Oleh : Dewi Atikal Farroh (mahasiswi Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang)
Dalam Khazanah Pondok Pesantren salaf di Nusantara, kita akan menemukan sebuah kitab yang bernama “Sullam at-Taufiq“, yaitu sebuah kitab yang banyak di ambil sebagai salah satu kurikulum di Pesantren Salaf di Nusantara. Kitab Sullam at-Taufiq merupakan salah satu kitab yang mempunyai dimensi trilogi keilmuan Islam, yang meliputi ilmu tauhid, ilmu fiqih, dan ilmu tasawuf. Kitab ini dikarang oleh Syekh Abdullah bin Husain Ba’lawi yang mempunyai nama lengkap Sayyid Abdullah bin al-Husain bin Thohir al-A’lawi al-Hadromi yang lahir di Tarim Hadramaut. Kitab ini ditulis dalam bentuk prosa dan termasuk dalam golongan kitab mukhtashor atau kitab yang ringkas agar mudah difahami oleh masyarakat awam.
Judul lengkap kitab ini adalah “Sullam at-Taufiq Ila Mahabbatillah ‘Ala at-Tahqiq“, yang berarti “Tangga Untuk Memperoleh Pertolongan Allah swt Menuju Cinta-Nya”. Kitab ini ditulis menggunakan bahasa Arab. Sehingga banyak kalangan para ulama Indonesia menerjemahkannya dalam berbagi literatur bahasa agar lebih mudah difahami bagi orang yang tidak mahir dalam bahasa Arab.
Salah satu ulama yang menerjemahkan kitab Sullam at-Taufiq ke dalam bahasa Jawa adalah Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi, seorang ulama Nusantara yang lahir di Tanara, Serang, Banten pada tahun 1230 H/1813 M dan meninggal di Mekkah pada tahun 1314 H/1897 M. Beliau adalah ulama yang mengajar di Masjidil Haram pada abad 19 yang dikrumuni banyak thalabah dari berbagai belahan dunia. Karena kealimannya, beliau dijuluki sebagai Sayyid Ulama al-Hijaz (Pemimipin Ulama Hijaz).
Kitab terjemah Sullam at-Taufiq karangan Syekh Nawawi ini masih tergolong dalam kategori manuskrip (naskah kuno) yang dapat kita temukan di web Repositori Naskah (REPOBLAS) Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang. Di dalam web ini terdapat beberapa naskah Sullam at-Taufiq yang dapat diakses bebas oleh umum dan dapat diunduh dalam bentuk digital (PDF). Salah satunya yaitu naskah Sullam at-Taufiq dengan kode 2×4 BLAS/SUM/16/FI/46 (https://blasemarang.web.id/index.php/repo/catalog/bokk/116). Naskah ini dalam kondisi baik dan masih bisa terbaca. Namun, ada beberapa halaman yang hilang.
Manuskrip tersebut ditulis dengan menggunakan bahasa Arab dan dibawah teks utama terdapat logatan yaitu arti dengan menggunakan bahasa Jawa aksara Arab atau yang sering disebut dengan Arab Pegon. Inilah keunikan dari naskah manuskrip tersebut. Apabila kita perhatikan, tulisan Arab pegon hampir sama dengan tulisan Arab pada umumnya. Namun, apabila kita teliti dan cermati kembali, susunan teks Arab pegon berbeda dengan susunan teks Arab pada umumnya, baik dari gramatika Arab maupun dalam segi makna.
Seperti dalam muqoddimah kitab ini, Syekh Nawawi menerjemahkannya dengan bahasa Jawa Arab pegon :
“Mongko utawi iki… iku bagian kang lembut kang gampangake ing iki sinten Allah swt ing ndalem barang kang wajib opo ngaweruhi barang lan mulangake lan ngelakoni kelawan barang keduwe wong ngalim lan wong-wong bodo. Utawi kang aran wajib iku barang kang janji sinten Allah swt ing wong kang ngelakoni kelawan ganjaran, lan ngancam sinten Allah swt ing wong kang tinggal opo barang kelawan sikso”.
Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, maka bunyinya adalah :
“Selanjutnya, ini adalah sebuah karya k ecil yang telah diberi kemudahan oleh Allah swt untuk menghimpunnya mengenai hal-hal yang wajib dipelajari, diajarkan dan dipraktekkan, baik untuk kalangan awam maupun kalangan khusus. Wajib adalah sesuatu yang Allah swt menjanjikan pelakunya dengan pahala dan mengancam orang yang tidak mengajarkannya dengan siksaan.”
Itulah salah satu contoh isi dalam manuskrip tersebut. Dalam hal ini, para penerbit tertarik untuk mencetaknya menjadi sebuah buku utuh dengan bacaan yang jelas seperti yang kita gunakan saat ini. Agar kita lebih mudah dalam mempelajari isi dari naskah tersebut. Salah satunya yaitu penerbit dari “AL-MIFTAH” Surabaya dengan dilengkapi terjemahan bahasa Indonesia oleh Achmad Sunarto.
Wallahu A’lam.

No responses yet