Satu ketika seorang remaja berpeci hitam, berkemeja putih panjang dengan kain sarung yg hampir setiap saat dipakainya duduk bersimpuh di hadapan lima ajengan (panggilan untuk kyai/ustadz di Jawa Barat). Dia terus menunduk dan dengan saksama mendengar wejangan para ajengan, yg juga gurunya itu, satu persatu.
Remaja itu seolah sedang disidang karena telah membuat kegaduhan di masyarakat, telah menyampaikan beberapa materi khutbah dan ceramah yang mengganggu kemapanan. Istilah sekarang bertentangan dengan ajaran mainstream. Tapi jangan Anda bayangkan seperti persidangan Socrates di hadapan para hakim Athena yang kemudian memvonis Socrates dengan hukuman mati dengan cara meminum racun.
Anda juga jangan membayangkan seperti sidang Sufi besar, Mansur al-Hallaj di hadapan Mahkamah Syariah Baghdad, atau sidang kasus Syekh Siti Jenar di hadapan Dewan Wali Songo. Atau yg belakangan sidang kasus yg dialami seorang pemikir Islam kontemporer Nasr Hamid Abu Zayd di hadapan Mahkamah Syar’iyyah Mesir. Dan beberapa contoh lainnya. Itu terlalu jauh, jauh sekali.
Yg dialami remaja itu, semacam sidang kecil-kecilan dan sifatnya kekeluargaan. Kecenderungannya juga tidak sebagai relasi agama dan kekuasaan seperi beberapa kasus di atas, namun lebih bersifat relasi santri-guru/ajengan.
Memang ada vonis yg keluar dari mulut satu dua ajengan yang mulia itu, “itu ajaran tidak sesuai dengan ajaran kita, tidak sesuai dengan tradisi Ahlu Sunnah, dst.” Tapi tidak ada vonis sesat, zindiq, atau kafir, seperti yg dijatuhkan kepada para tokoh di atas.
Sekali lagi memang tidak layak sama sekali persidangan remaja itu bila dibandingkan dengan persidangan yg dialami para tokoh besar di atas. Memang beberapa pernyataan keras keluar dari mulut beberapa ajengan bahkan dengan wajah memerah pertanda emosi.
Beliau guru2 saya yang masih relatif muda-muda. Itupun lebih bersifat nasehat, meskipun dengan suara keras. Dan lagi, dasarnya bukan karena benci, melainkan karena sayang kepada muridnya, yang belakangan ini, dijauhi sebagian besar masyarakat.
Para ajengan itu, bermaksud baik, menjaga ajaran yang sudah mapan, yang sudah mentradisi. Beliau-beliau tidak menghendaki pro-kontra apalagi konflik sosial karena ajaran yang dianggap baru. Karena itu, meskipun kata-kata yg disampaikan disertai emosi yang agak tinggi, sesungguhnya itu sebagai wujud kasih sayang kepada muridnya bahkan kepada keluarganya, lebih-lebih karena para ajengan itu masih terikat hubungan saudara dengan saya.
Dari kelima ajengan itu hanya ajengan yang paling sepuh yg tidak berbicara sepatah katapun. Beliau hanya tersenyum-senyum saja, sekali-kali memandang guru-guru saya yg lain, yg tengah berbicara bergantian, sekali-kali memandang saya.
Sedikit cerita tentang ajengan yang paling sepuh itu dari banyak cerita yg beredar. Konon, ajengan sepuh ini, ketika tengah berjalan kaki, beliau tidur pulas dengan bertelekan kepada tongkatnya yg selalu menemaninya ke manapun beliau pergi. Sayapun pernah melihat beliau sedang berjalan kaki dengan tongkatnya itu, meski saya tidak tahu betul tidaknya beliau tidur pulas sambil berjalan. Cerita lainnya, yg dipercaya beliau punya karomah, beliau bisa berada di dua tempat dalam waktu yang sama. Kata orang, beliau sering berceramah di tempat X dan Y dalam waktu yang sama. Mungkinkah? Saya tidak tahu.
Kembali ke “persidangan”. Setamat SMA saya diajak paman yg ke Jakarta. Beliau sudah lama bermukim di ibu kota. Lalu saya diajak ke Bekasi dan diperkenalkan kepada beberapa ustsdz ormas Islam Muhammadiyah, yg terkenal dengan amal usahanya itu.
Saya diberikan pelajaran agama berbasis Muhammadiyah, diberikan buku-buku Islam yg saya lalap. Waktu itu perdebatan tentang beberapa hal yg dianggap khilafiah seperti tahlilan, ziarah, barjanji, slametan, dan lainnya sedang menghangat di kampung saya.
Pulang dari Jakarta dan Bekasi setelah saya berguru kepada ustadz-ustadz Muhammadiyah saya mendapat ilmu yg seolah-olah ilmu baru.
Sesampainya di kampung, ajengan yg juga guru saya sejak kecil, juga paman saya seperti biasa kalau saya ada di kampung meminta saya menjadi khotib Jumat. Saat di mimbar khutbah itulah saya bid’ahkan semua tradisi yang sudah mengakar di masyarakat.
Ajengan nampak geram mendengar isi khutbah saya yg isinya tidak dinyana itu, jamaah nampak gerah, resah dan gelisah. Selesai jumatan kabar tersiar di masyarakat, saya menyebarkan ajaran baru. Setiap ada momentum saya ceramah di masjid-masjid dan mushala, saya bid’ahkan tradisi kampung dan saya sampaikan pentingnya pembharuwn. Hanya sebagian kecil masyarakat yg datang dan makin lama hanya beberapa gelintir saja.
Masyarakat makin gaduh antara yg pro dan kontra. Sebagian memusuhi saya, sebagian lagi memuji dan mendukung saya. Memang masyarakat harus berubah, tradisi harus dirobah, beragama jgn hanya taklid membeo. Kita perlu ajaran baru. Muhammadiyah bagus, perlu dicontoh dalam amal usaha serta semangat pembaharuan (tajdid)-nya. Demikian kata yg mendukung saya. Di antara yg mendukung seorang mantan kepala desa, sesepuh yg dihormati dan disegani.
Tetapi masyarakat makin terbelah. Saya sendiri sering dinasehati oleh saudara-saudara, agar jangan terbawa-bawa ajaran yg berbeda dengan tradisi kyai, kebiasaan di kampung. Sebagian masyarakat mengucilkan saya, khutbah dan ceramah tidak diberi kesempatan lagi.
Dari situlah bermula “persidangan” saya di hadapan lima ajengan.
Saya pulang ke rumah, mengobrol ringan dengan Bapak saya. Saya tidak bercerita saya habis “disidang” para ajengan. Khawatir bapak saya kenapa-kenapa. Saya bertanya keadaan masyarakat setelah khutbah dan ceramah saya. Di akhir obrolan, bapak saya hanya berkata, “NGAJI LAGI SAMPAI KETEMU”!
Beberapa hari dari itu, saya pergi meninggalkan kampung. Saya bertekad untuk melaksanakan nasehat bapak saya, “Ngaji lagi”.
Bersyukur kepada Allah, belakangan ini, perdebatan tentang khilafiah seperti tahlilan, ziarah, slametan, dan lainnya semakin reda. Bahkan pula tak sedikit orang-orang Muhammadiyah yg menjalankan tradisi itu.
Kini, hampir tidak terdengar saling membidahkan di kalangan tokoh agama dan di masyarakat. Hubungan dua ormas Islam terbesar, Muhammadiyah dan NU semakin baik. Berimbas pada semakin kuatnya persaudaraan dan persatuan Islam. Sebuah modal sosial menuju bangsa yg berkemajuan. Bahkan sekarang ini banyak orang yg mengaku sebagai “Muhammadi-NU, kombinasi Muhammadiyah dan NU.
Sungguh bahagia, bila saya pulang kampung mendapatkan respon positif dan sambutan masyarakat. Saya sedang membatasi berkhutbah dan berceramah. Namun, bila ajengan meminta saya khutbah demi menghormati dan memuliakan beliau, saya pun menyambut tawaran ajengan. Saya kembali merasa senang bisa berbicara di hadapan masyarakat yg sudah tidak antipati lagi kepada saya. Beberapa kali bila pulang kampung saya khutbah, terutama hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.
Ketika saya berjalan2 keliling kampung saya melihat senyum masyarakat dan sapa mereka yg ramah. Kini mereka lebih mengenal saya sebagai dosen, lebih-lebih karena kampus saya pernah KKN di sana. Para mahasiswa dan dosen disambut masyarakat kampung dengan suka cita.
Kini remaja yg pernah “disidang” para ajengan itu, sudah tidak remaja lagi. Dan tidak pula berkhutbah atau berceramah yg kontroversial, yg membuat gaduh masyarakat. Ini bermula dari sabda Sang Bapak, “Ngaji lagi sampai ketemu!”.
Hatur nuhun tak terhingga untuk Bapak, juga Ibu saya, semoga sehat selalu dan panjang usia. Juga kepada guru-guru saya, para kyai dan ajengan baik yg masih ada maupun yg telah tiada. Semoga ridha dan berkah Allah selalu terlimpah atas beliau-beliau. Al-Fatihah ma’a shalawat. Aamiin.
-Yang sedang berproses selalu, Cak ‘Yo, Januari 2021-

No responses yet