Kalau mengkaji sejarah jelang berdirinya NU, maka salah satu tonggak yang terkenal adalah kisah poros Jombang-Bangkalan. Kisah ini menjelaskan bagaimana peran penting Kiai Cholil Bangkalan dalam berdirinya NU.

Selain Kiai Cholil Bangkalan, ada kiai lain, yakni Kiai Zainuddin, Nganjuk. Poros Jombang-Nganjuk ini tidak kalah pentingnya, tapi belum banyak yang tahu. 

Sebagaimana Kiai Cholil adalah guru dari Kiai Hasyim Asy’ari, maka di Nganjuk, tepatnya di pondok Mojosari juga ada guru Kiai Hasyim, beliau adalah Kiai Zainuddin. Baca tulisan saya tentang Kiai Zainuddin di https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=418530332277730&id=100023623007183

Dalam beberapa situs internet ataupun buku tentang NU, rerata tidak dijelaskan tentang nyantrinya Kiai Hasyim di Mojosari. Padahal Gus Dur pernah bercerita kepada Gus Tom (KH. Ahmad Basthomi) dari Mojosari bahwa Kiai Hasyim pernah nyantri ke Kiai Zainuddin.

Hal di atas menjelaskan, pada satu sisi, tidak ditulis riwayat mondok Kiai Hasyim Asy’ari di Mojosari, tapi di sisi lain, Gus Dur berkisah bahwa Kiai Hasyim Asy’ari adalah santri Kiai Zainuddin. Problem ini terpecahkan dengan cerita Mbah Karim saat saya wawancarai bahwa Kiai Hasyim Asy’ari pernah mengaji ke Kiai Zainuddin saat mondok di Langitan, Tuban.

Seperti tercatat dalam buku-buku sejarah NU, bahwa sejak tahun 1914, Kiai Wahab berkeinginan mendirikan jam’iyyah yang menaungi para kiai, dan sudah sejak tahun 1922-an, keinginan Kiai Wahab itu disampaikan ke Kiai Hasyim, tapi beliau belum merestui usulan Kiai Wahab (baca Buku Tambakberas: Menelisik Sejarah, Memetik Uswah). Namun antara tahun 1922 hingga 1925, Kiai Hasyim Asy’ari mulai serius memikirkan dan merenungkan usulan Kiai Wahab (baca karya KH. Abdul Chalim Leuwimunding atau baca tulisan saya di  https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=867782400685852&id=100023623007183).

Di tengah proses perenungan dan pemikiran tersebut, Kiai Cholil (w. 1925) mengutus Kiai Asa’d Syamsul Arifin untuk menyerahkan tongkat dan bacaan ayat kepada Kiai Hasyim. Dengan itu, Kiai Hasyim mulai ada kegembiraan karena maknanya Kiai Cholil tidak keberatan dengan rencana mendirikan jam’iyyah. Namun nyatanya hingga berbulan-bulan setelah tongkat dan bacaan ayat diterima, jam’iyyah belum didirikan, maka Kiai As’ad diutus lagi oleh Kiai Cholil untuk menyerahkan tasbih dan bacaan “Ya Jabbar, Ya Qahhar” ( baca buku Saifullah Ma’shum ed, Karisma Ulama terbitan Mizan 1998, juga lihat video di bawah ini). Setelah itu Kiai Hasyim mantap dan merestui usulan Kiai Wahab untuk mendirikan NU.

Selanjutnya Kiai Hasyim mengutus Kiai Wahab agar sowan ke tokoh spiritual, yakni Kiai Zainuddin Mojosari untuk meminta restu dan menguatkan rencana jam’iyyah NU yang akan didirikan dengan menjadi salah satu pengurusnya (Kiai Wahab merupakan santri dari Kiai Zainuddin yang saat mondok di Mojosari terkenal “keunikannya”).

Lalu Kiai Wahab sowan ke Kiai Zainuddin dan menyampaikan misi tersebut sambil memohon kepada Kiai Zainuddin untuk memperkuat dengan menjadi bagian dari jam’iyyah yang akan dibentuk. Kiai Zainuddin berkata bahwa beliau akan mendoakan jam’iyyah tersebut tanpa perlu Kiai Zainuddin masuk menjadi pengurus.

Setelah mendapat penjelasan Kiai Zainuddin, Kiai Wahab kembali ke Jombang dan melaporkan jawaban Kiai Zainuddin kepada Kiai Hasyim. Mendengar jawaban Kiai Zainuddin tersebut, Kiai Hasyim mengajak Kiai Wahab sowan ke Mojosari. Kiai Hasyim naik mobil yang disetiri oleh Kiai Wahab. Anehnya, setelah mendekati pondok Mojosari sekitar satu kilometeran, Kiai Wahab tidak tahu jalan masuk ke selatan menuju pesantren Mojosari. Padahal beberapa hari sebelumnya Kiai Wahab baru sowan ke Kiai Zainuddin, terlebih Kiai Kiai Wahab pernah mondok di Mojosari. 

Sadar bahwa Kiai Zainuddin belum mau disowani. Terbukti dengan jalan masuk ke pondok yang tidak diketahui. Akhirnya Kiai Hasyim dan Kiai Wahab kembali ke Jombang.

Tentu hal tersebut menjadikan Kiai Hasyim merenungkan kembali atas peristiwa tersebut, maka tidak lama berselang, Kiai Hasyim sholat istikharah untuk memahami tentang sikap Kiai Zainuddin. Selesai istikharah, Kiai Hasyim bermimpi sedang berada di masjidil Haram. Di dalam masjidil Haram berkumpul orang-orang mulia seperti Nabi, para sahabat, dan beberapa kiai besar. 

Nabi Muhammad memanggil Kiai Hasyim dan menyuruhnya untuk iqomah sholat. Setelah itu Nabi menyuruh Kiai Zainuddin untuk menjadi imam. Saat Kiai Ghufron saya tanya apakah Nabi ikut sholat atau hanya menyuruh saja? jawaban nara sumber, “Saya tidak diceritakan tentang hal itu.”

Setelah mimpi pasca istikharah ini, Kiai Hasyim menjadi yakin dan mantap atas jam’iyyah yang akan didirikan. Posisi Kiai Hasyim melakukan iqomah sholat berarti bertugas mengumpulkan umat yang selanjutnya diwadahi dalam jam’iyyah NU yang baru didirikan. Adapun Kiai Zainuddin yang menjadi imam dimaknai bahwa beliau cukup berposisi sebagai pilar penyokong spiritual jam’iyyah NU.

Beberapa hari setelah mimpi yang membahagiakan tersebut, Kiai Hasyim dan rombongannya termasuk Kiai Wahab dan Kiai Bisri kembali mencoba sowan ke Kiai Zainuddin.

Nampaknya Kiai Zainuddin sudah pirso (tahu) akan ada rombongan tamu besar yang datang. Buktinya Kiai Zainuddin menyuruh para santri untuk nyaponi (membersihkan) halaman pondok, dan Kiai Zainuddin sudah bersiap mapak (menjemput) di gawangan atau gerbang masuk menuju ndalem (rumah) Kiai Zainuddin.

Setelah para tamu pinarak (duduk di ndalem Kiai Zainuddin), Kiai Hasyim matur (berkata) ke Kiai Zainuddin, “Kulo mireng Mbah Yai gadah santri kung” (saya mendengar kalau Anda (Kiai Zainuddin) mempunyai santri yang suara dan bacaannya bagus). Artinya, Kiai Hasyim ingin mendengarkan bacaan ayat dari santri tersebut untuk mensyukuri kelarnya proses spiritual yang menguras pikiran dan hati tersebut.

Mendengar hal itu, Kiai Zainuddin menyuruh para santri untuk mencari santri kung (perlu diketahui, santri kung tersebut adalah santri ampuh yang khumul. Kiai Jalil Mustaqim pondok Peta maupun Kiai Hakim Sekarputih mengakui dan hormat kepada santri sepuh tersebut. Kisah santri sepuh, santri kung atau Mbah Irom saya tulis dalam https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=420446672086096&id=100023623007183).

Selanjutnya para santri mencari santri kung dengan mengelilingi pondok sampai tiga kali, tapi tidak diketahui keberadaannya. Akhirnya para santri matur (lapor) ke Kiai Zainuddin. Lalu Kiai Zainuddin memimpin pencarian, dan ternyata santri kung duduk di emper pondok kulon sambil merokok. 

Padahal sebelumnya para santri sudah tiga kali melewati tempat santri kung tersebut. Melihat santri kung dalam posisi seperti itu (tetap duduk sambil merokok walaupun Kiai Zainuddin berada di depannya), maka Kiai Zainuddin -yang memang menyadari linuwihnya santri kung tersebut- berkata, “Inggih niku sae” (yakni tidak mau diminta menyuarakan alunan suaranya bagus saja tidak apa-apa).

Setelah itu Kiai Zainuddin kembali menemui rombongan Kiai Hasyim. Sumber kami tidak menceritakan diskusi lebih jauh dari para kiai agung tersebut. Namun yang pasti, Kiai Hasyim, Kiai Wahab, Kiai Bisri dan rombongan lainnya semakin mantap dan yakin dengan jam’iyyah yang akan didirikan karena telah direstui oleh kiai ampuh dari poros Nganjuk.

Kalau coba direnungi, begitu berulangkali proses spiritual yang dilakukan untuk mendirikan NU. Begitu banyak simbol, isyarat, dan pituduh yang mengiringinya. Artinya NU didirikan betul-betul dibangun dengan pondasi yang kokoh. Maka wajar bila akhirnya NU menjadi jangkar umat dan jangkar NKRI.

*****

Sumber kisah:

1. Wawancara dengan Kiai Ghufron tanggal 10 Pebruari 2019 di pondok Sanggrahan Prambon Nganjuk. Kiai Ghufron mendapat kisah langsung dari santri sepuh (santri kung) yang tidak boyong, kecuali saat mau wafat pulang ke Tulungagung. Tentang Kiai Ghufron baca tulisan saya: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=393945178069579&id=100023623007183

2. Untuk kisah tentang pembicaraan Yai Hasyim tentang santri kung, serta pencariannya dengan mengelilingi pondok hingga tiga kali diperoleh Kiai Ghufron dari Mbah Masrur (santri senior asal Blitar yang seusia santri kung).

Kiai Ghufron mondok di Mojosari tahun 1969-1984, beliau adik angkatan Kiai Jalil Mustaqim. Sewaktu Gus Ishom Hadziq masih mondok di Lirboyo, beliau pada malam hari sering ke Nganjuk untuk diskusi dengan Kiai Ghufron.

3. Wawancara dengan Mbah Karim Tulungagung yang mondok di Mojosari tahun 1962-1975.

Catatan: menurut Kiai Ghufron, cerita di atas adalah sesaat setelah NU berdiri. Adapun menurut Mbah Karim, adalah sesaat sebelum NU berdiri. Saya sendiri mengambil pendapat seperti yang saya tulis di atas, yakni pasca peristiwa poros Bangkalan-Jombang, lalu dilanjutkan poros Nganjuk-Jombang selanjutnya NU didirikan.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *