Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta KH. Syukron Makmun mengatakan bahwa Islam adalah agama yang memiliki toleransi tinggi. Menurut dia, toleransi itu saling menghormati bukan menganggap semua agama sama.

Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta KH. Syukron Makmun mengatakan bahwa Islam adalah agama yang memiliki toleransi tinggi. Menurut dia, toleransi itu saling menghormati bukan menganggap semua agama sama.

“Toleransi itu bukan menganggap semua agama sama. Melainkan toleransi itu hanya sekadar saling hormat-menghormati. Orang Kristen ke Gereja tidak usah kita halang-halangi. Kita hormati mereka, saling harga-menghargai. Hidup rukun, mengapa? Karena dalam Islam mengenal konsep ‘laa ikraha fiddin qod tabayyana rusydu minal ghayyi” tidak ada paksaan dalam beragama,” kata dia.

“Ajaran Islam sudah memberikan mana yang petunjuk mana yang sesat. Jadi kita tidak perlu lagi memaksa mereka,” tekan dia.

Jadi toleransi itu, kata dia lagi, sebatas hormat-menghormati. Rukun antarumat beragama. Bukan berarti membenarkan semua agama.

“Toleransi itu ada batasnya. Jangan mencela kepada mereka yang menyembah selain Allah, nanti mereka akan mencela Allah,” ucap Kyai Syukron.

“Ajaran Islam sudah memberikan mana yang petunjuk mana yang sesat. Jadi kita tidak perlu lagi memaksa mereka,” tekan dia.

Jadi toleransi itu, kata dia lagi, sebatas hormat-menghormati. Rukun antarumat beragama. Bukan berarti membenarkan semua agama.

“Toleransi itu ada batasnya. Jangan mencela kepada mereka yang menyembah selain Allah, nanti mereka akan mencela Allah,” ucap Kyai Syukron.

Kiai Syukron memaparkan, masyarakat yang menganut Nahdlatul Ulama sebenarnya belum sepenuhnya paham tentang ajaran-ajaran yang ada di Nahdlatul Ulama. Beliau mengaku telah membaca beberapa buku tentang NU yang dikarangan oleh orang-orang non-NU, kurang lebih sebanyak 30 jilid. “Ternyata (mereka) lebih NU dari orang NU,” ujar kiai bersuku madura ini menyimpulkan.

Beliau mengaku ingin sekali mengusahakan ada titik temu diantara Wahabi dan NU. Bagi beliau berkembangnya Syi’ah dan Wahabi di Indonesia sudah harus segera ditindaklanjuti agar tidak terjadi pertumpahan darah. Bahkan beliau bersedia menjadi mediator antara Wahabi dan NU. “Perbedaan ini, kalau tidak segera ditangani, 30 tahun lagi, saya yakin akan ada pertumpahan darah,” ungkap kiai yang kondang di era 80-an tersebut.

Beliau menyoroti beberapa pihak yang bisa menghormati antar umat beragama, tapi tidak bisa menghormati antar aliran seagama. “Kalau toleransi Antaragama Bisa, Kenapa Antar Aliran Seagama Tidak?,” sindir beliau. Untuk itu menurut beliau, sudah saatnya para kaum sepuh mencari jalan tengah agar perselisihan ini tidak berlarut-larut.

“Kita harus hormat menghormati, harga menghargai dalam perbedaan. Karena setiap kita pasti mempunyai perbedaan pendapat baik dalam berdiskusi ataupun yang lainnya,” pesan Pengasuh Pesantren Darur Rahman Jakarta tersebut.                                              

 Prof. K. H. Syukron Ma’mun, BA (lahir di Sampang, 21 Desember 1941; umur 78 tahun) adalah seorang ulama dan politikus, saat ini ia merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jakarta ia merupakan salah satu pendiri Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia dan Ketua Umum pada partai tersebut. Bapaknya bernama KH. Ma’mun Nawawi dan ibunya bernama Hj. Masturah. Ia adalah anak ke 2 dari 9 orang bersaudara.    Sejak kecil ia di didik dengan disiplin yang tinggi langsung oleh kedua orang tuanya. Kehidupan pada masa kecilnya normal seperti kebanyakan anak ketika itu, tetapi kedua orang tuanya yang selalu memberikan pelajaran ekstra di luar sekolah membuat ia lain dari anak-anak sebayanya ketika itu, pelajaran fikih dan pelajaran akhlak serta pelajaran agama yang lainnya diajarkan langsung oleh ibu bapaknya. Maka tak heran kalau ia hidup tegas disiplin dan bertanggung jawab.

Dari pendidikan pesantren salafiyah di Sidogiri, Jawa Timur. Menimba ilmu agama dari beberapa kitab kuning yang diajarkan gurunya. Setelah beberapa tahun di pondok itu, Syukron Ma’mun melajnutkan ke pondok pesantren modern Daarussalam Gontor Ponorogo dan kemudian melanjutkan ke Institut Islam Daarussalam (ISID) Gontor, hingga lulus dan menyandang gelar Sarjana Muda angkatan pertama. Selain sebagai pengasuh Ponpes Darul Rahman , KH Syukron Makmun saat ini menjabat sebagai Ketua Harian Majelis Syariah DPP PPP Pusat.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *