Beberapa bulan lalu saat ke Jawa Tengah, saya sempatkan ziarah ke maqbarah Mbah Mutamakkin di Kajen. Namun ojek yang mengantar saya dari terminal Pati, keliru mengambil jalan. Akhirnya tanya sama seseorang, yang kebetulan salah satu pengajar di Mathaliul Falah. Beliau mengantar saya ke maqbarah dan justru beliau juga akan ziarah di jam istirahat sekolah.

Selepas tawasul dan doa, kami berbincang di beranda maqbarah. Beliau bercerita tentang kontroversi, karamah, dan sisi lain Mbah Mutamakkin yang baru saya ketahui. Menurut beliau, kisahnya didapat dengan sanad muttasil dari para Masyayikh Kajen.

Sampai pada kisah, bahwa dulu saat tragedi haji Mina tahun 1990, ada beberapa Masyayikh Kajen yang ikut dalam haji tahun itu. Mereka pun terjebak di terowongan. Di saat genting itu, setelah beristighfar, bershalawat, dan berdoa pada Allah SWT, lalu beliau2 bertawasul ke Mbah Mutamakkin. Di tengah korban Mina yang bergelimpangan itu, para masyayikh itu melihat seperti ada sosok yang melindungi. Alhamdulillah, semua selamat dari tragedi haji paling memilukan itu.

Di akhir pembicaraan, Ustadz itu berpesan, “Mas, nanti kalau ada kesulitan, tawasul aja dan kirim fatihah ke Mbah Mutamakkin. Insya Allah qabul. Panggil nama beliau ya, Mas”. Njih, insya Allah. Saya ucapkan terima kasih dan pamit ke beliau setelah sebelumnya mengantar ziarah ke makam Mbah Salam.

Selepas dari Kajen, saya mampir ke Masjid Kauman Semarang untuk shalat Ashar, dan langsung ke Stasiun Tawang. Selesai check in, beli oleh-oleh pesanan istri di toko yang dikelola oleh anak perusahaan PT. KAI. Melihat waktu tinggal 10 menit lagi, saya bergegas naik. Saat akan cek tempat duduk di aplikasi KAI, saya sadar HP tidak ada. Saya kembali ke toko, menanyakan apakah ada yang melihat HP. Semua kompak, tidak melihat. Tak berlama2, saya langsung menuju Polsuska untuk melapor. 3 menit sebelum kereta berangkat, proses laporan selesai. Saya tinggalkan no.HP istri kalau2 ada info penting.

Di dalam kereta saya membatin untuk ikhlaskan saja HP itu. Padahal banyak data penting & foto2 hasil riset di dalamnya. Saya beristghfar, mungkin ini teguran dari Allah dan putuskan tidur karena lelah. Saat tidur sekejap itu terlintas nasehat ustadz Mathole agar saya langsung bertawasul ke Mbah Mutamakkin. Saya pun bangun dan langsung ambil wudhu, shalat sunat sambil duduk, istighfar, shalawat, dan bertawasul menyebut nama Mbah Mutamakkin.

Baca Juga : Syekh Mutamakkin; Antara Serat Cebolek dan Teks Kajen

Awalnya saya akan turun di Stasiun Gambir, tapi saat memasuki stasiun Kejaksan Cirebon, saya putuskan turun dan mampir ke kantor kakak yang bertugas di PLN Cirebon Kota. Saat menghubungi istri lewat ponsel kakak, saya mendapat kabar tak terduga. HP sy sudah ditemukan lewat rekaman cctv dan oknumnya sudah diproses dan langsung dipecat hari itu juga.

Subhanallah, inilah pertolongan Allah dan bukti karomah Mbah Mutamakin yang saya rasakan langsung, kontan sabab wasilah tawassul ke beliau.

Li Mbah Mutamakkin wa Masyayikh Kajen, Lahum Al Fatihah…

Diceritakan oleh Okeu Kurniawan

Minat bukunya ? Klik Di Sini

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *