Manuskrip di Banten, Marupakan Kanzun Mahfiyyun, Harta Karun Peradaban yang Tertimbun Zaman

7
364

Sejarah perubahan masyarakat Banten secara drastis/ total baik secara kebudayaan maupun secara peradaban ditentukan oleh dua orang yakni Herman William Daendels dan Thomas Stamford Raffles. Kesultanan Banten yang dahulunya menjadi sebuah pusat intelektual, pusat politik dan pusat dagang internasional se-Asia Tenggara.

Karena dua tokoh tersebut itulah identitas masyarakat Banten dahulu yang terkenal sebagai masyarakat adiluhung berhasil tercabut.

Mirisnya sampai setelah masa kemerdekaan, Banten hanya menjadi sebuah kabupaten dibawah kendali priangan.

Banten Abad ke 16, 17 dan 18 berhasil mejadi pusat keilmuan terpenting di kawasan Timur Asia. Hal tersebut bisa kita lihat dari manuskrip-manuskrip kesultanan Banten. Awal keruntuhannya pada 1808 ketika Daendels menurunkan secara paksa sultan Banten pada saat itu yakni Sultan Zainul Muttaqien dan membuangnya ke daerah Batavia. Kemudia digantikan oleh Sultan Muhammad Aqiluddin bin Aliyuddin. Terakhir, tahun 1813 Kesultanan Banten secara resmi dihapuskan oleh Raffles.

Awal abad ke 17 Banten berada pada puncak keemasannya. Hal ini dibuktikan oleh catatan para pelancong dari Eropa yang mengatakan bahwa Banten pada awal abad 17 adalah sebuah pelabuhan kosmopolitan. Orang-orang dari mancanegara seperti dari Turki, Arab, Persia maupun Gujarat banyak yang menepi dan tinggal di Banten karena pada saat itu Banten menjadi bandar terpenting bagi pelancong tersebut. Salah satu yang disinggahi adalah daerah Pontang dan Tanahara (daerah yang melahirkan Imam Nawawi). Inilah bukti bahwa dahulu Banten menjadi pusat kendali di kawasan Asia.

Banten sebelum abad 19 telah ditemukan manuskrip-manuskrip tentang fiqih, aqidah, tasawuf dan lain-lain. Hal tersebut karena memang Banten menjadi pusat keilmuan Islam yang resmi dimana salah satu tempatnya yakni di Giri kedaton, inilah yang menjadikan Banten menjadi pusat perkembangan keilmuan Islam se-Jawa. Dari Giri Kedaton juga menyebarkan keislaman di wilayah Indonesia bagian Timur.

Sultan-sultan Maluku misalnya yang belajar keIslamannya dari Giri Kedaton. Atau awal abad ke 17 yang mana Syekh Yusuf Al Makassari dalam pengembaraannya menuntut ilmu ke Haramain, beliau justru singgah terlebih dulu ke Banten. Bisa disimpulkan bahwa Banten menjadi titik pusat perkembangan ilmu Islam pada saat itu yang dibuktikan banyaknya para pengembara ilmu dari Timur Nusantara yang singgah ke Banten dan Aceh sebelum ke Timur Tengah.

Adiluhung Masyarakat Banten tidak berhenti sampai disitu saja. Pada tahun 1885 Snouck Hurgronje saat berada di Makkah sebagai Haji Abdul Ghaffar, ia lantas mengamati disana aktivitas pergerakan orang-orang Nusantara di Makkah.

Lalu ia mulai mendata siapa saja ulama-ulama Nusantara yang mengajar di Masjidil Haram, memiliki kitab karangan dan sejauh apa pengaruhnya. Snouck dengan tegas mengatakan bahwa orang Banten yang paling banyak melahirkan ulama yang terpandang di Makkah. Seperti Syekh Nawawi Al Bantani yang kita kenal, selain itu ada juga cicit beliau yang bernama Abdul Haq Al Bantani Al Makki yang justru karyanya digunakan sebagai referensi diberbagai Dunia Islam selain di Indonesia.

Manuskrip-manuskrip Banten sebelum abad 19 (yakni abad 16, 17, 18) merupakan manuskrip unggulan. Sayangnya kita lebih percaya identitas Banten hari ini karena melihat manuskrip setelah abad 19. Tercabutnya identitas masyarakat Banten yang adiluhung tersebut juga disebabkan karena masyarakatnya tidak mau belajar sejarah manusia terdahulunya dan sekarang Banten meminjam istilah Pak Ginanjar Sya’ban sebagai Kanzun Mahfiyyan yakni harta karun peradaban yang tertimbun oleh zaman. Hal itu berawal karena pelucutan kekuasaan oleh pihak Belanda yakni Daendels dan berakhir dihapuskannya Kesultanan ini oleh Raffles.

Oleh : Novi Fathonah (Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

*Tulisan disarikan dari Kajian Manuskrip Ulama Nusantara INC di Perpusnas RI. Sabtu 31 Agusutus 2019.

Penulis Foto bersama peserta dan pembicara Kajian Manuskrip Islam Nusantara. Perpusnas RI. Sabtu 31 Agustus 2019.

7 KOMENTAR

  1. Yet another issue is really that video gaming became one of the all-time greatest forms of excitement for people spanning various ages. Kids have fun with video games, plus adults do, too. The particular XBox 360 is one of the favorite gaming systems for those who love to have hundreds of video games available to them, in addition to who like to learn live with other people all over the world. Thank you for sharing your ideas.

  2. My coder is trying to persuade me to move to .net from PHP.
    I have always disliked the idea because of the costs.
    But he’s tryiong none the less. I’ve been using Movable-type on a number of
    websites for about a year and am concerned about switching to another platform.
    I have heard very good things about blogengine.net.
    Is there a way I can import all my wordpress posts into it?

    Any kind of help would be greatly appreciated!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here