Ciri khas Para Nabi dan Rosul, selain punya wahyu, adalah punya mukjizat. Mukjizat berasal dari isim mashdar ‘ajzun yang artinya lemah. Sehingga mukjizat bermakna sesuatu yang bikin akal jadi lemah memikirkan sesuatu yang ditunjukkan Para Nabi tersebut, saking ajaibnya. Lebih singkatnya mukjizat adalah sesuatu yang ajaib, hingga akal awam bilang itu sihir.
Mukjizat digunakan untuk melemahkan akal orang kafir yang masih ngeyel dengan kekafirannya setelah terjadi adu argumen. Juga untuk makin memantapkan keimanan orang yang muslim amatiran.
Tapi sebenernya, yang namanya mukjizat itu masuk akal bisa terjadi, namun karena terjadi di luar kebiasaan, maka tampak ajaib. Seperti zam-zam yang keluar dari padang tandus, itu di luar kebiasaan, tapi ya masuk akal.
Ada cerita dari Sayyidina Salman Al Farisi RA yang diriwayatkan Imam Turmudzi dalam Syamail Muhammadiyah dan Siroh Nabawi Ibnu Hisyam.
Karena Sayyidina Salman ini masih jadi budak saat masuk Islam, maka banyak peperangan yang tidak bisa diikuti Salman. Kanjeng Nabi Muhammad SAW pun menyuruh Salman untuk memerdekakan dirinya dengan syarat imbalan. Istilah fiqihnya, jadi budak mukatab.
Salman pun membuat perjanjian dengan tuannya. Dan disepakati, Salman bisa merdeka dengan syarat Salman harus membayar sang tuan dengan tanaman 300 bibit kurma yang tertanam di kebun tuannya dan 40 ons emas. Salman terpaksa setuju.
Salman pun memberitahukan isi perjanjian itu pada Kanjeng Nabi SAW, tapi Salman mengaku bingung dari mana dia bisa dapat semua syarat tersebut. Kanjeng Nabi paham. Akhirnya Kanjeng Nabi mengumumkan pada semua para sahabat untuk mengumpulkan bibit kurma untuk membantu kesulitan Salman.
Akhirnya semua para sahabat gotong royong membantu Salman. Ada yang menyumbang 5 bibit, 10 bibit, 20 bibit, 30 bibit dan macam-macam. Hingga akhirnya pas terkumpul 300 bibit kurma.
Kanjeng Nabi menyuruh Salman menggali lubang untuk 300 bibit kurma itu, nanti tangan Kanjeng Nabi sendiri yang akan meletakkan bibit itu ke dalam tanah. Salman pun melaksanakan perintah Kanjeng Nabi tersebut. Nasib bibit kurma selama menunggu lubang tergali, pelan-pelan mulai layu. Para sahabat khawatir bibit jadi mati, tapi tidak bagi Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Setelah tergali 300 lubang, Salman segera melapor ke Kanjeng Nabi SAW. Kanjeng Nabi pun mulai menanami 300 bibit kurma tersebut satu-persatu. Semua bibit yang mulai layu, setelah dipegang Kanjeng Nabi, terlihat segar lagi. Dan ditemukan bibit pemberian Sayyidina Umar telah mati dan kering. Tapi Kanjeng Nabi tetap menanamnya. Dan ternyata 300 bibit kurma itu tumbuh dengan sehat, tidak ada yang mati. Salman kagum akan hal itu.
Lalu satu masalah lagi masih butuh solusi. Bagaimana mendapatkan emas sebanyak 40 ons?
Satu hari Kanjeng Nabi Muhammad mendapat hadiah sebuah emas sebesar telur ayam kampung dari pertambangan. Cukup kecil kalau dilihat. Kanjeng Nabi pun memberikannya pada Salman, “Salman, ambil emas ini untuk menutup hutangmu!”
“Duh Kanjeng Nabi, bagaimana emas sekecil ini bisa menutup hutang saya? Tanggungan saya 40 ons emas!” Jawab Salman.
Kanjeng Nabi mengambil emas itu, lalu membolak-baliknya di depan bibir Beliau SAW. Lalu Kanjeng Nabi bersabda lagi, “Salman, ambil emas ini untuk menutup hutangmu!”
Salman kali ini tidak membantah. Akhirnya beliau bawa emas itu ke tuannya. Setelah ditimbang, emas kecil itu punya berat 40 ons! Emas itu pun pas, gak kurang dan gak lebih, cukup untuk menutup syarat kedua.
Dengan begitu, bebaslah Salman dari perbudakan. Sayyidina Salman jadi orang merdeka. Setelah itu, barulah beliau RA ikut peperangan bersama Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan tak pernah absen. Perang pertama yang diikuti Sayyidina Salman adalah Perang Khondaq.
Imam Ghozali dawuh,
“Sesungguhnya Gusti Allah menciptakan para Malaikat dan mengutus para Nabi, lalu melengkapi para Nabi dengan mukjizat”

No responses yet