Tangerang Selatan, Jaringansantri.com- Fenomena Manaqib ini sangat menarik dan unik. Di kalangan muda nahdliyyin sekalipun perlu mendapat penjelasan. Dimana Manaqib menjadi sebuah pendorong untuk meraih spiritual.

“Manaqib isinya ya biografi, tapi kalau hanya melihat kata, maka tidak tidak akan menemukan maknanya,” kata Dr. Akhmad Sodiq ketika memberikan materi Kajian Tasawuf bersama Gus Zainul Milal Bizawie di Islam Nusantara Center (INC). Sabtu, 29 Agustus 2020.

Kajian yang dilaksanakan via Zoom dan Streaming YouTube INC TV ini, membawa tema “Manaqib : Spiritual Booster”. Salah satunya menyinggung alasan pentingnya Manaqib dengan pertanyaan “Mengapa harus Manaqib ?”

1. Sadar atas keterbatasan kekuatan ruhani. “Kita sadar, kita tidak memiliki kekuatan spiritual seperti halnya wali itu,” kata Kiai Sodiq.

2. Sadar atas tidak mudahnya untuk wushul
ilallah. “Kalau bisa sendiri ngapain tawasul. Itu tidak gampang.”

Kiai Sodiq yang juga Kepala Pusat Ma’had Aljamiah UIN Jakarta ini, mengatakan bahwa di kalanagan tradisi Pesantren itu sangat kental cerita yang pernah diulas mbah sidiq dalam kitabnya.

Ketika Imam Hanafi mengajak muridnya untuk menyebrang satu sungai, tidak ada yang bisa ditumpangi, kemudian meminta muridnya supaya ikut berjalan diatas air.

Imam Hanafi baca Doa “bismillahirrahmanirrahim” muridnya disuruh baca “ya syaikhi Hanafi” kemudian berdua berjalan di atas air. Di tengah jalan muridnya mikir, ini tidak sesuai hadis. Lalu ia rubah membaca “Bismillah” dan kecebur. Oleh Imam Hanafi ditarik lalu melanjutkan baca “ya syaikhi Hanafi” dan menyebrang.

Imam Hanafi bilang, lanjut Kiai Sodiq, baca Bismillah itu kalau kamu kenal yang punya Bismillah. Kalau aku kenal, maka Bismillahnya sempurna berkahnya. Kamu belum kenal, kenalnya aku, jadi lebih baik nyebut aku saja.

“Keyakinan begini ini, kalau tidak santri tidak punya” katanya Kiai Sodiq.

“Inilah yang menguatkan bagaimana tradisi Ahlussunnah itu menjadi ta’zim ke guru karena dibalut oleh tradisi spiritual yang seperti itu,” ujarnya.

3. Sadar atas otoritas para wali dalam membantu menunaikan hajatnya.
Kiai Sodiq mengatakan “Ini sangat clear, bahwa dengan mengingat para wali, bahkan kata Syekh Al Barjanji, mengingat Syekh Abdul Qodir pintu langit terbuka.”

4. Sadar atas penyataan Syekh Abdul Qadir:
“Idza sa`altumullaha fas`aluhu biy.

Khusus untuk Syekh Abdul Qodir kenapa Manaqibnya begitu terkenal, karena ada pernyataan tersebut. Artinya “kalau kamu punya hajat minta ke Allah, itu sebut namaku.” Ini yang kemudian menjadi titik alasan kenapa manaqib itu menjadi kuat.

Kalau kita lihat penjelasan lain dari Sayyid Alawi al-Haddad, dalam Kitab Mishbah al-Anam wa Jala` al-Zhulam, (Istanbul, Maktabah al-Haqiqah: 1992, h. 90) mengatakan:
والنفحاتلخيراتأن يلتمسالبركات اعلم ينبغيلكل مسلم طالبالفضل وا جمعهم ءفيمجالسهم و راتاألوليآ واستجابةالدعاءونزول الرحماتفي حض راتهمم وعند كثرةالجموع فيزيا أحياءوأمواتاوعند قبورهم وحال ذكرهوعند مذاكراتفضلهم ونشر مناقبهم
Artinya : Ketahuilah! Seyogyanya bagi setiap muslim yang mencari keutamaan dan kebaikan, agar ia mencari berkah dan anugrah, terkabulnya doa dan turunnya rahmat di depan para wali, di majelis-majelis dan kumpulan mereka, baik yang masih hidup ataupun sudah mati, di kuburan mereka, ketika mengingat mereka, dan ketika banyak orang berkumpul dalam berziarah kepada mereka, serta ketika mengingat keutamaan mereka, dan pembacaan riwayat hidup mereka.

Menukil Kitab Nailul Amani, dinyatakan bahwa biografi para wali itu adalah min junuudillah, laskarnya Allah untuk bisa membangkitkan orang tegak berdiri dihadapan Allah.

Kelihatannya aspek ini yang dirindukan dan membuat orang-orang menjadi lebih cinta pada maqib. Tentang penghormatan krpada para wali, mendatangi baik ketika hidup dan meninggalnya.

“Saya kira Imam Al-Ghazali juga merekomendasikan ini. Siapa yang pada waktu hidupnya itu dikunjungi, meninggalnya juga dikunjungi,” pungkasnya. (Nurul Islam).

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *