Oleh : Ampary Harluis Gilang Sejaty
Di adab 21 sekarang, keilmuan yang membahasan jiwa sangat gencar-gencarnya di Indonesia. Banyak di universitas mulai membuka prodi atau jurusan yang membahas tentang kejiwaan seperti Psikologi, Psikologi Islam,Tasawuf dan Psikoterapi, kedokteran jiwa, dsb. Karena di zaman sekarang banyak orang yang mengalami kegelisahan, kecemasan, kegalauan, dsb maka itu universitas membuka jurusan atau prodi yang membahas tentang kejiwaan. Juga banyak kajian-kajian, penelitian, penulisan,dsb yang membahas tentang kejiwaan.Keilmuan jiwa yang membahas secara sistematis baru di akui pada tahun 1856 di Leipzig yang didirikikan oleh Wilhelm Wundt. Jika kita mau menelisik di Islam sebenarnya sudah ada mulai abad 7 masehi yang dipelopori Hasan Al-Bashri yang mengenalkan zuhud secara Khauf dan Raja’ guna menjaga jiwa tetap bersih dan tenang.
Al-Qur’an memberikan apresiasi yang sangat besar bagi kajian jiwa (nafs) manusia. Hal ini bisa dilihat ada sekitar 279 kali Al-Qur’an menyebutkan kata jiwa (nafs). Dalam Al-Qur’an kata jiwa mengandung makna yang beragam (lafzh al-Musytaraq). Terkadang lafaz nafs bermakna manusia (insan).[1]Kata jiwa berasal dari bahasa arab, nafs’ yang secara harfiah bisa diterjemahkan sebagai diri atau secara lebih sederhana bisa diterjemahkan dengan jiwa, dalam bahasa Inggris disebut soul atau spirit.Secara bahasa dalam kamus al-Munjid, nafs (jamaknya nufus dan anfus) berarti ruh (roh) dan ‘ain (diri sendiri). Sedangkan dalam kamus al-Munawir disebutkan bahwa kata nafs (jamaknya anfus dan nufus) itu berarti roh dan jiwa, juga berarti al-jasad (badan, tubuh), as-syakhs (orang), as-syahks al- insan (diri orang), al-dzat atau al’ain (diri sendiri).[2] Kajian masalah jiwa sangatlah menjadi perhatian sangat penting dalam budaya tradisi keilmuan Islam.
Konsep jiwa atau diri dalam Islam mencakup beberapa hal, yaitu: Nafs
Dalam psikologi Islam, nafs adalah hakikat seseorang yang memiliki banyak sisi dan aspek yang kompleks. Nafs memiliki dua tingkatan, yaitu nafs al-ammarah bi al-su’ dan nafs al-lawwamah. Nafs al-ammarah bi al-su’ adalah nafsu yang mendorong manusia untuk melakukan kejahatan, sedangkan nafs al-lawwamah adalah jiwa yang memiliki kesadaran awal untuk melawan nafs yang pertama.
Jiwa menurut Ibnu Sina
Ibnu Sina berpendapat bahwa jiwa adalah substansi ruhani yang memancar kepada jasad dan menghidupkannya. Jiwa bersifat abadi dan tetap ada setelah tubuh mati. Ibnu Sina juga membagi jiwa menjadi tiga bagian, yaitu jiwa nabati, jiwa hewani, dan jiwa insani.
Konsep diri dalam Islam
Konsep diri dalam Islam mencakup pandangan seseorang tentang dirinya sebagai makhluk, hamba, dan khalifah Tuhan di muka bumi. Dalam teori tasawuf, seseorang harus memusatkan pandangannya kepada Tuhan sehingga tercipta kebersatuan antara hamba dengan Tuhan.

No responses yet