Hewan yang tak mampu ditaklukkan.

Diceritakan: ada sekolompok fakir miskin yang asik membicarakan Hizb Bahr. Tanpa disadari ada satu orang yang lewat dan bertanya: “dari mana kalian dapat mengetahui hizb ini?”.

Mereka menjawab: “suatu hari dalam perjalanan, kami berpapasan dengan sekelompok musafir dari Maroko, mereka bercerita bahwa pada suatu jalan yang bernama birqoh mereka menemukan hewan tunggangan yang sudah mati. Hewan tersebut dikelilingi burung gagak yang siap memangsa, dan kalajengking yang siap menerkam. Tapi, setiap kali hewan buas tersebut ingin menyerang, semua nya terpental, seakan ada tameng yang menjaga. Sekelompok fakir ini pun merasa kaget, setelah ditelusuri mereka menemukan hewan yang dimaksud, dan mereka menemukan kertas yang bertuliskan hizb bahr yang dikalungkan dileher hewan tersebut.

Menyamarkan penglihatan musuh.

Ketika syekh Dawud bin makhilla Asy-Syadzili mengunjungi Kairo untuk menyampaikan beberapa amanah yang beliau bawa, beliau melihat salah satu rumah yang dinding nya tertuliskan hizb bahr.

Karena penasaran, syekh Dawud bertanya kepada pemiliknya: “apakah kamu golongan Syaziliyyah?”.

Pemiliknya menjawab: “saya akan ceritakan sebab kenapa saya menuliskan hizb ini dirumah saya. Dahulu, saya pernah mengirim utusan untuk membeli kambing. Ditengah perjalanan mereka merasakan ada begal yang sedang mengintai.

Begal tersebut terus mengikuti, dan memerhatikan kelompok mereka. Pemimpin utusan saya menyadari, bahwa diantara mereka ada salah satu anak yang hafal hizb bahr. Kemudian diperintahkan anak itu untuk membaca hizb bahr. 

Usai membaca, seakan-akan kelompok mereka sudah tak terlihat oleh para begal tersebut. Mereka melewati persis didepan begal, dan para begal itu berbisik-bisik ‘kemana mereka perginya?’ begal tersebut kebingungan, padahal kelompok itu melihat begal, namun para begal tidak ada yang bisa melihat kelompoknya. 

Dan akhirnya, mereka usai membeli kambing, dan sampai dengan selamat ke Kairo”.

Setelah kejadian itu, saya menulis hizb bahr dirumah saya, agar rumah saya terjaga oleh mara bahaya.

Kemudian saya mendatangi syekh Ibnu Athoillah dan menceritakan kisah tersebut, dan beliau berkata: “betul, Dalam hizb bahr ada ayat untuk bersembunyi”.

Menghancurkan musuh ditengah laut.

Syekh Dawud bin makhilla Asy-Syadzili diceritakan oleh salah satu teman nya: “ketika saya sedang di masjid al-haram, saya membaca hizb bahr. Usai membaca, saya pun berdiri untuk pergi ke suatu tempat, tiba-tiba ada salah seorang syekh dari Iraq yang memegang tangan saya dan berkata: ‘saya akan menceritakan kepada mu tentang pengalaman kami bersama doa ini. 

Suatu waktu, kami pergi ke daerah India menggunakan perahu. Ditengah perjalanan, kami dikepung oleh musuh yang ingin mengambil harta benda kami. Kami sudah sangat siap untuk kematian. Sebagian teman-teman kami ada yang menulis hizb bahr dikertas, kemudian dibagikan kepada yang lain nya untuk dibaca. Ketika hizb nya mulai dibaca, seketika datang angin yang memporak-porandakan musuh, dan kami selamat dengan berkah hizb bahr'”.

Penjagaan khusus.

Kisah ini adalah pengalaman syekh Dawud bin makhilla Asy-Syadzili.

Beliau bercerita: ketika syekh Dawud sedang dalam perjalanan untuk menunaikan haji, syekh Dawud selalu membaca hizb bahr, dan jama’ah beliau selalu merasa aman dan tentram setelah membaca nya.

Pada suatu malam, ada beberapa orang yang telat mengikuti majlis pembacaan hizb bahr. Ketika semua nya terlelap, orang-orang yang telat tersebut barang nya habis dicuri oleh begal. Sedangkan yang lain selamat. 

Begitu juga ketika syekh Dawud di iskandariah. Beliau dan murid-muridnya memiliki kebiasaan membaca hizb bahr. Suatu waktu, ada beberapa murid yang telat, dan tak mengikuti membaca hizb. Ketika pelajaran dimulai, ada kalanjengking yang mendekati murid tersebut dan menyengat nya.

Salah satu orang shalih yang hadir dimajlis tersebut berkomentar: “ini sebab mereka meninggalkan hizb bahr”.

Kisah-kisah ini disarikan dari kitab al-lathifah al-mardhiyyah hal 90-92 karya syekh Dawud bin makhilla Asy-Syadzili, beliau merupaka murid dari syekh Abul Abbas al-Mursi. Setelah syekh al-Mursi wafat, beliau melanjutkan tarbiyah nya ke syekh Yaqut al-Arsyi dan syekh Ibnu Athoillah as-Sakandari penulis kitab Hikam yang masyhur.

Sebagai penutup dan tahadduts bin ni’mah, al-faqir mendapatkan ijazah hizb bahr dari beberapa guru, diantaranya syekh Yusri Jabr Al-Hasani, dan syekh Mahmud Abul Huda al-Husaini. 

Karena sanad syekh Yusri jabr Al-Hasani sudah masyhur diketahui, maka al-faqir -tabarrukan- menulis sanad syekh Abul Huda al-Husaini. Yang mana al-faqir hadir dimajlis syarh hizb bahr yang diampu oleh beliau, dan para hadirin diijazahkan hizb bahr beserta syarh yang ditulis oleh beliau.

Beliau meriwayatkan dari guru nya syekh Abdurrahman Asy-Syaguri, dari Syekh Muhammad al-Hasyimi, dari Syekh Ahmad bin Musthafa al-Alawi, dari Syekh Muhammad bin Al-Habib al-buwairidi, dari Syekh Muhammad bin Qadur al-wakili, dari Syekh Muhammad bin Abdul Qadir al-Basya, dari Syekh al-Arabi bin Ahmad ad-darqowi, dari Syekh Ali al-jumal, dari syekh Ahmad bin Abdullah, dari syekh syekh Qasim al-Khasasi, dari syekh Muhammad bin Abdullah, dari syekh Abdurrahman al-fasi, dari syekh Abdurrahman al-Majzub, dari syekh Ali ash-shanhaji, dari syekh Ibrahim al-fahham, dari syekh Ahmad Zaruq al-fasi, dari syekh Ahmad al-hadromy, dari syekh Yahya al-qadiri, dari syekh Ali al-wafa, dari syekh Dawud al-bakhili yang terkenal dengan syekh Dawud bin makhilla Asy-Syadzili, dari syekh Ibnu Athoillah as-Sakandari, dari syekh Abul Abbas al-Mursi,

Dari syekh al-qutb Abil Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar Asy-Syadzili.

18 Juli 2020, Kairo.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *