Pendahuluan

Saya harus memberikan penghormatan kepada mereka yang mengisi bulan Ramadan dengan tadarus Alquran. Saya melakukannya, tapi terus terang tidak bisa secara intensif hingga bisa tadarus berjuz-juz sampai khatam seperti orang-orang. Untuk mengisi bulan Ramadan bila rasa kantuk belum menghampiri saya terutama di malam hari, saya isi dengan membaca-baca kitab dan buku yang saya suka dan iseng-iseng saya buat review-nya atau bila buku itu berbasa asing (Arab atau Inggris) saya berusaha menerjemahkan pada bagian yang saya suka terutama pada bagian pendahuluannya. Pendahuluan sering menggambarkan isi kitab atau buku secara keseluruhan.

Dua malam ini saya membaca kitab karya Hujjah al-Islâm al-Ghazâlî, Kîmiyâ’ al-Sa’âdah (Beirut: Dâr al-Fikr, t.th) dan beberapa terjemahannya dalam bahasa Inggris yang saya unduh dari libgen.rus.ic.id dan internet archive Amerika. 

Beberapa Terjemahan Kîmiyâ’ al-Sa’âdah 

Kitab ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Persia dan Urdu. Setidaknya ada terjemahan bahasa Inggris oleh Claud Field, The Alchemy of Happiness dengan revisi, anotasi dan pengantar panjang oleh Elton L. Daniel yang satu diterbitkan oleh penerbit di London and New York, Routledge & Francis Group, 1991. Sedangkan yang satunya lagi dengan penerjemah yang sama tanpa anotasi dan pengantar penerjemah diterbitkan oleh oleh J. Murray,  1909 dan discan kembali tahun 2001.

Terjemahan Cloud Field ini bukanlah terjemahan langsung dari bahasa Arab yang merupakan edisi aslinya, melainkan terjemahan Inggris dari bahasa Hindustan, bahasa Urdu sebagaimana judul terjemahannya, The Alchemy of Happiness by al-Ghazâlî: Translated from the Hindustani. Ada satu lagi terjemahan bahasa Inggris oleh Muhammad Asim Bilal dan direvisi oleh Justice Dr. Munir Ahmad Mughal, Kîmiyâ’-i-Sa’âdat: Alchemy of Eternal Bliss of Abû Hâmid al-Ghazâlî (Lahore-Pakistan: Kazi Publication, 2001) yang bisa diunduh di internet archive Amerika. Terjemahan ini juga tidak langsung dari edisi Arabnya, mungkin dari terjemahan Urdu. Dalam bahasa Urdu dengan judul Kîmiyâ-i-Sa’âdat diterbitkan oleh Maktabah Rahmanîyah, Lahore. 

Dalam sebuah situs yang memuat terjemahan Urdu dideskripsikan tentang al-Ghazâlî dan kitab Kîmiyâ-i-Sa’âdat ini bahwa 

Muhammad al-Ghazali (semoga Allah mengasihani dia) adalah Imam dan pemimpin hingga saat ini. Banyak orang mengikutinya dan mengambil manfaat darinya. Allama Ismail Hazrami Yaman menyebut Imâm al-Ghazâlî sebagai Sayyid al-Musnafin. Allama Zubeidi telah mengutip kata-kata Abu Ibrahim Fateh bin Ali Al-Badhari dengan mengacu pada sejarah Baghdad bahwa “Saya belum pernah melihat orang yang fasih, alim dan cerdas seperti Imâm al-Ghazâlî”. 

Al-Ghazâlî, terlepas dari semua kesibukannya dalam mengarang dan menulis, mengajar dan mendidik murid-muridnya tentang kebenaran dan para pencari jalan, telah meninggalkan banyak karya yang tak terlupakan. “The Alchemy of Happiness” (Kimia Kebahagiaan) juga merupakan salah satu karyanya yang paling terkenal dan hidup. Di dalamnya, Imam al-Ghazali mendeskripsikan ilmu jiwa, ilmu Allah, ilmu dunia dan akhirat, rukun Islam, mengingat Allah, mendidik anak, tata krama, pengakuan halal dan haram, kewajiban beribadah, perintah melakukan kebaikan dan larangan melakukan kejahatan, dan sambil menyebutkan bahayanya, serta nasihat untuk menghindarinya,….” Kitab ini adalah terjemahan Kimia Kebahagiaan dalam Urdu yang sederhana dan mudah dipahami dibandingkan terjemahan lainnya, sebuah terjemahan yang standar, lengkap, otentik, andal, aman dari segala jenis manuskrip, dan merupakan ungkapan pikiran penulis yang benar. Semoga Allah membantu kita mendapatkan manfaat dari kitab ini. Amin

Kîmiyâ’ al-Sa’âdah dan Karya al-Ghazâlî lainnya

Elton L. Daniel memberikan pengantar yang panjang untuk terjemahan oleh Claud Field yang saya terjemahkan sebagiannya saja karena terlalu panjangnya pengantar itu. Menurut Elton L. Daniel ada banyak kebingungan tentang teks dalam bahasa Persia oleh al-Ghazâlî yang dikenal sebagai The Alchemy of Happiness (Kîmiyâ-yi sa’âdat dan hubungannya dengan magnum opusnya, The Revivification of Religious Sciences (Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn). Kebingungan belum terbantu oleh fakta bahwa ada risalah dalam Bahasa Arab dengan judul yang sama. 

The Revivification of Religious Sciences (Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn), secara natural telah menjadi karya Ghazali yang paling terkenal di Dunia Arab dan kalangan sarjana Islam Barat. Sedangkan kitab Kîmiyâ’ al-Sa’âdah umumnya merupakan karya yang paling akrab bagi orang Persia di mana ia berbicara kepada audiens di Iran dan anak benua India. 

Relatif sedikit sarjana yang akrab dengan kedua teks ini, dan teks dalam bahasa Persia tidak memiliki edisi kritis. Para sarjana bermacam-macam pendapat, ada yang menyatakan bahwa Alkimia tidak lebih dari sebuah terjemahan atau ringkasan dari Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn. Ada juga yang mengatakan  bahwa Alkimia itu adalah karya yang sama sekali berbeda dengan Ihyâ’.

Namun, kini setelah kitab ini  sepenuhnya dalam bahasa Persia diterbitkan, adalah mungkin bisa memperjelas hal ini. Dalam pengantar teks Persia, GhazaIi secara eksplisit menyatakan bahwa dia menulis Alkimia sebagai ringkasan karya-karyanya dalam bahasa Arab, yaitu Ihyâ dan beberapa tulisannya yang lain, lalu disederhanakan dan ditulis dalam bahasa Persia untuk menjangkau pembaca populer yang lebih luas. Ihyâ’  dan Kîmiyã al-Sa’âdah dengan demikian sangat mirip satu sama lain, hampir cukup dekat untuk menyebut bahwa Kîmiyâ adalah sebuah  ringkasan dari Ihyâ’. Keduanya diatur sesuai dengan rencana yang sama. Keduanya, dibagi menjadi empat bagian utama, masing-masing dibagi menjadi sepuluh bab. Keduanya membahas secara sistematis mulai dari ibadah, perbuatan  yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, perbuatan yang mengarah pada kebinasaan, dan perbuatan yang mengarah pada keselamatan. Dengan hanya beberapa pengecualian, pengaturan dari empat puluh bab Ihyâ’ identik dengan yang ada di Alchemy.  

Namun demikian, ada beberapa perbedaan signifikan di antara keduanya karya ini yang pada intinya bahwa Kîmiyâ’ dimaksudkan sebagai panduan untuk berbuat daripada kontemplasi dan bahwa Kîmiyâ jauh lebih intens  dan lebih terlibat dalam hal pengenalan atau pengetahuan diri dan Tuhan. Kitab ini terdiri dari empat bab, yang tidak satu pun dari bab-bab itu ditemukan dalam Ihyâ’ di mana semuanya berurusan dengan tema pengetahuan, yaitu pengetahuan tentang diri, pengetahuan tentang Tuhan, pengetahuan tentang dunia sebagaimana adanya, dan pengetahuan tentang akhirat. 

Dengan mengambil gambaran secara bersama-sama, baik Ihyâ maupun Kîmiyâ menawarkan gambaran filosofi Ghazali sebagai sebuah keseluruhan. Meskipun dilihat dari isi spesifik dari masing-masing bab dari Ihyâ’ dan Kîmiyâ juga agak berbeda. Kitab Ihyâ’, misalnya, cenderung membuat lebih ekstensif penggunaan kutipan Alquran dan kutipan Hadith, sedangkan kitab Kîmiyâ’ agak lebih cenderung menggunakan anekdot dari kehidupan para sufi terkenal. Kitab Ihyâ juga cenderung lebih panjang pada uraian aspek eksternal dan praktik legalistik agama,  sementara Kîmiyâ’ agak lebih bebas dalam menguraikan pada aspek spiritual “batin”. 

Baik  kitab Kîmiyâ’ maupun Ihyâ’ telah dikaitkan dengan periode pertengahan karir menulis Ghazali selama pengasingan atau retretnya dari kehidupan publik (dari 488/1095 hingga 499/1105). Kîmiyâ’, bagaimanapun, menyebutkan beberapa dari karya Ghazali selain Ihyâ’, termasuk Jawâhir al-Qur’ân (Permata Alquran), kitab Asmâ’ Allâh al-Husnâ’ (Penjelasan tentang Nama-nama Allah), Bidâyah al-Hidâyah (Permulaan Bimbingan), dan Mishkât al-Anwâr(Ceruk Cahaya). Karena Mishkat adalah karya yang sangat belakangan ditulie oleh Ghazali tampaknya Kîmiyâ’ seharusnya ditulis pada tahun-tahun terakhir kehidupan Ghazali. 

Teks Kîmiyâ’ bagi pembaca modern sebagai kitab dengan ide-ide dari intelektual Muslim yang hebat, karena kitab ini mewakili salah satu karya terakhirnya, serta sebuah ringkasan  pemikirannya dan upaya untuk mencapai yang seluas-luasnya kemungkinan pembaca. Kumpulan kutipan dari Kîmiyã’ ini didasarkan pada terjemahan bahasa Inggris oleh Claud Field pada tahun 1910. Sama seperti terjemahan sebelumnya dari karya ini di mana telah diterjemahkan dari teks berbahasa Turki teks. Sayangnya, Field menerjemahkan dari versi teks bahasa Urdu yang tidak kritis daripada versi teks asli dalam bahasa Persia.

Meskipun begitu, terjemahan Field memiliki dua manfaat besar: Menyusun teks dalam prosa Inggris yang sangat tepat, meskipun sangat kuno, dan ia menerjemahkan keseluruhan dari empat bab pengantar dari Kîmiyâ’, sehingga tersedia bagian Kîmiyâ tersebut yang tidak ada bandingannya dengan Ihyâ’. Untuk revisi terjemahan Field ini, saya telah membandingkannya ke bagian teks yang sesuai dari terbitan baru-baru ini dalam Edisi Persia. Berbeda dengan teks Persia,  terjemahan Field sangat padat di beberapa bagian karena berbagai frasa banyak dihilangkan, seperti  hadith dan anekdot yang berlebihan yang dikutip di teks Persia. 

Secara umum, pendahuluan dan penutup bagian dari setiap bab sangat dekat dengan teks Persia, tetapi bagian tengah cenderung disingkat, terkadang sesedikit mungkin sebagai sepertiga dari ukuran aslinya. Secara keseluruhan, bagaimanapun, terjemahan Field sesuai dengan aslinya dalam bahasa Persia dan tentu saja demikian tidak ada kesulitan pada inti pesan Ghazali. Oleh karena itu saya membatasi diri saya untuk membuat hanya revisi pada beberapa bagian dari terjemahan Field. Saya telah mengoreksi pada kesalahan ketik dan mengubah ejaan nama dan persyaratan agar sesuai dengan sistem modern yang dapat diterima untuk transliterasi dari aksara Arab. Saya juga telah mengatur ulang urutan beberapa bab dan mengubah pembagiannya jumlah paragraf agar sesuai dengan yang ada di Kîmiyâ’ edisi Persia.

Terakhir, penjelasan Field pada catatan kakinya untuk teks terjemahannya sedikit dan tidak memadai. Karena itu saya menghilangkannya dan mengganti catatan kaki saya sendiri untuk mengidentifikasi orang dan kutipan yang disebutkan dalam teks, untuk memperjelas poin-poin yang mungkin membingungkan pembaca yang tidak terbiasa dengan Ghazali dan pemikiran Islam. 

Sebagai kesimpulan, saya harus membuat permintaan maaf karena menganggap demikian menawarkan apa yang tidak lebih dari revisi bahasa Inggris terjemahan dari sebuah ringkasan Urdu dari sebuah teks Persia dari edisi yang pertama yang ditulis Ghazali dalam bahasa Arab hampir seribu tahun yang lalu. Menurut saya, hampir tidak ada pengakuan yang lebih baik dari Ghazali bagi daya tarik universal dari transmisi yang beraneka ragam dari karyanya ini. Jika, seperti yang saya harapkan, kejernihan dan kecemerlangan pemikirannya bisa bertahan begitu banyak lapisan kebingungan untuk mencapai pembaca modern satu lagi pengakuan tentang betapa hebatnya kejeniusannya.

Demikian pengantar Elton L. Daniel yang cenderung mengupas Kímiyâ’ al-Sa’âdah dengan membandingkannya dengan magnum opus al-Ghazâlî, Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn. Sejauh ini, yang saya ketahui memang belum ada terjemahan Kîmiyâ’ al-Sa’âdah dalam bahasa Inggris yang langsung dari edisi Arabnya. Seperti disinggung di atas, semua terjemahan kitab ini ke dalam bahasa Inggris adalah dari bahasa Urdu, meskipun Field sendiri melakukan perbandingan dengan bahasa Persia.

Beberapa Kutipan dari Kîniyâ’ al-Sa’âdah

Berikut saya kutip beberapa bagian saya anggap penting dari kitab Kîmiyâ’ al-Sa’âdah terjemahan Cloud Field. 

Abû Hâmid Muhammad al-Ghazâlî berkata:

Ketahuilah, manusia tidak diciptakan secara  main-main atau sembarangan. Ia diciptakan dengan sebaik-baiknya dan demi tujuan yang mulia. Meski bukan bagian dari Yang Kekal, ia hidup selamanya; meski jasadnya rapuh dan membumi, ruhnya mulia dan bersifat ilahi. Melalui tempaan zuhud, ia sucikan dirinya dari nafsu jasmani dan mencapai tingkatan tertinggi, tidak menjadi budak nafsu, dan meraih sifat-sifat malakut. Ia temukan surganya dalam perenungan tentang Keindahan Abadi dan tak lagi memedulikan kenikmatan badani. Kimia ruhani yang mampu menghasilkan perubahan seperti ini, layaknya kimia yang mengubah logam biasa menjadi emas, tak mudah ditemukan. Kitab ini ditulis untuk menjelaskan kmia ruhani tersebut beserta metode operasinya.

Khazanah ilahi yang menuturkan kimia ini terkandung dalam hati para nabi. Siapa 

saja yang mencarinya di tempat lain pasti akan kecewa dan terpuruk di hari berbangkit, ketika dikatakan kepadanya:…Telah Kami angkat tirai itu darimu dan pandanganmu pada hari ini sangatlah tajam. (Q. 50:22).

Allah telah mengutus ke dunia ini 124 ribu orang nabi untuk mengajar manusia 

tentang resep kimia ini dan bagaimana cara menyucikan hati mereka dari sifat-sifat hina melalui zuhud. Jadi, secara ringkas dapat dikatakan bahwa Kimia Kebahagiaan adalah berpaling dari dunia untuk menghadap kepada Allah. Kimia Kebahagiaan terdiri atas empat elemen, yaitu pengetahuan tentang diri pengetahuan tentang Allah, pengetahuan tentang dunia sebagaimana adanya, dan  pengetahuan tentang akhirat sebagaimana adanya. Mari kita jelajahi satu demi satu keempat elemen tersebut.

Fasal 1: Mengenal Diri. Mengenal diri adalah kunci untuk mengenal Tuhan, sesuai ungkapan hadis: “Siapa yang mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya,” dan sebagaimana dikatakan Alquran: Akan Kami tunjukkan ayat-ayat Kami di dunia ini dan dalam diri mereka agar kebenaran tampak bagi mereka. (Q. 41: 53).

Ketahuilah, tak ada yang lebih dekat kepadamu kecuali dirimu sendiri. Jika kau tidak mengetahui dirimu sendiri, bagaimana bisa mengetahui yang lain. Pengetahuanmu 

tentang diri sendiri dari sisi lahiriah, seperti bentuk muka, badan, anggota tubuh, dan lainnya sama sekali tak akan mengantarmu untuk mengenal Tuhan. Sama halnya, pengetahuanmu mengenai karakter fisikal dirimu, seperti bahwa kalau lapar kaumakan, kalau sedih kau menangis, dan kalau marah kau menyerang, bukanlah kunci menuju pengetahuan tentang Tuhan. Bagaimana bisa kau mencapai kemajuan dalam perjalanan ini jika kau mengandalkan insting hewani serupa itu? Sesungguhnya pengetahuan yang benar tentang diri meliputi beberapa hal 

berikut: Siapa aku dan dari mana aku datang? Ke mana aku akan pergi, apa tujuan kedatangan dan persinggahanku di dunia ini, dan di manakah kebahagiaan sejati dapat ditemukan? Ketahuilah, ada tiga sifat yang bersemayam dalam dirimu: hewan, setan, dan malaikat. Harus kautemukan, mana di antara ketiganya yang aksidental dan mana yang esensial. Tanpa menyingkap rahasia itu, kau tak akan temukan kebahagiaan sejati.

Fasal 2: Mengenal Allah. Sebuah hadis Nabi saw. yang terkenal ber�bunyi “Barang siapa mengenal dirinya, ia mengenal Allah.” Artinya, dengan merenungkan wujud dan sifat- sifatnya, manusia sampai pada sebagian pengetahuan tentang Allah. 

Mengingat banyak orang yang merenungkan dirinya tetapi tak juga menemu Tuhannya, berarti ada cara-cara tersendiri untuk menjailani perenungan itu. Kenyataannya, ada dua metode untuk bisa sampai pada pengetahuan ini. Salah satunya terlalu musykil sehingga tak bisa dicerna kecerdasan biasa dan, karenanya, lebih baik tidak kita bahas di sini.

Metode lain adalah sebagai berikut. Jika seseorang merenungkan dirinya, ia akan mengetahui bahwa sebelumnya ia tidak ada, sebagaimana tertulis dalam Alquran: Tidak�kah manusia tahu bahwa sebelumnya ia bukan apa-apa?(Q. 76: 1). Lalu ia akan mengetahui bahwa ia terbuat dari setetes air yang tak mengandung intelek, pendengaran, kepala, tangan, kaki, dan seterusnya. Jadi jelaslah, setinggi apa pun tingkat kesempurna-annya, ia tidak menciptakan dirinya, bahkan tak kuasa untuk menciptakan meski hanya sehelai rambut.

Cinta adalah benih kebahagiaan, dan cinta kepada Allah dapat ditumbuhkan dan 

dikembangkan oleh ibadah. Ibadah dan zikir tak berkesudahan mencerminkan suatu tingkat keprihatinan dan pengekangan nafsu badani. Ini tidak berarti ia harus memusnahkan nafsu badani sepenuhnya, karena jika begitu, ras manusia akan musnah. 

Fasal 3: Mengenal Dunia. Dunia ini adalah sebuah panggung atau pasar yang disinggahi para musafir dalam perjalanan mereka ke tempat lain. Di sinilah 

mereka membekali diri dengan berbagai perbekalan. Dengan bantuan perangkat indriawinya, manusia harus memperoleh pengetahuan tentang ciptaan Allah dan, melalui perenungan terhadap semua ciptaan-Nya itu, ia akan mengenal Allah. Pandangan manusia mengenai Tuhannya akan menentukan nasibnya di masa depan. Untuk memperoleh pengetahuan inilah ruh manusia diturunkan ke dunia tanah dan air. Selama indranya masih berfungsi, ia akan menetap di alam ini. 

Jika semuanya telah sirna dan yang tertinggal hanya sifat-sifat esensinya, berarti ia telah pergi ke “alam lain”. Selama hidup di dunia ini, manusia harus menjalankan dua hal penting, yaitu melindungi dan memelihara jiwanya, serta merawat dan mengembangkan jasadnya. Jiwa kan terpelihara dengan pengetahuan dan cinta kepada Allah. Sebaliknya, jiwa akan 

hancur jika seseorang terserap dalam kecintaan kepada sesuatu selain Allah.

Sementara itu, jasad hanyalah hewan tunggangan bagi jiwa, yang kelak akan musnah. Setelah kehancuran jasad, jiwa akan abadi. Kendati demikian, jiwa harus merawat jasad layaknya seorang pedagang yang selalu merawat unta tunggangannya. Tetapi jika ia menghabiskan waktunya untuk memberi makan dan menghiasi untanya, tentu rombongan kafilah akan meninggalkannya dan ia akan mati sendirian di padang pasir.

Fasal 4: Mengenal Akhirat. Orang yang memercayai Alquran dan Sunah sudah tidak asing lagi dengan konsep nikmat surga dan siksa neraka yang menanti di akhirat. Namun, ada hal penting yang sering mereka luputkan, yakni bahwa ada surga ruhani dan neraka ruhani. Mengenai surga ruhani, Allah berfirman kepada Nabi-Nya, “Tak pernah dilihat mata, tak pernah didengar telinga, dan tak pernah terlintas dalam hati manusia, itulah nikmat yang disiapkan bagi orang yang bertakwa.”

Hati orang yang tercerahkan memiliki satu jendela yang terbuka ke arah dunia ruhani sehingga ia dapat mengetahui—bukan dari kabar angin atau kepercayaan tradisional, melainkan teralami secara nyata—dokter mengenai segala penyebab rasa sakit atau pendukung kesehatan. Ia tahu bahwa pengetahuan tentang Allah dan ibadah kepada-Nya menjadi obat bagi jiwa, sementara kebodohan dan dosa menjadi racun yang merusaknya. Banyak orang, bahkan juga yang disebut ulama, karena bertaklid 

buta terhadap pendapat orang lain, tak punya keyakinan yang benar berkenaan dengan kebahagiaan atau penderitaan jiwa di akhirat. Tetapi orang yang mau mempelajari masalah ini dengan pikiran yang bersih dari prasangka akan sampai pada keyakinan yang jelas mengenai masalah ini.

Fasal 5: Spiritualitas dalam Musik dan Tarian. Allah Yang Mahakuasa menciptakan hati 

manusia bagaikan sebuah batu api. Ia menyimpan api yang akan berpijar-pijar musik dan harmoni, yang mampu memberikan ketenteraman kepadanya dan orang lain. 

Harmoni yang dinikmati manusia merupakan gema dari keindahan dunia yang lebih 

tinggi, yang kita sebut dunia ruh. Ia mengingatkan bahwa manusia terhubung dengan dunia itu, dan membangkitkan emosi yang sedemikian dalam dan asing dalam dirinya sehingga ia sendiri tak kuasa menjelaskannya. Musik dan tarian sangat dalam memengaruhi keadaan hati manusia; ia menyalakan cinta yang tertidur dalam hati—cinta yang bersifat duniawi dan indriawi, maupun yang ilahi dan ruhani.

Para teolog bersilang pendapat mengenai kebolehan musik dan tarian dalam aktivitas keagamaan. Mazhab Zahiriah berpendapat bahwa Allah sama sekali tak dapat dipersepsi manusia. Mereka menolak kemungkinan manusia bisa benar-benar merasakan cinta kepada Allah. Bagi mereka, manusia hanya bisa mencintai makhluk. Cinta yang diyakini sebagian manusia sebagai cinta kepada Sang 

Khalik hanyalah proyeksi dari rasa cintanya kepada makhluk atau sekadar bayang-bayang yang tercipta oleh khayalannya. Musik dan tarian, menurut mereka, hanya berurusan dengan cinta kepada makhluk dan, karenanya, haram dipergunakan dalam kegiatan keagamaan. Jika kita tanya mereka, apa arti “cinta kepada Allah” yang diperintahkan syariat, mereka menjawab bahwa hal itu berarti ketaatan dan ibadah. Kekeliruan pandangan mereka itu akan kita jelaskan pada bab tentang cinta kepada Allah. 

Untuk saat ini cukuplah jika kita katakan bahwa musik dan tarian tidak memberikan sesuatu yang sebelumnya tidak ada dalam hati, tetapi ia hanya membangunkan emosi yang tertidur. Karena itu, jika yang dibangkitkan adalah cinta kepada Allah—yang sangat dianjurkan syariat—musik dan tarian boleh dipergunakan, bahkan dianjurkan. Sebaliknya, jika yang memenuhi hatinya adalah nafsu duniawi, musik dan tarian hanya akan memperburuk keadaannya sehingga keduanya terlarang. Hukum keduanya menjadi mubah jika dimaksudkan semata untuk hiburan. Kenyataan bahwa musik dan tarian menenteramkan hati tidak lantas membuatnya haram, sebagaimana mendengarkan nyanyian burung, atau melihat rumput hijau dan air yang mengalir. Bahkan kita mendapati sebuah hadis sahih dari Aisyah r.a. mengenai kebolehan musik dan tarian yang dipergunakan semata-mata sebagai hiburan:

Fasal 6: Muhasabah dan Zikir. Ketahuilah Allah telah berfirman dalam Alquran, “Akan Kami pasang satu timbangan yang adil di Hari Perhitungan dan tak akan ada jiwa yang dianiaya dalam segala hal.” Siapa saja yang melakukan keburukan atau kebaikan meski hanya seberat biji sawi, pasti ia akan mendapati balasannya. Takkan ada sedikit pun yang diluputkan timbangan itu. Dalam ayat yang berbeda, Allah berfirman, “Setiap jiwa akan melihat apa yang diperbuat sebelumnya pada Hari Perhitung�an.” Khalifah Umar diriwayatkan pernah berkata, “Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab.” Dan Tuhan berfirman, “Wahai kaum mukminin, bersabar dan berjuanglah melawan nafsumu, dan kemudian istikamahlah.”

Para wali memahami bahwa mereka datang ke dunia ini untuk menjalani perjuangan batin yang hasilnya akan menentukan nasib akhir mereka: surga atau neraka. Karena itu, mereka selalu mewaspadai tubuh mereka yang kerap kali mengkhinati jiwa agar mereka tak menderita kerugian besar. Seorang yang bijak pasti akan melakukan muhasabah setiap pagi setelah salat subuh dan berkata kepada jiwanya, “Wahai jiwaku, tujuan hidupmu hanya satu. Meski sedetik, saat yang telah lewat takkan bisa dikembalikan karena dalam perbendaharaan Allah bagian napasmu sudah ditentukan, tak bisa ditambah atau dikurangi. Saat kehidupan telah berakhir, tak ada lagi laku batin yang dapat kaujalani. Karena itu, apa yang bisa kaukerjakan, kerjakanlah sekarang. Perlakukan hari ini layaknya hidupmu telah habis dan hari yang akan kau jalani hanyalah bonus yang dianugerahkan Allah Yang Maharahim. Sungguh salah besar jika kau menyia-nyiakan hari yang kauhidupi!”

Fasal 7: Perkawinan: Pendorong ataukah Perintang Kehidupan Beragama? Perkawinan memainkan peranan besar dalam kehidupan manusia sehingga ia perlu diperhitungkan saat kita membahas tema spiritualitas. Kita akan membahasnya dari dua aspek yang berlawanan, yaitu keuntungan dan kerugiannya. 

Ada beberapa keuntungan yang didapat dari perkawinan: pertama, kita tahu bahwa 

Allah menciptakan manusia dan jin untuk beribadah. Berkat perkawinan, jumlah para penyembah Allah semakin bertambah banyak. Karena itu, ada sebuah pepatah yang dikenal di antara para ahli kalam: sibukkan memanggil ayah dan ibunya sehingga orangtua yang masih berada di luar diperintah untuk masuk dan bergabung dengan anak-anak mereka.”

Fasal 8: Cinta Kepada Allah. Cinta kepada Allah adalah topik paling peniting dan tujuan akhir pembahasan buku ini. Di depan kita telah membahas ancaman dan rintangan ruhaniah yang merusak kecintaan manusia kepada Allah. Kita pun telah membahas sifat-sifat baik yang diperlukan untuk membangkitkan dan menambah kecintaan kepada-Nya. Kesempurnaan manusia tercapai jika cinta kepada Allah memenuhi dan menguasai hatinya. Seandainya cinta kepada Allah tidak sepenuhnya menguasai hati, setidaknya ia menjadi perasaan paling dominan, mengatasi kecintaannya kepada selain Dia. Tentu saja, kita sulit mencapai tingkatan cinta kepada Allah. Tak heran jika sebuah mazhab kalam sama sekali menyangkal kenyataan bahwa manusia bisa mencintai suatu wujud yang bukan spesiesnya. Mereka mengartikan cinta kepada Allah hanya sebatas ketaatan kepada-Nya. Orang yang berpendapat seperti itu sesungguhnya tidak mengetahui apa makna agama yang sebenarnya.

Seluruh muslim sepakat bahwa mereka 

wajib mencintai Allah, sebagaimana firman�Nya tentang sifat kaum beriman: “Dia mencintai mereka dan mereka mencintai- Nya,” dan sabda Nabi saw., “Sebelum seseorang mencintai Allah dan Nabi-Nya melebihi cintanya kepada yang lain, imannya tidak benar.” Ketika malaikat maut datang menjemput, Nabi Ibrahim berkata, “Pernahkah kau melihat seorang sahabat mengambil nyawa sahabatnya?” Allah menjawab, “Pernahkah kau melihat seorang kawan yang tidak suka melihat kawannya?” Maka Ibrahim pun berkata, “Wahai Izrail, ambillah nyawaku!” 

Doa berikut ini diajarkan oleh Nabi saw. kepada para sahabatnya: “Ya Allah, berilah aku kecintaan kepada-Mu dan kecintaan kepada orang�orang yang mencintai-Mu, dan segala yangmembawaku lebih dekat kepada cinta-Mu. Jadikanlah cinta-Mu lebih berharga bagiku daripada air dingin bagi orang yang 

kehausan.” 

Hasan al-Basri sering berkata, “Orang yang mengenal Allah akan mencintai-Nya dan orang yang mengenal dunia akan membencinya.” Diterjemahkan dari The Alchemy of Happiness, penerjemah Claud Field (London: J. Murray, London, 2001).

-Pinggir kolam rumah, 18 Ramadan 1442 H./ 1 Mei 2021 M.-

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *