Di antara hadis yang menjadi pembahasan dalam Kajian Hadis Ahad Malam di Masjid Raya Mujahidin Pontianak adalah:

عَنْ أَبِي مُوسَى اْلأَشْعَرِي رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْأَشْعَرِيِّينَ إِذَا أَرْمَلُوا فِي الْغَزْوِ أَوْ قَلَّ طَعَامُ عِيَالِهِمْ بِالْمَدِينَةِ جَمَعُوا مَا كَانَ عِنْدَهُمْ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ ثُمَّ اقْتَسَمُوهُ بَيْنَهُمْ فِي إِنَاءٍ وَاحِدٍ بِالسَّوِيَّةِ فَهُمْ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ.

Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ariy, ia mengatakan, Rasulullah SAW. bersabda: “Sesungguhnya kaum Asy’ari apabila persediaan mereka dalam peperangan hamper habis atau makanan keluarga mereka sudah berkurang, segera mereka mengumpulkan semua persediaan yang ada pada mereka dalam satu kain, kemudian mereka membagikannya di antara mereka  sama rata. Mereka (Kaum Asy’ari) termasuk golonganku dan aku termasuk golongan mereka. (HR. Sepakat Bukhari dan Muslim). 

Dalam hadis ini, Rasulullah SAW. memuji-muji komunitas Asy’ari dengan menjadikan mereka sebagai contoh yang baik dalam membangun jiwa sosial dan kepedulian kebersamaan dalam mengatasi suatu masalah sosial. Bahkan Beliau mendeklarasikan, bahwa komunitas Asy’ari adalah bagian dari diri Nabi SAW. dan Beliau merupakan bagian dari mereka. Pengakuan ini adalah suatu keistimewaan bagi komunitas Asy’ari. 

Siapa komunitas Asy’ari?

Sebelum menguraikan tentang mereka, diawali dengan menjelaskan siapa Abu Musa al-Asy’ari sebagai sumber riwayat hadis di atas?

Abu Musa al-Asy’ari, namanya adalah Abdullah bin Qais. Lebih popular dengan nama Abu Musa al-Asy’ari. Beliau berasal dari suku Asy’ari di Yaman. Mendengar informasi bahwa di Mekah ada seorang Nabi yang datang mengajarkan tauhid, akhirnya ia datang ke Mekah menemui Rasulullah SAW. dan menyatakan diri masuk Islam sebelum hijrah ke Madinah. 

Abu Musa dikenal sebagai sahabat yang penuh ikhlas dalam segala hal. Orangnya sangat arif, bijaksana, cerdas, dan berani. 

Di antara ciri khas sekaligus menjadi keistimewaanya adalah mempunyai suara merdu yang sangat bagus ketika membaca al-Qur’an. Nabi SAW. menyatakan:

إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ أَوْ الْأَشْعَرِيَّ أُعْطِيَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُد

Sesungguhnya Abdullah bin Qais atau al-Asy’ari telah diberi salah satu suara merdu dari suara-suara merdu keluarga (nabi) Daud. (HR. Muslim dari Burdah).   

Nabi Daud ‘Alahissalam diberikan keistimewaan oleh Allah berupa suara merdu yang luar biasa. Bukan hanya manusia yang tertarik dan terkesimak mendengarnya, makhluk ciptaan Allah lainnya, hewan-hewan termasuk burung-burung di angkasa yang sedang terbang akan berhenti mendengarkannya ketika nabi Daud ‘alaihissalam lagi membaca firman Allah dalam kitab Zabur. Keindahan suara merdunya ini sebagiannya ada pada diri Abu Musa al-Asy’ari. 

Abu Musa seringkali diminta oleh Umar bin Khattab, apabila bertemu agar membacakan ayat-ayat al-Qur’an dengan suaranya yang indah dan merdu itu membuat asyik semakin rindu dan cintanya kepada Allah sebagai pemilik al-Qur’an. Kata Umar:

شَوِّقْنَا إِلَى رَبِّنَا يَا أَبَا مُوْسَى

“Wahai Abu Musa, Buatlah kami rindu kepada Allah, Tuhan kita”.

Bacaan al-Qur’an yang indah dan nyaman kedengarannya akan membuat suasananya terasa rindu dan semakin cinta dengan Allah. Suara al-Qur’an yang indah dan merdu inilah yang biasa membuat hati tergetar. 

Abu Musa memeluk Islam di hadapan nabi SAW. di Mekah, dan tinggal beberapa tahun di Mekah mengikuti kajian dan dakwah Islam yang langsung disampaikan oleh Nabi SAW.  

Setelah itu, ia balik ke Yaman, khususnya ke perkampungan komunitas suku Asy’ari menyampaikan amanah dakwah Islam, akhirnya orang-orang suku Asy’ari banyak yang masuk Islam. Ada 50 orang suku Asy’ari yang mengikuti jejaknya, dan mereka diikutkan dalam rombongan datang ke Madinah bertemu dengan Rasulullah SAW. Rombongan inilah yang dikenal dengan Asy’ariyiin (orang-orang suku Asy’ari) yang disebutkan oleh Nabi SAW. dalam hadis di atas. 

Imam Ahmad bin Hambal dalam Kitab Musnadnya bersumber dari Anas bin Malik, ia  menyebutkan bahwa ketika rombongan Asy’ari yang berasal dari Yaman ini menjelang tiba di Madinah, Rasulullah SAW. sudah mengetahui kedatangan mereka, dan Beliau bersabda mengingatkan kepada para sahabatnya: 

يَقْدَمُ عَلَيْكُمْ غَدًا أَقْوَامٌ، هُمْ أَرَقُّ قُلُوبًا لِلْإِسْلامِ مِنْكُمْ

Besok, akan datang kepada kalian, kaum (komunitas) yang hatinya lebih lembut dari pada kalian dalam menerima ajaran Islam. (HR. Ajhjmad dari Anas bin Malik).  

Dalam rombongan ini, Abu Musa ikut mendampingi sebagai pimpinannya. Saat mereka jelang atau dekat kota Madinah, mereka bersyair: 

غَدًا نَلْقَى الْأَحِبَّهْ، مُحَمَّدًا وَحِزْبَهْ

Besok kita akan bertemu dengan para kekasih 

Muhammad dan sahabat-sahabatnya.

Imam Ahmad dalam kitab Musnad-nya menyebutkan: 

فَلَمَّا أَنْ قَدِمُوا تَصَافَحُوا، فَكَانُوا هُمْ أَوَّلَ مَنْ أَحْدَثَ الْمُصَافَحَة

Ketika komunitas suku Asy’ari tiba di Madinah, mereka berjabat tangan bersalam-salaman antara satu dengan lainnya. Mereka inilah yang pertama kali mengadakan membiasakan berjabat tangan bersalam-salaman ketika berjumpa. (HR. Ahmad dari Anas bin Malik). 

Kebiasaan berjabat tangan bersalam-salaman inilah yang kemudian dikuatkan oleh Nabi SAW. dengan sabdanya: 

Tidaklah dua orang muslim bertemu, lalu keduanya berjabat tangan kecuali Allah akan mengampuni dosa keduanya sebelum berpisah. (HR. Tirmidzi dari al-Barra’bin Azib). 

Adapun hadis yang dikemukakan pada bagian awal di atas sebagai bagian dari tema besar tentang Itsar (Mendahulukan keopentingan orang lain) dalam Kitab Dalil al-Falihin, Nabi SAW. memuji-muji komunitas Asy’ari ini dengan menjadikan contoh kebiasaan komunitas Asy’ari yang bagus dalam menangani dan mengatasi suatu masalah, yaitu memelihara kepedulian secara bersama-sama, dengan cara menggalang dana sosial. Mereka mengumpulkan uang dan berbagai kekayaan lainnya untuk dikumpul di atas satu hamparan lembar kain. Setelah terkumpul, mereka mendistribusikan, membagi-bagikannya secara adil kepada mereka sesuai keperluan mereka. 

Bahkan Rasulullah SAW. memberikan apresiasi penghargaan khusus kepada Abu Musa al-Asy’ari yang sangat berjasa mengantarkan komunitas Asy’ari menjadi muslim dan bergabung dengan umat Islam di Madinah. Rasulullah SAW. mendoakan: 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ قَيْسٍ ذَنْبَهُ وَأَدْخِلْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُدْخَلًا كَرِيمًا

“Ya Allah, ampunila dosa Abdullah bin Qays (Abu Musa). Masukannlah ia pada hari kiamat di tempat yang terpuji.” (HR. Muslim dari Burdah).

Semoga kita dapat berbuat sebagaimana yang dilakukan oleh komunitas Asy’ari, atau minimal menjadi orang yang mendukung atau mencintai para aktifis dan praktisi pegiat social kemanusiaan sebagai ajaran Islam dalam rangka mengatasi berbagai masalah.

Semoga Bermanfaat.

Pontianak, 3 Nopember 2019

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *