Selain di Situbondo dan Probolinggo, santri Syekh Kholil Bangkalan di Tapal Kuda yang cukup gigih dalam perlawanan terhadap kolonial Belanda adalah Kh. Saleh Lateng Banyuwangi. Seorang pendekar sakti keturunan kesultanan Palembang Sumatera.
Jika ditelurusi, jejak dan peninggalan Kiai Saleh Lateng sangat banyak termasuk makam dan manuskrip-manuskrip. Direktur Islam Nusantara Center (INC), A. Ginanjar Sya’ban berkesempatan untuk berziarah di makam beliau, usai mengisi acara bedah buku karyanya (Mahakarya Islam Nusantara) di PCNU Banyuwangi.

A. Ginanjar Sya’ban dan Pengurus PCNU Banyuwangi foto bersama putra KH Saleh Lateng (memakai kemeja dan sarung kotak-kotak)
Ia juga mengunjungi Masjid, Pesantren, dan Perpustakaan peninggalan KH. Soleh Lateng Palembang, salah satu pendiri NU dan kawan dekat KH. Hasyim Asy’ari ini. Santri alumni PP Lirboyo ini berkesempatan membongkar “harta karun” manuskrip peninggalan KH Saleh Lateng. Menurut cerita Ginanjar, di lemari perpustakaan beliau, ada banyak manuskrip dan arsip-arsip berharga terkait sejarah NU masa-masa awal.

A. Ginanjar Sya’ban berkesempatan membuka “lemari harta karun” peninggalan KH Saleh Lateng Banyuwangi
Siapa KH Saleh Lateng ?
Dalam buku “Masterpiece Islam Nusantara” karya Zainul Milal Bizawie (hlm. 175-176), dijelaskan bahwa Kakek Kiai Saleh, Kiagus Abdurrahman semula menetap di Sumenep dan menikah dengan seorang perempuan setempat bernama Najihah. Salah satu anaknya yang meneruskan keturunannya adalah Ki Agus Abdul Hadi, ayah Kiai Saleh, yang kemudian pindah dan menetap di Banyuwangi.
Beliau dilahirkan di Kampung Mandar Kota Banyuwangi pada 6 Ramadhan 1278 H/ 7 Maret 1862 M dengan nama lengkap Ki Agus Muhammad Saleh dan wafat tanggal 29 Dzulqo’dah 1371 H/ 20 Agustus 1952 dalam usia 93 tahun. Ibunya berasal dari Pandarejo Banyuwangi bernama Aisyah. Pada usia 15 tahun, Saleh nyantri di Kiai Mas Ahmad, Kebon Dalem, Surabaya. Tak lama kemudian, ia nyantri di Bangkalan Madura, kepada Syekh Kholil Bangkalan.
Dalam berorganisasi, ia bergabung dengan Sarekat Islam dan juga memegang peranan cukup penting dalam membidani kelahiran NU di kemudian hari. Kiai Saleh Lateng bersikap keras, konfrontatif hingga melarang anak-anaknya belajar di sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintahan kolonial.
Lalu, apa yang bisa diungkap dalam manuskrip dan arsip-arsip peninggalan KH Saleh Lateng, A. Ginanjar Sya’ban akan menjelaskan temuannya dalam pertemuan Kajian Turats Ulama Nusantara, Sabtu 16 September ini, di Islam NUsantara Center (INC) Ciputa Tangsel.
Mari hadir dan belajar mengenal sejarah dan jejak keilmuan pendiri NU yang terlupakan ini..!


6 Responses