Renungan Ramadan 

Di bulan Ramadan ini, saya merefleksikan apa saja yang selama ini saya kejar dan saya berusaha lanjutkan. 

Perjalanan hidup, bacaan, pergaulan, pengamatan, dan pengalaman, membuat pandangan hidup saya tidak persis sama dengan sebelumnya. Ada yang tetap dan ada yang berubah. Dan saya bersyukur akan hal itu.

Saya ingin mendekatkan individu dan umat Islam dan Barat, termasuk Amerika Eropa. Saya ingin mendekatkan para pengikut Nabi Muhammad SAW, pengikut Isa atau Yesus, Nasrani, pengikut Musa Yahudi. Juga pengikut Siva, Wisnu, Buddha, Konghucu, Guru Nanak, Bahaullah, dan sebagainya. Mendekatkan kita yang sangat berbeda karena kita lahir dan tumbuh dalam tradisi agama dan kepercayaan kita masing-masing. Bukan salah saya, saya lahir dari orang tua Muslim dan mengajarkan saya Islam. Bukan salah Anda menjadi nasrani atau Yahudi atau Hindu. Bukan. Kita lahir memang berbeda dan justru dalam perbedaan itu kita bisa saling belajar dan memahami. 

Tapi saya juga ingin mendekatkan Sunni, Syiah, dan Ahmadiyah. Bukan hanya mendekatkan Muhammadiyah, NU, Persis, Al-Irsyad dan lain-lainnya, yang masih juga menjauh satu sama lain. Aliran-aliran dan organisasi keagamaan ada yang lestari ada yang punah, tapi pada dasarnya semua mereka melaksanakan sholat menyembah Allah yang sama.

Bahkan berteman, berkolega, dan bermahasiswa yang ateis agnostik, saya ingin mendekatkan kaum beriman dan kaum tidak beriman, yang tidak menerima Tuhan atau agama tapi menerima potensi kebaikan semua manusia termasuk umat beragama. 

Kepada mereka yang membenci agama dan umat beragama, saya jelaskan dan berdakwah untuk mengubah kebencian itu.

Dalam banyak kesempatan, saya juga ingin mendekatkan kita yang bukan orang Arab dan Arab, juga Cina, India, Asia, Afrika, dan bangsa-bangsa lain. Saya ingin mendekatkan Amerika dan Indonesia, dan bangsa-bangsa lain. Saya mengajak melawan rasisme dalam segala perwujudannya. Ini juga pemahaman saya Surat Al-Hujuran:13.

Saya juga ingin mendekatkan laki-laki dan perempuan bahwa bukan karena jenis kelamin kita lebih mulia dan baik. Bahkan saya ingin mendekatkan kita kaum heteroseksual dan semua yang lainnya, yang bisa dilabel LGBTQ, karena ada banyak kesamaan kemanusiaan kita di tengah perbedaan jender. Itulah mengapa Al-Quran juga menggunakan kata al-insan, manusia, yang tanpa jender, tidak hanya zakr wa untsa, rijal wa al-nisaa. 

Dakwah memahami dan menghormati hewan, tanaman, lingkungan hidup dan alam semesta. Karena kita bagian dari alam. Sebagai manusia mempunyai amanah menjaga alam selain menjaga semua manusia.

Inilah bagi saya da’wah kepada jalan Rabb al-alamin, Tuhan semua manusia, bukan tuhan kelompok yang terbatas saja. Dakwah dengan pengetahuan dan hikmah. Dakwah dengan pelajaran dan perilaku baik (mauidhah hasanah), dan dakwah dengan dialog yang terbaik, seperti yang saya pahami dari Al-Quran Surat Al-Nahl:125. 

Al-Nas atau manusia pada awalnya adalah umat yang satu (Al-Baqarah:213) dan dakwah para Nabi bertujuan memberi kabar gembira dan peringatan akan kesatuan umat manusia itu, dan segala hal yang manusia perselisihkan, sebagiannya kita bisa pahami tapi sebagian besarnya kita manusia tidak bisa pahami. Kita serahkan kepada Tuhan. Ada rasa rendah hati dan memahami perdebatan keyakinan, ritual, syariat, dan hukum-hukum yang sangatlah majemuk dulu dan sekarang (Al-Maidah:48 ) 

Dakwah menghindari supremasi agama tertentu atas agama lain. Supremasi ras, suku bangsa, dan identitas-identitas primordial lainnya.

Dakwah mendekatkan yang jauh dan yang merasa jauh meskipun sebetulnya dekat. 

Dakwah menjembatani batas-batas yang sebagiannya diberikan orang tua dan lingkungan kita, batas-batas yang kita sendiri sebetulnya kita lewati sadar atau tidak sadar. 

Dakwah menyejukkan suasana dan dunia yang makin panas. Menyejukkan hati nurani, akal pikiran, dan jasmani agar hidup menjadi lebih jernih, sehat, dan damai.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *