Ulama atau Tuan Guru Banjar bahari di samping mempunyai ilmu agama yang luas, sekaligus juga pandai ilmu bela diri baik bersifat lahiriyah maupun batiniyah. Maaf, aku mengambil ayahku sendiri Guru Sami (Tuan Guru H. Abdussami) yang hidup dalam tiga zaman yakni zaman penjajahan Belanda, zaman penjajahan Jepang dan zaman Kemerdekaan yakni 1923-1982. Beliau meninggal dunia pada 1 Safar tahun 1982. Di rumah ayahku, Teluk Tiram, dahulu ada tersimpan jenis senjata yang  dipergunakan untuk latihan ilmu bela diri, selain yang dengan gerakan tangan kosong. Kuketahui ada Trisula (Cabang), Toya, Tombak Laki Bini (jantan betina), beberapa Mandau, Parang Bungkul dan lain-lain. Menurut pamanku Mughni, ayahku pandai bela diri Kuntao salah satu ilmu silat tradisional Banjar dari beberapa ilmu bela diri tradisional Banjar lainnya di antaranya, selain Kuntao (Boxan), juga ada Sendeng, Pancar Lima, Kuntao Bangkui dan Cempedeh.

Ayahku ketika berdakwah ke pelosok-pelosok kampung tak mengenal takut dan tak pernah mau dikawal apalagi sampai membawa bodyguard. Pernah pada tahun 1960-1970 ketika masih mencekamnya peristiwa G 30 S/PKI, ayahku tetap berdakwah bahkan di tempat yang ditengarai banyak orang sebagai basis PKI (Gg. Budaya, Jl. Dahlia, Banjarmasin). Beberapa pendekar dari komunitas Madura menawarkan diri mengawal beliau, tapi beliau tolak secara halus, dan beliau aman-aman saja berdakwah di sana, padahal beliau menurut kabar angin salah satu daftar Tuan Guru yang akan dibunuh. Beliau tidak terlalu terpengaruh dengan isu-isu yang tidak jelas itu, lalu sampai menghentikan aktivitas dakwah beliau, tapi beliau justru tambah semangat berdakwah di tempat sangat berbahaya.

Pernah juga, ada seseorang mau mengambil tanah (mangakat) milik beliau, beliau tegur. Orang ini tak terima dan menyerang ngajak berkelahi dengan menggunakan senjata tajam. Beliau hadapi dengan tenang karena beliau merasa benar. Kalau ada yang mau jual kejagoan akan beliau, kalau ada yang memulai beliau berani angsuli. Beliau tak mau dan tak pernah menjadi pihak orang yang memulai dan bikin gara-gara untuk berkelahi,  tapi selalu berada di pihak yang membela diri dan mempertahankan yang benar.

Sering kami (ibu dan anak-anak), tegang, khawatir (kabuyayangan) dan resah, malam-malam bahkan larut malam beliau dijemput Polisi atau Tentara karena beliau dianggap salah menikahkan para anggota kedua pasukan ini yang sudah beristri. Beliau dibawa ke markas Polisi dan Tentara diterima saja tanpa perdebatan sebab beliau yakin bukan beliau yang salah, melainkan kedua prajurit itu yang berdusta mengaku bujangan. Memang tak berapa lama beliau dipulangkan dan tak sempat bermalam di penjara. Perlu diketahui beliau selain sebagai Tuan Guru merangkap juga sebagai Penghulu yang bertugas mengurusi Nikah,  Talak dan Ruju’.

Sebaliknya, beliau juga mampu menundukkan orang-orang yang tempramental dan emosional, kuat kajian ilmu supratural. Beliau punya anak angkat yang gambarannya begitu, pernah suatu waktu ia siap mau berkelahi dengan orang yang dianggapnya sebagai musuh berbekal senjata tajam Mandau. Ketika bertemu beliau turun emosi mau berkelahinya,tak jadi berangkat bertarung.  

Mungkin banyak lagi keberanian beliau yang tak cukup bisa dibentangkan di layar sempit ini,  karena beliau, tidak hanya sekadar Tuan Guru, Penghulu, tapi pandai juga ilmu beladiri tradisional Banjar serta ilmu supratural.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *