada bagian atas gua banyak ditumbuhi pohon bamboo dan semak belukar. Didalam gua silumbu I terdapat lingga semu berukuran diameter 79 cm dan tinggi 90 cm, dan yoni bercerat dengan ukuran lebar 161 cm, panjang 180 cm, tinggi 62 cm. Lingga yoni tersebut sekarang dalam kondisi rekat karena semen.
Gua II terletak dibagian tengah mempunyai pintu masuk berukuran lebar 78 cm dan tinggi 147 cm. Yoni pada Gua II mempunyai semacam tempat yang menampung air yang berberntuk silinder dengan ukuran diameter luar 104 cm, diameter bagian dalam 89 cm dengan kedalaman 20-30 cm, pada ujung cerat yoni terdapat relief seperti makara.
Gua III berukuran paling kecil, pintu masuknya sangat pendek sehingga membuat orang yang akan masuk ke dalam harus membungkuk. Lingga semu yang ada di gua ini dalam kondisi pecah sedangkan pecahnya tidak diketahui keberadaannya sedangkan yoninya hanya terlihat pada bagian atas dengan ukuran bujursangkar, yaitu 120 cm x 120 cm. bagian luar Gua tidak berbeda jauh dengan gua I dan II, banyak ditumbuhi moss dan penuh vandalism.
Gua Silumbu terletak diatas bukit yang cukup curam, yang berada di Desa Kali Glagah, Kecamatan Kemiri. Untuk mencapai Gua Silumbu satu-satunya jalan hanya melalui jalan setapak kemudian menyeberangi sungai tanpa jembatan, kemudian dilanjutkan dengan mendaki bukit. Gua Silumbu menghadap ke arah barat dan mepunyai dua buah pintu yang membujur Utara-Selatan, panjang gua 15 m dan tingginya 5 m. batas sebelah barat Gua Silumbu adalah jurang dan sungai, batas utara, selatan, dan timur adalah tebing.
Ada juga Gua Pencu, desa Ngandagan, kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo. Gua pencu adalah Situs Sejarah Peninggalan Ir Soekarno di Desa Ngandagan, Pituruh. Tidak banyak orang yang tau soal pesona Desa Ngandagan, pituruh, purworejo,Jawa Tengah. Dikelilingi sawah dan bukit, desa tersebut diketahui sebagai daerah percontohan pertanian di Pulau Jawa oleh Presiden Soekarno. Berdasarkan Narasumber tokoh masyarakat desa ngandagan, nama Desa Ngandagan mulai dikenal saat kepimpinan seorang Glondhong bernama Sumotirto. Sumotirto dengan nama kecil Mardikun menjabat Lurah sekitar tahun 1946-1963. Dia sebenarnya berasal dari Desa Wonosari.
Tapi karena kecerdasan, ketegasan dan kemampuannya, tokoh masyarakat dari Desa Ngandagan yakni Kartowi Kromo memanggil Sumotirto untuk menjadi kepala desa ngandagan yang merangkap Glondong. Tangan dingin Sumotirto ternyata mampu mengubah Ngandagan menjadi desa yang asri dan sejuk. Sejak saat itulah, Ngandagan menjadi desa percontohan. Bahkan, hampir setiap hari mobil pejabat melintas di Ngandagan hanya untuk melihat-lihat atau sekedar rekreasi. Tahun 1947, Ngandagan dikunjungi oleh Presiden RI ke-1 Ir. Soekarno. Kehadiran Sang Proklamator itu kabarnya untuk melihat sistem pertanian, gotong royong masyarakat hingga rasa saling menghormati antar ummat beragama. Juga untuk meninjau keberhasilan proyek pertanian jeruk dan perikanan di Desa Ngandagan. Warga desa yang mendengar akan ada kehadiran Bung Karno langsung menyiapkan penyambutan.
Destinasinlainnya adalah makam Tuan Guru Loning alias R.M.Mansyur Alias K.H. Muhyiddin Arrofingi bin R.M. Sandeyo alias Kyai Nur Iman Mlangi Yogyakarta bin Amangkurat IV. Beliau adalah ulama besar pada eranya, banyak orang yang tidak tau kalau beliau adalah guru sekaligus mertua dari pangeran Diponegoro. Salah satu putri beliau yang bernama R.A. Retno Kumolo alias R.A. Djamilah menikah dengan pangeran Diponegoro dan dikaruniai tiga orang putri yaitu R.A. Herjuminten, R.A. Herjumerut, R.A. Hanggraeni. Setelah Pangeran Diponegoro tertangkap Belanda, R.A. Retno Kumala menikah dengan Kyai Sangid dan memakai nama R.A. Djamilah untuk mengelabuhi Belanda. Juga Makam Kyai Nur Muhammad Alang-alang Ombo giri Gondo pituruh bin Kyai Zamzami Ponorogo bin Kyai Agung Muhammad Ilyas bin Kyai Agung Suryo Ngalam bin Kyai Agung Lamongan bin Sunan Drajat bin Sunan Ampel. Ulama besar pada masanya. Makam salah satu makam Pejuang Perang Jawa, kentol bagelen bagian tengah yang meliputi kabupaten Semawung/kutoarjo yang bernama Basah Ali Joyo Sundargo. Juga ada masjid bersejarah yaitu Masjid Jannatu Naim di desa Dlangu, kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo Jawa tengah. Masjid yang sejarahnya adalah peninggalan Kanjeng Sunan Kalijogo,
Untuk kerajinan tangan ada batik pantai selatan grabag, Kerajinan Seni tempa lipat pandai besi desa Suren kecamatan kutoarjo kabupaten Purworejo yang dilakukan turun temurun dan kerajinan pandai besi milik bapak Tusilan bapak dari Mas Edi Wibowo Suren. Menurut keterangan narasumber mas Edi Wibowo dan bapak Tusilan di desa Suren, kerajinan ini dilakukan turun temurun yang awal mulanya leluhurnya juga membuat tosan aji berwujud keris, tombak, dan pedang tapi karena perkembangan zaman dan permintaan masyarakat akhirnya juga melayani pembuatan alat-alat perkakas rumah tangga dan perkebunan seperti pacul, arit, pisau dan sebagainya. Akhirnya pembuatan seni tempa lipat keris hanya sampai ke Mbah Rakidi, selanjutnya hanya melayani pembuatan perkakas rumah tangga, dan perkebunan. Berikut silisilah Empu dan pandai besi dari mas Edi Wibowo Suren. Mbah Mustawi – Mbah Rakidi – Mbah Ngatijo – Pak Tusilan – Om Edi Wibowo. Kerajinan lainnya antara lain Pengrajin Sangkar Burung Desa Wirun, kecamatan Kutoarjo, kabupaten Purworejo Jawa tengah dan pengrajin wayang Ringgit Purwo gaya Kaligesingan (Bagelenan) yasan Ki kartoguno alias Ki Gethok desa pacor kutoarjo. Buatan leluhurnya Ki dalang Sutarko hadiwacono Katerban Kutoarjo yang bernama Ki Kartoguna yang tinggal di desa pacor kutoarjo, dibuat tahun 1904 bahan dari kulit kebo bule dan gapit dari sungu kebo bule. Pewaris satu-satunya gagrak kaligesingan adalah Ki Sutarko Hadiwacono Katerban kutoarjo. Ada juga Dalang Ki Gethok alias Mbah Gethok alias Ki Kartoguno dari desa Pacor kecamatan Kutoarjo kabupaten Purworejo tahun 1900an. Berikut Nasab atau silsilah Mbah Gethok dari dalam Mataram Ki Hardi Wijoyo : Ki Redi Wijoyo/Ki Redi Bethitit/Ki Hardi Wijoyo – Ki Toguno/Ki Guno Perwito – Ki Tirtosono – Ki Kartoguno/Mbah Gethok – Ki Darto Crito Karmoyo – Ki Sutarko Hadiwacono – Ki Putut Danardono / Ki Parikesit. Dan Ki warsoguno perintis Gagrak Gaya Kaligesingan (Bagelenan) yang tinggal di desa kaligono Kaligesing adalah saudara Ki kartoguno alias mbah Gethok dan Mbah Gethok pacoran yang meneruskan seni pembuatan, sunggingan dan tatahan gagrak wayang kulit Gaya Kaligesingan (Bagelenan)
Berikut ini beberapa buku literisasi sejarah Bagelen, kabupaten Purworejo, dan kabupaten kutoarjo alias kabupaten Semawung. Juga daerah-daerah lain di sekitarnya.

Sumber Referensi :
- Narasumber ahli waris.
- Bupati kepala daerah dan Ketua DPRD Purworejo 1830 – 2000, pertama kali di paparkan 12 Oktober 2000 di gedung Setda Purworejo.
- Bapedda Tingkat II Purworejo, 1982 sejarah bagelen hingga kabupaten Purworejo.
- Jhr. P.J. Boreel. 1901. “De Verbetering der Soedagaran Leiding” dalam De Ingeneur No. 35
- Diberitakan Dalam majalah “Het Niuews Van Den Dag” Voor nederlandsch-Indie terbit hari senin tanggal 3 April tahun 1933.
- Bahwa R.A.A. Poerbohadikusumo Bupati Koetoardjo meninggal dunia hari Minggu tanggal 2 April tahun 1933.
- Dari koran majalah “De Locomotief” terbit dinsdag/Selasa tanggal 25 April 1939 tentang pengakatan R.M. Czarewitz Putra Bupati Kutoarjo yang terakhir menjadi Bupati Kendal.
- buku “Perjalanan Anak Bumi” Biografi R.M.A.A. Koesoema Oetoyo bin R.M. Soejoedi Soetodikoesoemo (Asisten Wedono Bedog di daerah purworejo setelah itu menjadi Patih Pekalongan) Bin K.R.A.A. Soerokusumo (Bupati Kutoarjo) bin Pangeran Balitar bin Hamengkubuwono I.
- buku biografi Jenderal Sarwo Edhie Wibowo.
- Author; E.M. van de B.V.J.C. Den Haag 1894 No inv: RV-A269-7
- Musadad 2002. Arsitektur dan Fungsi Stasiun Kereta Api bagi Perkembangan Kota Purworejo Tahun 1901-1930. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada.
- Penadi, Radix . 2000. Riwayat Kota Purworejo dan Perang Baratayudha di Tanah Bagelen Abad ke XIX. Lembaga Study dan Pegembangan Sosial Budaya.

No responses yet