Nama Sulaiman bin Mihran al-Asadi al-Kahali Abu Muhammad al-Kufi al-A’masy rahimahullah (680 – 765 M, Kufah, Iraq) atau kerap dipanggil dgn Al-A’masy ini adalah seorang perawi hadis, ahli Alquran dan ulama yg tinggal di Kufah, Irak. Al-A’masy termasuk golongan tabi’in yg terakhir. Ia adalah seorang yg tepercaya dalam meriwayatkan hadis.Selama hidup, ada kisah menarik tentang Al-A’masy. 

Pada suatu hari, Syekh Al-A’masy keluar dari rumahnya saat subuh. Dalam perjalanannya, Al-A’masy melewati sebuah masjid yg bernama Bani As’ad. Pada saat itu Al-A’masy mendengar seorang muadzin mengumandangkan adzan salat subuh. Ia pun bergegas ke dalam masjid untuk ikut salat jamaah. Seperti diketahui bahwa salat subuh terdiri dari dua rekaat. 

Saat Al-A’masy mengikuti jamaah subuh di masjid tersebut, sang imam membaca surat Al Baqarah pada rekaat pertama. Sementara pada rekaat kedua, sang imam juga membaca surat panjang yaitu Ali Imran. Setelah salat subuh, Al-A’masy berkata sang imam agar ia memperingan bacaan shalatnya. Hal tsb ia lakukan karena Al-A’masy melihat ada beberapa jamaah yg sudah tua dan ada juga orang yg memiliki keperluan lain untuk segera dilaksanakan. 

Kisah diatas ditulis dalam sebuah kitab Akbar al-Hamqa wa al-Mughaffalin, karya Ibnu Jauzi rahimahullah (1116 – 1201 M di Baghdad, Iraq). 

Dari Mundil bin Ali rahimahullah berkata: “Suatu hari al-A’masy keluar dari rumahnya di saat subuh. Ia melintasi Masjid Bani As’ad dan ketika itu muazin sedang mengumandangkan azan salat. Ia masuk ke masjid untuk ikut salat. Di rakaat pertama, imam salat membukanya dgn membaca Al-Baqarah, dan di rakaat kedua membaca Ali ‘Imran.” 

Selesai salat, al-A’masy berkata pada imam itu: “Tidakkah kau takut kepada Allah? Tidakkah kau mendengar hadis Rasulullah SAW: ‘Barangsiapa yg menjadi imam (salat), hendaknya ia memperingan, sebab di belakangnya ada orang yg sudah tua, orang yg lemah dan orang yg mempunyai keperluan’.”  

Bahwa apa yg dilakukan Syekh Al-A’masy saat itu berdasarkan dgn hadis Nabi.”Barangsiapa yg menjadi imam (salat), hendaknya ia memperingan, sebab di belakangnya ada orang yg sudah tua, orang yg lemah dan orang yg mempunyai keperluan.” (HR Bukhari, 20 Julai 810 – 1 September 870 M di Khartank, Uzbekistan)

Kandungan hadis tsb membawa pesan tentang pentingnya memahami manusia. Tidak semua manusia memiliki keadaan yg sama. Karena itu, Rasulullah menegur keras imam salat yg tidak mengerti jamaahnya. Di antara jamaahnya ada orang yg sudah tua, anak kecil, orang yg berkeperluan, dan lain sebagainya. Mereka memiliki problemnya masing2. 

Rasulullah SAW juga menyarankan untuk jangan berlebih2an dalam beragama. Beliau bersabda (HR Imam al-Bukhari): “Sesungguhnya agama itu mudah. Tidaklah orang yg mempersulit (berlebih2an dalam) beragama, melainkan ia akan dikalahkan. Maka, laksanakan (dgn semestinya), dekatilah (semestinya), dan berbahagialah (dengan pahalaNya). Dan mohon pertolongan di waktu pagi, petang dan sebagian malam.”

Maksud dari hadis tsb adalah “agama itu mudah”, bukan berarti menganggap mudah pengamalan agama, tetapi mencari titik kenyamanan dalam mengamalkannya sesuai dgn ukuran diri kita. Seperti yg dikemukakan sebelumnya, bahwa ukuran diri manusia berbeda2. Jika kita berusaha mempersulit (berlebih2an) dalam agama, bisa dipastikan kita kalah dgn sendirinya. Sebab, berlebih2an yg disengaja akan memberi tekanan kuat terhadap kesehatan jiwa, di samping “berlebih2an” itu identik dgn pemaksaan dalam taraf yg keterlaluan.

Kisah diatas ditulis dalam sebuah kitab Akbar al-Hamqa wa al-Mughaffalin, karya Ibnu Jauzi rahimahullah (1116 – 1201 M di Baghdad, Iraq) source brilio.net www.nu.or.id and from other sources, summarized and shared by Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *