Oleh: Androw Dzulfikar
Awal tahun 1966, setelah rangkaian peristiwa G30S’65 berakhir dan kehidupan sospol masyarakat berangsur normal, suatu hari pengurus NU Trenggalek mendapat undangan untuk menghadiri sebuah acara di Kertosono. Maka berangkatlah rombongan yang antara lain Ketua Tanfidziyah PCNU Trenggalek Abu Sofyan, Kiai Machalli, dan dua pengurus lainnya, mengendarai mobil dinas Bupati berjenis sedan dengan disopiri oleh sopir sehari-hari bupati. Turut pula Bu Nyai Mar, istri Kiai Machalli, dalam rombongan tersebut.
Di tengah perjalanan pulang dari Kertosono, tepat di kawasan kebun tebu Kali Telu, perbatasan Tulungagung-Trenggalek, tiba-tiba si sopir membuka pintu di sebelahnya dan langsung meloncat keluar. Mobil yang melaju kencang dibiarkan begitu saja. Sementara tak ada satu orang pun dari rombongan yang bisa mengendarai mobil.
Pak Abu, Kiai Machalli, dan dua pengurus NU yang duduk di bangku belakang hanya bisa melafalkan kalimat thayyibah sambil berdoa. Untung saja, Bu Nyai Mar yang duduk di kursi depan di samping sopir bisa tetap tenang dalam situasi yang penuh kepanikan tersebut, dan segera mengambil inisiatif untuk bergeser ke kursi sopir. Bu Nyai Mar memberanikan diri memegang kemudi sebisanya, dengan maksud agar mobil bisa tetap berada di jalur jalan raya hingga berhenti dengan sendirinya.
Setelah sekian ratus meter melaju, mobil akhirnya berhenti. Bu Nyai Mar bergegas mencari sopir tersebut namun sudah tidak ada lagi di lokasi di mana ia tadi meloncat. Bu Nyai Mar kemudian berdiri di tengah jalan, mencegat siapapun yang lewat guna mencari bantuan. Tiap orang yang lewat ditanya, “Sampeyan Ansor apa bukan?” Berharap ada kader GP Ansor yang lewat untuk dimintai bantuan.
Rupanya, sedari berangkat, beliau sudah mempunyai firasat yang tidak enak dengan sopir tadi. Pasalnya, sopir tersebut awalnya adalah kader PKI, kemudian mengaku taubat setelah Peristiwa G30S. Sebelum berangkat ke Kertosono pun, sopir juga disumpah dan diminta mengucapkan syahadat untuk meyakinkan bahwa ia benar-benar sudah bertaubat. Namun ternyata, taubat si sopir sebatas di mulut saja. Ia masih berpikiran untuk membunuh dedengkot NU dan Ansor Trenggalek. Karena itu, menyopiri mereka adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Beruntung, gelagat itu sedikit banyak disadari oleh Bu Nyai Mar dari awal.
Akhirnya, ada kader Ansor yang ditemui di antara orang yang lewat. Kader itu kemudian diminta untuk mencari bantuan ke Ketua PAC GP Ansor Gondang.
Situasi mendadak gempar. Ratusan pemuda Ansor beserta warga Gondang datang, dan segera menyisir area perkebunan tebu. Massa yang marah langsung membunuh sopir tersebut begitu ditemukan.
Peristiwa menggemparkan tersebut dimuat sebagai headline news di beberapa surat kabar, dan menjadi topik perbincangan hangat oleh masyarakat selema beberapa hari kemudian.
Kesigapan serta keberanian Bu Nyai Mar—atas izin Allah Swt tentunya—menyelamatkan jajaran pengurus NU Trenggalek dari percobaan pembunuhan. Di tengah situasi panik, beliau mampu mengendalikan diri dan mengambil alih setir. Beliau juga dengan gagah mencegat sendiri siapapun yang lewat untuk mencari bantuan.
Lantas siapa sebenarnya sosok perempuan hebat tersebut?
Beliau adalah Siti Maryam. Istri Kiai Imam Machalli, pendiri PP. Subulus Salam, ini merupakan putri dari Kiai Abdullah Umar, Kedunglurah. Bu Nyai Mar adalah adik dari Kiai Siradj, yang menjadi ulama kenamaan di Mekah.
Banyak kelebihan yang dimiliki dari perempuan yang juga dikenal ‘ampuh’ ini. Seperti pada saat beliau mau memasak di perapian (‘cethik geni’), namun kehabisan korek api. Bu Nyai Mar datang ke rumah tetangga hang kebetulan juga sedang memasak untuk meminta api. Kerennya, beliau meraup begitu saja bara api dengan tangannya tanpa bantuan apapun. Itu sering beliau lakukan.
Masih banyak lagi kisah keren dari perempuan yang dikenal tegas ini. Seperti ‘menantang’ balik tentara yang memaksanya untuk berhenti aktif di Fatayat NU dan pindah ke Golkar ketika awal-awal era Golkarisasi. Beliau adalah satu di antara beberapa tokoh perempuan penggerak NU di zamannya, di samping juga istikamah mengasuh para santriwati di Pesantren Subulus Salam, Gebang, Melis, bersama sang suami.
*
Tampak dalam foto beberapa tokoh perempuan penggerak NU saat menghadiri acara Harlah Fatayat NU ke-35 pada tahun 1985. Coba tebak, siapa saja nama keempat perempuan yang duduk paling depan tersebut?
~
[androw dzulfikar, 31 Desember 2020]

No responses yet