Berikut ini adalah Kitab Hadaiq al-Ahyar Tarjamah Daqaiq al-Ahbari fi Dizkri Aljannati wa-Annari: beberapa Kebun Yang Bagus, yang pertama ini pertama ditulis dalam bahasa Sunda oleh seorang ulama besar yang menetap di Mekkah selama 7 beliau adalah Kiai Haji Muhammad Juwaeni Bin Haji Abdurrahman. Kitab ini merupakan kitab mengenai tasawuf yang sangat menarik, unik dan langka yang sangat sulit untuk di temukan, karena kitab ini merupakan kitab yang isinya membahas mengenai Nur Muhammad, dan menceritakan kejadian alam ghaib. Akan tetapi perihal mengenai kapan diselesaikannya baik hari, tanggal, tahun dan tempat penulis tidak mengetahui secara pasti. Karena penulis hanya mendapatkan bahwasannya kitab tersebut dicetak oleh toko kitab Sayyid Ali al-Idrus Kramat no 38. Adapun cetakan ke berapanya di cetak ini perlu penelitian yang lebih serius lagi.

Selain itu, kitab ini juga pernah di tulis oleh ulama besar yang menetap di mekkah dan menjadi Syaikh di masjidil Haram, beliau adalah Syaikh Ahmad bin Muhammad Yunus Lingga. Dengan menggunakan bahasa melayu, maka tidak mengherankan lagi kalau misalnya kitab tersebut tersebar luas di seluruh dunia melayu. Kitab ini beliau selesaikan di Mekkah pada hari selasa bulan Muharam tahun 1312 H. Kitab ini sudah empat kali di cetak oleh percetakan yang sama yaitu Matba’ah al-Miriyah al-Kainah dari tahun 1312 H, 1320 H cetakan yang kedua ini di cetak berkat usaha ulama Aceh yaitu Syaikh Ismail, 1320 H, 1322 H hingga sekarang terdapat pelbagai edisi cetakan.

Tidak banyak orang tahu mengenai ulama besar dari desa terpencil tepatnya Sukabumi Kecamatan Parakansalak, yang pernah belajar di Mekah selama 7 Tahun, namanya, Kiayi Muhammad Juwaeni, sedikit lieratur mengenai satu-satunya ulama dari Parakansalak Sukabumi yang pernah belajar di Mekkah kebesaran tokoh ini dapat tergambar dari sekian banyaknya kitab yang beliau karangan baik dalam bahasa lokal (sunda) maupun bahasa Arab.

Ini menunjukan selain beliau ahli dalam bidang ilmu fiqih, Ilmu Hikmah beliau juga ahli dalam bidang ilmu tasawuf. Maka dengan ditemukannya sebuah naskah ini, maka bisa dijadikan referensi tambahan untuk mengetahui siapakah Kiayi Juwaeni Sebenarnya. Karena selama ini banyak orang-orang yang tidak tahu akan keilmuan dan kealiman beliau, yang di ketahui masyarakat khalayak banyak adalah Kiayi Juwaeni merupakan seorang ulama yang tinggal di kaki Gunung Wayang tepatnya di Pasir Kuda yang sekarang berada di wilayah kecamatan parakansalak. Dan beliau selaku ulama pasundan yang menukil mengenai tarjamah Tijanu al-Jawahiri fi Manaqibi as-Sayyidi Abdi al-Qadiri. Padahal kalau diteliti lebih mendalam lagi dengan melihat bukti catatan-catatan beliau yang berupa kitab-kitab karangan beliau, ternyata beliau merupakan seorang ulama yang sangat alim dan ahli dalam berbagai bidang disiplin ilmu pengetahuan, diantaranya adalah tasawuf yang akan penulis bahas.

Dan banyak sekali karangan-karangan atau tulisan-tulisan yang beliau yang sudah di cetak yang saya tulis di artikel sebelumnya dan artikel yang orang lain tulis mengenai kitab karangan Kiayi Muhammad Juwaeni bin haji Abdulrahman. Dalam cover naskah ini sama sekali tidak disebutkan mengenai tanggal, bulan, dan tahun penulisan hanya saja terdapat nama kitab itu sendiri, penulis dan penerbit adapun isi dari cover naskah tersebut sebagai berikut:

حدائق الاخيار

ترجمة

دقائق الاخبار فى دكر الجنة والنار

هرتوسنا فرع٢ كبون انو ارالوس ترجمه نا كتاب دقائق الاخبار فى ذكر الجنة والنار، دى ترجمحكن كو جلم نو روموس بودوع سرع هنا الحاج محمد جويني بن الحاج عبد الرحمن سترالله عيوبهما فى الدنيا والاخرة باستر العفو والغفران امين

داوسهكن دجيتك سرع داجل كو كنتور جيتك سرع توكو كتاب السيد علي العيدروس كرمة ٤٨

Hadaiq al-Ahyar Tarjamah Daqaiq al-Ahbari fi Dizkri Aljannati wa-Annari: hartosna pirang-pirang kebon anu aralus tarjamahna kitab Daqaiq al-Ahbari fi Dizkri Aljannati wa-Annari, di terjemahken ku jalma nu rumaos bodo sareng hina al-haji Muhammad Juawaeni Bin al-Haji A’bdul ar-rahman satarallahu u’yubahuma fiddunya walakhirati biastari al-a’fwi wa al-ghuprani amin. (Hadaiq al-Ahyar Tarjamah Daqaiq al-Ahbari fi Dizkri Aljannati wa-Annari: artinya beberapa kebun yang bagus terjemahnya kitab Daqaiq al-Ahbari fi Dizkri Aljannati wa-Annari, semoga allah menutupi aib dari keduanya di dunia dan di akhirat dengan ditutupinya maaf dan ampunan amin)

Dalam halaman pertama naskah ini penulis yang pertama kali paparkan adalah mengenai Bismillahirahmanirrahim, Alhamdulillah, Shalawat, Salam dan Waba’du. Adapun isi dari muqaddimahnya sebagai berikut:

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله الذي هدانا لدينه الدي اكمله، وارتضاه، والصلاة والسلام على نبيه سيدينا محمدن الدي اجتباه من خلقه والصطفاه، وبعد، مك اي ترجمه نا كتاب دقائق الاحبار في دكرالجنة والنار، كرعن امام امام عبد الرحيم بن احمد القاضي رحمه الله تعالى مدهمدهن ايا فيدهنا كنو هنت اونعا بهاس عرب امين

Degan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang Segala puji bagi allah yang telah menunjukan kepada kita semua dengan agamanya yang sempurna, dan agama yang di ridhainya dan tidak lupa shalawat dan salam semoga tercurah limpahkan kepada nabi kita semua sayyidina Muhammad SAW yang menjaga ciptaan dan kebaikannya beserta yang dipilih. Waba’du, maka ini tarjamahnya Kitab Daqaiq al-Ahbari fi Dizkri Aljannati wa-Annari, karangan Imam Abdul Abdulrahim bin Ahmad al-Qhadi semoga Allah SWT memberikan rahmat kepadanya, mudah-mudahan kitab ini memberikan mampaat bagi orang yang tidak faham mengenai bahasa arab amin.

Nur Fauzan Ahmad mengemukakan dalam artikelnya mengenai cerita tentang Nur Muhammad ini merupkan kesusastraan Melayu, khususnys sastra sufi, dan teks mengenai naskah ini tersebar di berbagai naskah. Ada yang berdiri sendiri ada pula satu bagian dari banyak cerita dalam satu naskah. Dalam hal penyimpanan naskah tersebut juga terdapat di beberapa tempat penyimpanan atau koleksi diantranya di Indonesia sendiri kita dapat temukan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, dan bahkan diluar negri misalnya Belanda, Inggris, London, serta di pelbagai koleksi, baik pribadi maupun koleksi perpustakaan umum.

Mari kembali ke awal mengenai naskah Kitab Hadaiq al-Ahyar Tarjamah Daqaiq al-Ahbari fi Dizkri Aljannati wa-Annari: beberapa Kebun Yang Bagus, yang di tulis oleh Kiayi Haji Muhammad Juwaeni Bin Haji Abdurrahman. Penulis temukan di salah satu rumah tokoh masyarakat yang sangat alim, dan disertai dengan keperibadian yang sangat tawadu yaitu Kiayi Syarif Hidayatullah berada di daerah Kabupaten Sukabumi tepatnya di Kec. Cidahu, dan penulis sendiri datang ke rumahnya dengan ditemani seorang cucunya yang sekarang mondok di pesantren al-Atiqiyah Kecamatan Bojonggenteng Kabupaten Sukabumi yang bernama Kakanda Muhammad Rifki Fauzan.

Dengan ijin dari kakenya penulis dengan leluasa mencari naskah dengan hati-hati dan seksama satu persatu, dengan waktu sekisar 10 menit penulis menemukan Naskah tersebut dengan keadaan yang masih terawat, walaupun ada sedikit robek bagian halaman covernya. Serta ada sedikit pudar atau lapuk keretas naskahnya. Dan naskah ini ditulis dengan Arab Pegon bahasa Sunda dengan jumlah 16 halaman.

Masih menurut Nur Fauzan dalam sebuah tulisannya, mengenai kesusastraan Melayu cerita Nur Muhammad terdapat dalam Hikayat Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah, Hikayat Syah I Merdan, Sejarah Melayu, Syair Ikan Tunggal Bernama Fadhil  karya Hamzah Fansuri. Dan cerita Nur Muhammad terdapat pula di dalam naskah kitab-kitab tasawuf berikut diantaranya adalah: Daqaiqul-Akhbar fi – akhwalil-Qiyamah karangan Annabhan, kitab Bachrul-Lahut karangan Abdullah. Syajaratul-Kaun karangan Ibnu ar-Rabbi, Daqaiqul -Akhbar fi Dzikril-Jannah Wan-Naar oleh  Abdulrahim bin Ahmad Al Qadhi dan yang dalam  terjemahan Melayunya ditulis oleh Syaikh Ahmad ibn Muhammad Yunus Langka, Al Kaukab ad-Durri fin- Nuuril-Muchammadi oleh Syaikh Muhammad bin Isma’il Daud al-Fatani, Madarijus-Su’ud oleh Nawawi al Bantani, Sirrul Asraar oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailany, Sabiilul -Iddikar wal- I’tibar oleh Imam Al Haddad, Bad’ Khalq al-Samawat wa al-Ardh  karya Syekh Nuruddin Ar- Raniry, Kasyful Ghaibiyah oleh Zain al-‘Abidin al-Fatani. Di dalam kesusatraan Jawa, cerita Nur Muhammad ini pun disebut dalam beberapa karya sastranya, misalnya Wirid Hidayat Jati, Serat Centhini, naskah-naskah primbon seperti Serat Wirid dan Niti Mani.

Kalau melihat dari paparan di atas tentunya Kitab Hadaiq al-Ahyar Tarjamah Daqaiq al-Ahbari fi Dizkri Aljannati wa-Annari: beberapa kebun yang bagus, yang di tulis oleh Kiayi Haji Muhammad Juwaeni Bin Haji Abdurrahman. Merupakan salah satu tarjamah Kitab Daqaiq al-Ahbari fi Dizkri Aljannati wa-Annari yang di tulis dalam bahasa sunda yan tidak kalah pentingnya dengan kitab-kitab yang lain yang sudah dialih bahasakan menjadi bahasa yang berbeda-beda. Maka dengan ini penulis tidak sangat berlebihan kalau penulis mengatakan bahwasannya kitab ini sepadan dengan kitab-kitab tasawuf yang berada di nusantara. Yang telah disebut oleh penulis di paparan sebelumnya.

Dalam penghujung tulisan ini dalam bab ke 6 ini bercerita mengenai minta tanda tangngannya ruh mu’min ketika malaikat pencabut nyawa diperintah oleh Allah untuk segera menyeselesaikan tugasnya untuk mengambil atau mencabut ruh yang berada di jasad seorang mu’min. Adapun isinya seberti berikut:

Bab kagenep nyarioskeun ruh nyuhunkeun tawis ka malakal maut yeun dipiwarang nyandak manehna.

Dicarioskeun dina hadist satemen-temena malak maut upama reuk nyandak ruh mu’min eta ruh nyarios ka malak maut sanggemna: kaula moal nurut ka anjeun, upama anjeun henteu dipiwarang nyandak kaula, sok malak maut puguh kaula diparentah nyokot anjeun, sanggem ruh: naun tanda anjeun diparentah nyandak kaula? Coba kaula menta tanda, sabab kaula di damel ku pangeran kaula, terus diasupkeun kana jasad kaula, waktu eta anjeun henteu nyaksian, ari-ari ayeuna datang reuk nyokot kaula, kaula mah moal daeuk upama henteu aya tandana, yeun anjeun di piwarang ku gusti Allah, tidinya neras malak maut unjukan ka gusti Allah ngunjukeun pamentana si ruh tea, dauhan gusti Allah hai malak maut bener kacida euta caritaan abdi aing teh, ayeuna maneh lempang ka surga cokot buah apel, didinya aya tanda ti aing tembongkeun ka abdi aing tidinya teras malak maut ankat ka surga nyandak hiji buah apel anu di tulisan bismillahirahmanirrahim terus ditembongkeun ka abdi tea saparantos euta ruh ningali buah apel surga terus kaluar tina jasadna henteu hararese. (dicaritakan dalam hadis sesungguhnya malak maut adapaun mau mengambil ruh mu’min, itu ruh berbicara kepada malak maut ucapannya: saya tidak akan menuruti kepadamu, kalau kamu tidak diperintahkan ngambil saya, kata malakal maut saya sebenarnya diperintah ngambil kamu, jawab ruh: apa tanda kamu diparentah ngambil saya? Mana saya minta tanda, sebab saya di ciptakan sama Tuhan saya, kemudian dimasukan kepada jasadnya saya, waktu itu kamu tidak menyaksikannya, sekarang tiba-tiba datang mau ngambil saya, saya sama sekali tidak mau kalau tidak ada tandanya, karena kamu di perintah oleh Allah, sehabis itu malak maut datang menemui Allah ngajukan permintaan ruh tadi, Allah berfirman hai malak maut ambil buah apel, diapel tersebut ada tanda pemberian saya perihatkan kepada hamba saya, sehabis itu malak maut berangkat ke surga ngambil buah apel yang ada tulisan bismillahirahmanirrahim kemudian perlihatkan kepada abdi tersebut, ketika ruh tersebut melihat buah apel surga kemudian ruh tersebut keluar dari jasadnya tidak sulit sama sekali)

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *