Kitab suci menjadi suci karena ada komunitas yang menjadikannya suci. Ada hubungan erat antara para penganut, teks, dan kekuatan ilahi atau supra di luar diri manusia menurut para penganutnya. Ada proses kanonisasi, proses sebuah tradisi lisan (dan kadang-kadang juga tertulis tapi secara sederhana dan terpisah-pisah) menjadi teks tertulis. Tidak ada satu kitab suci pun yang langsung jadi seperti yang kita sekarang pegang kenal baca terjemahkan dan bahkan ikuti ajarannya.  

Kitab-kitab para penganut agama menyebut hanya agama-agama yg ada di wilayah geografis, keagamaan, dan kebudayaannya dan hanya pada masa sampai kitab-kitab itu muncul. 

Misalnya, Al-Qur’an menyebut kitab-kitab sebelum dan pada masanya di wilayah kebudayaan Semitik seperti Zabur Taurat dan Injil, tapi tidak menyebut kitab-kitab di wilayah lain seperti India dan Cina, seperti Kitab Weda, Upanishad, Bagawad Gita, Tripitaka, Kitab Sikh Adi Granth, Kitab-kitab konghuchu, Kitab-kitab Daoisme, dan sebagainya. 

Begitu pula, kitab “Perjanjian Lama” tdk menyebut “Perjanjian Baru”, dan Perjanjian Baru hanya menyebut kitab sebelumnya, dan tidak menyebut Al-Quran dan Bagawad Gita. 

Secara historis dan komparatif, hal ini artinya kitab-kitab suci tidak ada yang benar-benar universal melingkupi segala tempat dan waktu. Sebuah kitab diyakini universal oleh para penganut yang mempercayainya. Ada unsur keimanan, selain unsur-unsur rasional, ilmiah, historis, sosiologis dan lain-lain. 

Ini juga artinya, setiap kitab tidak lahir dalam vacuum sejarah. Ia harus dipahami dalam konteksnya meskipun nilai-nilai ajarannya – setelah melalui proses peyakinan dan pemahaman – melampaui tempat dan waktu turun atau munculnya.

Cara pandang satu kitab suci tidak bisa digunakan sepenuhnya untuk menilai kitab-kitab suci lainnya, karena seringkali istilah yg mirip (apalagi beda), memiliki latar belakang, konteks dan maksud ungkapan yang berbeda-beda. 

Ini juga artinya, tidak perlu memaksakan bahwa satu kitab suci harus memuat dan menjawab semua persoalan rinci umat manusia segala tempat dan zaman, kecuali melalui proses pemahaman berbagai sumber informasi dan keilmuan sesuai dengan tempat dan zaman yang berbeda-beda.

Implikasi dari pemahaman sejarah dan perbandingan kitab-kitab suci ini, kesalihan dan keberagamaan yang tertanam menjadi kesalihan dan keberagamaan yang lapang dan toleran di tengah kemajemukan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Setidaknya, ada saling menghormati antara para penganut agama dan kitab suci masing-masing.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *