Tengah malam semalam ada WA masuk ke hape saya dari seorang pemuda yang tak bisa mendefinisika dirinya apakah termasuk orang yang beruntung apa termasuk orang yang menderita. Dia harus memilih satu di antara 3 wanita yang “memperkenankan diri” menjadi istrinya. Pemuda ini sepertinya tak mau pusing-pusing, dia minta saya untuk mengistikharahkannya. Saya juga tidak mau pusing-pusing, saya minta dia berpikir keras dulu untuk merenungkan nasehat saya. Berikut ini adalah nasehat saya.

“Nak, yang tak dapat-dapat jodoh pusing, yang dikejar-kejar jodoh juga pusing. Yang tidak pusing hanyalah orang yang mau menjalani takdir dengan senang hati. Nak, kalau engkau harus memilih satu dari tiga wanita itu, pilihlah yang agama dan akhlaknya paling baik, karena rumah tangga itu tidak berdiri kokoh di atas beningnya mata dan lentik bulu matanya, serta tidak di atas merah pipi dan bibirnya. Rumah tangga yang kokoh sejati iti berdiri di atas kekokohan dan kesejatian agama dan akhlaknya.”

“Nak, wanita terbaik itu adalah yang mampu mengajari kamu bagaimana untuk mencinta di saat kamu ingin marah, yang mempu mengajari kamu tertawa saat kamu ingin menangis, dan bisa mengajari kamu tersenyum saat kamu sedang menderita. Yang bisa seperti itu, pilihlah sebagai pendampingmu.”

“Nak, tapi juga pikirkan ya tentang dirimu. Sesuaikan dirimu untuk cocok dengan wanita terbaik yang kamu pilih. Jadikan dirimu sebagai lelaki jantan penuh pesona. Jantan dan pesona lelaki tidak ditentukan asap rokok yang terus mengepul, tidak juga dientukan oleh baju nicis dan kendaraan mewah, serta tidak juga oleh gaya rambut dan gaya bicara. Jantan dan pesona lelaki sejati itu ada dalam kebertanggungjawabannya mengantarkan keluarganya menjadi manusia bahagia dunia akhirat. Itu ada pada agama dan akhlaknya.”

Rupanya WA saya menjadi diskusi besar dalam keluarga besarnya, menjadi bahasan musyawarah keluarga. Tiba-tiba  bapaknya juga ikut mengirim WA kepada saya. Berikut saya copy paste: “Pak Kiai, bagaimana jika sudah kadung menikah dengan orang yang berbeda 180 derajat dengan tanda wanita agung yang Pak Kiai sampaikan ke anak saya?” Saya kaget dan belum menjawabnya walaupun jawabannya sesungguhnya sangat mudah. Rupanya ada yang sedang bernasib malang di tengah orang yang bernasib mujur.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *