اِعْلَمْ أَنَّ “لَا” تَنْصِبُ اَلنَّكِرَاتِ بِغَيْرِ تَنْوِينٍ إِذَا بَاشَرَتْ اَلنَّكِرَةَ وَلَمْ تَتَكَرَّرْ “لَا” نَحْوُ “لَا رَجُلَ فِي اَلدَّارِ فَإِنْ لَمْ تُبَاشِرْهَا وَجَبَ اَلرَّفْعُ وَوَجَبَ تَكْرَارُ “لَا” نَحْوُ لَا فِي اَلدَّارِ رَجُلٌ وَلَا اِمْرَأَةٌ”، فَإِنْ تَكَرَّرَتْ “لَا” جَازَ إِعْمَالُهَا وَإِلْغَاؤُهَا, فَإِنْ شِئْتَ قُلْتَ “لَا رَجُلَ فِي اَلدَّارِ وَلَا اِمْرَأَةً”.  وإِنْ شِئْتَ قُلْتَ “لَا رَجُلُ فِي اَلدَّارِ وَلَا اِمْرَأَةٌ”

Ketahuilah bahwa lā berfungsi me-nashab-kan isim-isim nakirah tanpa disertai tanwīn, ketika lā bertemu langsung dengan isim nakirah dan tidak berulang-ulang, seperti: lā rajula fid-dāri. Bila lā tidak bertemu langsung dengan isim nakirah, maka (isim nakirah) wajib rafa‘ dan wajib mengulangi lā, seperti: lā fid-dāri rajulun wa lā imra’atun. Bila lā berulang-ulang (dan bertemu langsung), maka boleh diamalkan dan boleh di-mulghah-kan (tidak diamalkan). Jadi, bila anda menghendaki, anda bisa mengatakan: lā rajula fid-dāri wa lā imra’ata. Atau: lā rajula fid-dāri wa lā imra’atu.

Meniadakan segala kejenisan dan menjauhi ketergantungan dari rasa indriawi merupakan syarat untuk memasuki kebesaran Kehadiran Suci (alḤadhratul Qudsiyyah) dan Tempat Ketenteraman (Mahallul Insi). Kosongkan hatimu dari segala selain Allah, maka kamu akan bisa memenuhinya dengan pengetahuan-pengetahuan dan rahasia-rahasia.

Bagaimana bisa cemerlang hati yang gambar-gambar wujud ciptaan selalu terpampang dalam cermin-cerminnya? Bagaimana mungkin menuju kepada Allah, padahal dia terbelenggu oleh syahwat-syahwat pribadinya? Atau bagaimana dia bisa berharapmemasuki kehadiran Allah, padahal dia belum menyucikan diri dari jinabat kelalaian-kelalaiannya.?

Kalimat tauhid, lā ilāha illallāh berarti meniadakan syirik, baik yang terang-terangan maupun yang samar, dan menyucikan hati dari kesibukan dan halangannya.

Orang-orang awam meniadakan syirik yang terang-terangan. Orang-orang khusus meniadakan syirik yang samar. Perniadaan syirik yang dibebankan kepada orang awam adalah dari penghambaan kepada selain Allah, yaitu berhala, bintang, api ataupun hal-hal lain yang dianggap kalangan ‘Arab, dan orang-orang yang terjerumus sebagai berhak disembah bersama Allah. Makna “lā ilāha illallāh” adalah tidak ada satu pun yang berhak disembah selain Allah. Kalimat ini meniadakan keberhakan untuk disembah bagi selain Allah, dan menetapkannya hanya untuk Allah, jalla wa ‘alā.

Ungkapan: “Adapun peniadaan orang-orang khusus pada syirik yang samar.” Bahwa bila seseorang mencintai sesuatu maka dia akan menjadi hambanya. Orang yang tergantung pada sesuatu, berarti dia telah mempertuhankannya. Demikian juga, bila seseorang takut pada sesuatu, dia telah menjadi hambanya.

Katika seorang mukmin mengucapkan “lā ilāha illallāh”, dia telah mengeluarkan dari hatinya segala sesuatu yang hatinya cenderung padanya, takut kepadanya, atau berpengharapan terhadapnya. Sehingga makna “lā ilāha illallāh” adalah “tidak ada yang tercinta dan tidak ada yang mendapatkan penghambaan selain Allah; atau tidak ada ketergantungan terhadap sesuatu pun dan tidak ada ketakutan bagiku terhadap apa pun, selain Allah.”

Masing-masing pribadi menghilangkan penghalang-penghalang dalam hatinya dari segala selain Allah ta‘ala. Permulaannya adalah pengosongan jiwa (takhliyyah), dan pada akhirnya adalah pengisian hiasan sifat-sifat utama (tahliyyah). Oleh karena itu, seorang di antara mereka ketika mengucapkan “lā ilāha”, dia berisyarat dengan kepala ke arah pundaknya, seperti orang yang melempar sesuatu, dan ketika mengucapkan “illallāh”, mengisyaratkan kepalanya ke arah hati, agar keberadaan Allah menghujam di kedalaman hatinya.

Demikian seterusnya, sampai dia tidak menemukan lagi apa yang akan dihilangkannya, dan pada akhirnya dia mampu menyaksikan bahwa Allah mewujudkan diri-Nya dengan diri-Nya sendiri, dan memberitahukan kepada kita bahwa sama sekali tidak ada tuhan selain Dia. Maka saat itu, sang hamba hanya mengucapkan “Allah, Allah”, (hanya Allah, hanya Allah), selanjutnya “Huwa, Huwa” (hanya Dia, hanya Dia). Akhirnya dia tenggelam dalam samudera keesaan. Lisannya terdiam, dan yang ada adalah suasana syuhūd dan ‘iyān. Itu bukanlah hal yang sulit bagi Allah.

Tertarik Bukunya? Klik Disini

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *