Pada awal dakwah Nabi di Mekkah, ada Seorang Quraisyiy dari Bani Abuddar, namanya An-Nadhr Ibn Harist.

Ia terkenal akan kecerdasan akalnya, licik, berpengetahuan tinggi dan banyak pengalaman. Yang demikian itu, karena ia berniaga hingga sering bepergian ke berbagai wilayah Romawi, Persia dan sekitarnya, dan ia bertemu banyak orang cerdik-pandai. Khususnya ia bertemu bnyak tradisi dan budaya dari berbagai suku dan bangsa. Oleh karenanya, ia sangat berbangga diri dan merasa paling unggul di antara Suku-Suku di Mekkah.

Nah, saat pulang dari Tour-Bisnisnya, An-Nadhr dilapori akan adanya Orang Mekkah yang bernama Muhammad yang mengaku sebagai Nabi dan Rasul, yang mengajarkan Tauhid (Mengesakan Allah ta’ala) dan persamaan antar manusia (kecuali dalam Taqwa kepada Allah). Dan, para pembesar Suku Quraisy memintanya untuk menghentikan pengaruh Muhammad, supaya orang-orang Mekkah tetap menyembah berhala dan mengikuti ajaran serta tata aturan para leluhurnya. Lantas, ia pun setuju untuk memenuhi permintaan tersebut, karena Muhammad juga berpotensi mengancam eksistensi ‘keunggulannya’ di tengah masyarakat Mekkah.

Sehingga, An-Nadhr melakukan upaya-upaya serius, sebagai berikut;

Pertama, Ia selalu mendatangi dimana pun Muhammad berdakwah, lalu mengatakan di hadapan orang-orang bahwa yang disampaikan Muhammmad tak lain hanyalah dongeng-dongeng fiksi dari orang-orang terdahulu.

Lalu, sebagai tandingan, maka di hadapan orang banyak, ia pun menceritakan dongeng-dongeng yang diadopsinya dari tradisi Romawi dan Persia. Ini dilakukan, karena ia menganggap; bahwa orang-orang itu tertarik dengan Muhammad, karena Muhammad menyampaikan dongeng-dongeng fiksi yang membangkitkan imajinasi dan kesahduan.

Tetapi, Ternyata, An-Nadhr salah, dan ia pun gagal.

Karena, Yang disampaikan Muhammmad itu Al-Qur’an firman Allah ta’ala, maka setiap kali diperdengarkan, tentu akan masuk dan menembus pikiran, lalu menarik hati sanubari. Sementara, dongeng-dongeng yang diceritakan itu tak lebih hanya fiksi dan hiburan, sehingga ketika diulang-ulang, maka akan menimbulkan kejenuhan dan juga begitu membosankan.

Kedua, setelah gagal pada upaya pertama, maka ia berpikir; bahwa Muhammad itu menarik karena adanya lantunan indah, syahdu, dan bersajak pada hal yang dipresentasikannya di hadapan banyak orang. Sehingga, untuk menandinginya, ia pun memanggil para penyanyi dan penari untuk “pentas” dimanapun Muhammad berdakwah dan dikerumini orang. Dengan harapan, bahwa orang-orang itu lebih tertarik dengan nyanyian merdu dan jogetan seksi serta iming-iming hadiahnya. Kemudian orang-orang meninggalkan Muhammad, dan berakhirlah Muhammad berada pada kesendiriannya bersama suara dakwahnya, yang tak ada seorang pun yang sudi mendengarkannya.

Namun, nyatanya, An-Nadhr salah, dan ia pun gagal.

Karena, Muhammad mendakwahkan Al-Qur’an yang mencerahkan hati dan fikiran, sehingga ketika Al-Qur’an makin dipresentasikan, maka akan semakin nikmat dan mengajak berfikir, serta menambah ilmu pengetahuan. Sementara nyanyian yg dibawakan penari serta iming-iming hadiahnya, hanya menyenangkan Nafsu serta Melenakan fikiran dan hati. Ini hnya sementara. Sehingga, ketika datang kewarasan berfikir dan kejernihan hati, maka nyanyian dan tarian eksotis itu lama-lama akan membosankan, hambar, hampa, bahkan menjijikan.

Ketiga, setelah usahanya gagal, An-Nadhr pun pergi ke berbagai daerah untuk mencari inspirasi jitu. Akhirnya, ia pun bertemu Ahli Kitab di Yatsrib, dan dibekali 3 pertanyaan yg dirasa bisa menjatuhkan harkat martabat Muhammad di hadapan masyarakat Mekkah.

Lalu, ia pun pulang ke Makkah, dan membuat acara khusus dengan mengumpulkan banyak orang, yang diantaranya ia pun mengundang Muhammad untuk hadir. Dalam acaranya itu, ia bertanya kepada Muhammmad;

“Wahai Muhammad, jika kamu benar-benar Nabi Utusan Tuhan, tentu kamu bisa menjawab 3 pertanyaanku ini. Kamu bersedia?”

“Katakanlah, apa itu?!, jawab Muhammad.

Pertama; Tahukah kamu tentang sekelompok pemuda yang mengasingkan dirinya demi menjaga Iman-Akidahnya? Kedua, Tahukah kamu tentang Seorang Raja yang kekuasaannya meliputi Barat hingga Timur? Ketiga, bisakah menjelaskan tentang hakikat Ruh!?”

“Pemuda itu dikenal dengan Ashabul Kahfi”, jawab Muhammad. Lalu secara detail dibacakanlah Surah Al-Kahfi ayat 9 hingga 26.

“Raja Tersebut bernama Dzul Qarnain”, lanjut Muhammad menjawab. Kemudian untuk detailnya, dibacakanlah Surah Al-Kahfi ayat 83 hingga 101.

“Adapun soal Hakekat Ruh, itu urusan Allah ta’ala. Sementara Manusia tidaklah diberi pengetahuan, melainkan hanya sedikit”, Jawab Muhammad untuk pertanyaan ketiga. Kemudian, tanpa mendetailkan, dibacakanlah Surah Al-Isra’ ayat 85.

Akhirnya, strategi dan upaya An-Nadr gagal total. Bahkan, malah makin banyak orang bersimpati pada Dakwah Muhammmad.

Lalu, karena saking malu serta marahnya, kemudian makin dahsyat pula kedengkian serta kekufurannya terhadap Muhammad. Terlanjur basah, ya sekalian. Lantas An-Nadhr mengumpulkan orang lebih banyak dan lebih besar lagi. Tentu, diundang pula Muhammad di acaranya ini.

Lantas di hadapan khalayak ramai, ia hendak menjatuhkan kredibilitas Muhammad, dgn MENANTANG;

“Wahai Muhammmad, jika yang KAMU DAKWAHKAN ITU BENAR, maka mintalah Tuhanmu untuk MENGADZABKU, TURUNKANLAH HUJAN BATU”.

Ini adalah strategi dari An-Nadhr; bila ia baik-baik saja dan hujan batu tidak juga turun, maka berarti Muhammad berdusta, dan ia yg benar dan menang.

Allah ta’ala mengabadikan omongan An-Nadhr ini untuk dijadikan pelajaran oleh Umat Islam;

وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَٰذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, “Ya Allah, jika yang DIDAKWAHKAN MUHAMMMAD (Al-Qur’an) INI ADALAH HAQ (kebenaran), maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami ADZAB yang pedih.” (Q.S. Al-Anfaal; 32).

Demikianlah kisah An-Nadhr ibn Haris dengan segala UPAYA-KELAKUANNYA menentang kebenaran.

Lalu, Apakah Allah ta’ala langsung menurunkan Adzab kepadanya?

TIDAK.

Akan tetapi, Allah ta’ala membuatkan untuknya sebuah “skenario”; dimana ia akan dihinakan dan bertingkah memalukan terus-menerus. Hingga akhirnya, skenario Allah ta’ala akan Perang Badar menjadi kuburan bagi Musuh-Musuh Rasulullah, termasuk di dalamnya terbunuhnya An-Nadhr.

Semoga kisah ini bisa menjadi pengingat kita semua, untuk senantiasa waspada dan mawas diri, agar prilaku kita di dunia ini tidak meniru kelakuan orang-orang yang dimurkai Allah ta’ala.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *