Dahulu, di Maghrib, salah satu tugas Polisi Negara (muhtasib) adalah mengontrol pengajian yang diadakan di masjid masjid. Tugas muhtasib yang spesifik ini, tidak diberikan pada sembarang orang, dan tidak pula disyaratkan memiliki keahlian militer tertentu. Muhtasib dengan “tugas khusus” ini akan diseleksi secara langsung oleh para ulama berkompeten di sana. 

Saat melakukan “operasi pengajian” di masjid, muhtasib tersebut menanyakan pada para pengajar, 

“Dari mana kau ambil ilmumu?”

Pengajar akan menjawab, “dari Syekh Fulan.”

Ia ditanya lagi, “Fulan mengambil dari siapa?”

“Dari gurunya (Syekh Fulan),” dan ia sebutkan silsilahnya hingga ke Rasululullah. 

Jika pengajar mengajar sebuah kitab, ia harus menyebutkan pertanggung jawaban ilmunya sampai pada muallif kitab. 

Muhtasib–yang juga seorang ulama ini–juga akan menguji kompetensi para pengajar yang meliputi beberapa disiplin ilmu, terutama berkaitan dengan materi yang ia ajarkan di masjid tersebut. 

Jika ia lulus pertanyaan, maka muhtasib akan memberi “kursi khusus” di masjid itu, dan si pengajar akan didudukkan di kursi tersebut. Sementara yang tak mempunyai sanad dan kompetensi, tidak diperbolehkan duduk di atas kursi.

Hingga kemudian, ada majlis ilmu yang memiliki kursi dan ada majlis ilmu yang tak memiliki kursi. Manusia memburu majlis majlis ilmu dengan tanda kursi khusus tersebut. Sementara yang tak memiliki kursi, perlahan ditinggalkan para jama’ahnya. 

Majlis ilmu dengan kursi itulah yang kemudian disebut “kursi ulama”: sebuah kursi dengan “isi khusus.” Tak sembarang orang bisa duduk di sana. Siapapun yang duduk pada kursi itu, artinya ia sudah melalui tahapan uji kelayakan tertentu. 

Seiring bergantinya generasi, peran muhtasib perlahan digantikan oleh “legitimasi para syekh.”

Sekarang, di Maghrib, para pengajar yang duduk di kursi adalah mereka yang telah “didudukkan” oleh gurunya pada kursi khusus. “Kursi ulama” di Maghrib diteruskan dari masa ke masa. Di Youtube, ada channel dengan nama “al-Karasi al-Ilmiyyah.” Menurut Syekh Adham, penamaan itu, besar kemungkinan adalah perpanjangan dari sejarah panjang “Kursi Ulama”.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *