Harus dimaklumi yang namanya kisah adalah ceritera lisan dari mulut ke mulut atau kata orang ini dan kata orang itu. Dalam istilah hadis, kisah itu ada rantai silsilah sanadnya dari satu generasi ke generasi lain dan seterusnya. Kisah yang baik adalah jika banyak  yang menceriterakan dan sanad bersambung tak ada yang terputus. Di samping itu, yang meriwayatkan kisah itu, kuat ingatannya, adil dan baik.

Terkait dengan Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia), NU Kalimantan Selatan, kata Abdullah SP bahwa orang yang membawa pertama kali adalah sastrawan Hijaz Yamani (1933-2001, ayah Micky Hidayat). Hijaz adalah tokoh sastra kelahiran Banjarmasin yang pada tahun 1961 hingga 1970 pindah bekerja ke Surabaya. Sambil bekerja, ia menyelesaikan studi tingkat Sarjana Mudanya di FKIP Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNNU). Antara tahun 1964-1970 ia menjadi Ketua Komda Lesbumi Jawa Timur. Sebelum ke Surabaya Hijaz sudah dikenal sebagai sastrawan Kalimantan Selatan. Ia pernah menjadi pendiri sekaligus Ketua Ikatan Pecinta Seni Sastra Banjarmasin (1954-1957) dan pendiri sekaligus Sekretaris Pertama Lembaga Kebudayaan Daerah Kalimantan (1957-1960).

Kemudian, kata Abdullah SP lagi, pasca peristiwa G 30 S/PKI 1965 kegiatan Lesbumi Kota Banjarmasin memasuki era keemasannya. Abdullah SP mengaku aktif di Lesbumi Kota Banjarmasin sejak tahun 1966 hingga 1970. Sebelum ia bergabung, Lesbumi sudah hidup di Kalimantan Selatan, kakaknya Hamdani pernah menjadi Ketua Lesbumi Kalimantan Selatan. Pada masa itu kantor Sekretariat Lesbumi, yang mereka (seniman) “plang-i” sebagai “Sanggar Ampih Marista” yang berada di Kantor PWNU Kalimantan Selatan, Bundaran Jalan Hasanuddin HM, berupa dua ruangan di bagian belakang yang mereka inapi. Beberapa tokoh seniman Kalimantan Selatan yang pernah tinggal di sanggar itu, selain Abdullah SP, Bakhtiar Sanderta (pernah Ketua Lesbumi Kota Banjarmasin), Ajamuddin Tifani, Iberamsyah Barbary dan masih beberapa lagi, di antaranya Arthum Artha (pernah Sekretaris Lesbumi, Kalimantan Selatan), Sirojul Huda, Rosyidi Aryadi, M.S. Sailillah, Syamsiar Seman (pernah sebagai Ketua Lesbumi PWNU Kalimantan Selatan 1999-2004) dan Bakhtar Suryani. Mereka umumnya adalah seniman serba bisa, karena kegiatan yang padat baik karena permintaan masyarakat maupun menandingi dan menyaingi kegiatan LEKRA sayap organisasi seniman PKI. Mereka berkegiatan rutin; menulis (puisi, cerpen dan skenario), melukis, mendekor dan bermain drama atau teater.

Kata Bakhtar Suryani, drama atau teater waktu itu, banyak diminta masyarakat untuk tampil tidak hanya di kota Banjarmasin, tapi juga sampai ke pelosok-pelosok daerah terutama Hulu Sungai. Lebih dari itu, kata Sirajul Huda pernah Lesbumi melakukan even besar menampilkan teater atau drama yang berjudul Masitah dan Fir’aun di Banjarmasin dan Martapura. Drama ini di lakukan di ruangan terbuka luas di halaman Masjid Noor dan Pasar Batuah.

Selanjutnya, kata Hajriansyah pada tahun 1970, Lesbumi mengalami kemunduran karena janji politik politisi NU yang diingkari. Para seniman yang tadi aktif di Lesbumi pindah ke organisasi kesenian dan kebudayaan lain. Pernah NU Kalimantan Selatan pada tahun 1999, berusaha menghidup dan membangkitkan kembali Lesbumi, namun sampai sekarang belum bangkit-bangkit jua.

[4/29, 06:01] ZeEmBe: Ini uneg-uneg saya soal catatan Cak Sumanto al-Qurtubi di statusnya beberapa hari silam. Saya sikapi karena memang rada kebablasan. Dan, alih-alih menjelaskan secara ilmiah, status itu malah menimbulkan masalah. 

Soal alasan umat Islam tidak memvisualisakan fisik Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam karikatur, lukisan, dan obyek imajinasi lain sudah dijelaskan oleh para ulama. Mau inggih, silahkan. Emoh juga monggo. Tak ada paksaan. Bagi saya ini wilayah esoterik ajaran Islam. Khashāish. Bisa dikaji dalam wilayah ta’abbudi dan ta’aqquli.

Karakter fisik Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sudah termaktub dalam banyak kitab hadits. Secara elegan, Imam At-Tirmidzi mengumpulkannya dalam As-Syamāil al-Muhammadiyyah. Imam Ibnu Katsir juga menyusunnya dalam Syamāil Ar-Rasul. Itu di antaranya. Kita bisa melampiaskan kerinduan kita kepada beliau dalam berbagai kesaksian para sahabat beliau. Kerinduan ada dalam hati, perasaan, wilayah sublim. Tidak bisa diukur dalam wujud visual empiris. Ini bagi saya, lho ya.

Setiap ajaran agama memiliki wilayah esoterik dan eksoterik. Keduanya bisa dikaji secara ilmiah, kok. Sebagai umat Islam, saya menghormati ajaran agama lain dalam wilayah esoteriknya. Itu keyakinan mereka. Terserah. Jika ajaran agama lain memperbolehkan makan babi, misalnya, saya tak hendak menggugat ajaran agama saya tentang larangan nyam-nyam daging merah muda yang dalam penuturan konsumennya memang enak (khakhakhakha). Juga tak hendak mencari pembenaran ilmiah soal larangan ini. Selesai!

Para penganut Sikh bisa tersinggung manakala kita memegang janggutnya dengan nada olok-olok, juga melepas turban mereka. Ada wilayah sakral dalam setiap agama yang tidak bisa kita bandingkan satu sama lain, apalagi dalam wujud kalimat-kalimat yang merendahkan. Maulana Ja’far Shadiq alias Sunan Kudus sudah mengajarkan wilayah toleransi ini setengah milenium silam. Ketika beliau melarang para santrinya menyembelih sapi, semata-mata menghormati pemeluk Hindu yang memuliakannya. Ini wilayah Hukum Irsyadi, hukum lokal, yang secara bijak dilaksanakan untuk mencegah dampak yang buruk. Khususnya dalam relasi antar agama. Tindakan yang  sangat cerdas!

Ajaran Islam juga melarang homoseksual dan semacamnya. Saya juga tak hendak mengikuti teori-teori sosiologi, psikologi dan seksologi yang membenarkan dan memperbolehkan tindakan ini. Terlalu konyol juga beberapa teks ajaran Islam saya gunakan sebagai keset, ya keset, pembenaran LGBT. Toh, yang saya lihat beberapa pemikir tipikal begini hanya berani melakukan pembongkaran teks dan kritik brutal terhadap teks keagamaan yang sudah “mapan”, tapi tidak berani secara brutal membongkar teori-teori psikologi atau saintis yang positivistik, bahkan dengan gaya bahasa yang sama sinisnya, dengan ketika dia melakukan kritik yang sama terhadap bangunan “teks agama”. 

Saya justru tertarik mengamati polah tingkah intelektual semacam ini menggunakan teori Poskolonialisme ala Homi K. Bhaba, Gayatri Chakravorty Spivak, maupun Frantz Fanon. Dahsyat betul! Jika belum cukup, kita kaji menggunakan sudut pandang Orientalisme ala Edward Said. Sikap inferior, minder, membebek yang secara kasat mata tampil dalam sikap dan perilaku serta pola pikir “bangsa terjajah”. 

Kita perlu mendefinisikan ulang kedirian kita. Tanpa perlu menjadi kacung yang bersimpuh luluh di hadapan majikan dan memamahbiak apapun yang disodorkan kepada kita, sembari mengolok-olok sinis ajaran agama. Jika kita bisa memahami keyakinan kultural semacam Sunda Wiwitan, Kejawen, dan agama lokal di Indonesia, mengapa harus menggugat secara kasar secara ekstravagan ajaran agama sendiri. 

Singkat kata, belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas, kata Tan Malaka.

Wallahu A’lam Bishshawab

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *